Komunikasi, Bentuk dan Fungsi

23.04 / Diposting oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH / komentar (0)

BENTUK DAN FUNGSI KOMUNIKASI

Diposting : Drs. Ach. Chambali hasjim, SH


Menurut bentuknya :

1. Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communication)
yaitu komunikasi antara pribadi/persona, disebut juga ‘diadic communication’ adalah komunikasi antara dua orang dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan. Bisa secara face to face atau bisa melalui medium seperti telepun.

Komunikasi antar persona secara langsung, dimana perilaku yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki perilaku lainnya sehingga hubungan antara individu berinteraksi, dan senantiasa merupakan hubungan timbale balik saling mempengaruhi.

Ciri khas komunikasi antar pribadi ini adalah sifatnya yang dua arah (two way traffic communication) dan efektifitas komunikasi ini adalah feedbacknya terjadi saat itu juga, sehingga komunikator (penyampai pesan) dapat mengamati tanggapan dari komunikan (penerima pesan) baik berupa verbal (kata yang disampaikan) maupun non verbal (sikap yang ditunjukan) oleh komunikan.

2. Komunikasi Kelompok /Sosial (Group / Social Communication)
Social Communication (Komunikasi Sosial), yaitu komunikasi antara beberapa anggota di dalam sesatu kelompok atau golongan, atau komunikasi di dalam masyarakat. Bisa secara langsung, yaitu masyarakat menerima pesan langsung dari sumber komunikasi. Bisa tidak langsung, yaitu melalui sasaran antara, yang nantinya akan meneruskan kepada masyarakat luas.

Dalam komunikasi social/kelompok yang harus diperhatikan oleh komunikator bahwa, setiap kelompok/komunitas social memiliki norma dan nilai sendiri-sendiri. Pengaruh norma kelompok besar sekali terhadap cara pandang, cara berfikir, cara bertingkah laku dan cara menanggapi suatu pesan/informasi.
Komunikasi social yang langsung, yaitu setiap anggota masyarakat menerima secara langsung pesan/informasi dari sumber informasi (seperti pada rapat, kampanye, dll)

Komunikasi social yang tidak langsung, yaitu para kelompok antara (sasaran antara seperti tokoh masyarakat ) menerima pesan langsung dari sumber informasi kemudian meneruskan kepada masyarakat.

3. Komunikasi Massa (Mass Communication),
yaitu komunikasi dengan menggunakan /melalui media massa. Dengan demikian informasi yang disampaikan tidak langsung, oleh karena itu feedbacknya juga tidak secara langsung (delayed feedback).
Everett M. Rogers, mengungkapkan bahwa selain mediam massa modern terdapat media tradisional yang digunakan dalam komunikasi massa. Media massa modern mencirikan

Dalam prakteknya, komunikasi verbal sering diikuti dengan komunikasi non verbal, hal ini dimaksudkan untuk memperjelas/mempertegas pesan yang disampaikan. Demikian juga ketiga bentuk komunikasi tersebut tidak selalu kukuh berdiri sendiri, tetapi ketiganya saling menunjang, berperan secara terpadu.


FUNGSI KOMUNIKASI.
Wiiliam I. Gorden (Deddy Mulyana, 2005:5-30) mengkategorikan fungsi komunikasi menjadi empat, yaitu:

1. Sebagai komunikasi social
Fungsi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan berkomunikasi, pemenuhan kebutuhan untuk berinteraksi, menghilangkan ketegangan, menjalin hubungan, untuk mencapai tujuan hidup dapat dilakukan berkomunikasi dengan sekeliling kita / lingkungan social. Pembentukan konsep diri dan aktualitas diri dapat diwujudkan karena kita mendapat respon orang lain. Kita tahu kalau kita ganteng, karena ada orang yang mengatakannya. George Herbert Mead (J. Rakhmat, 1994) mengistilahkan significant others (orang lain yang sangat penting) untuk orang-orang disekitar kita yang mempunyai peranan penting dalam membentuk konsep diri kita.

2. Sebagai komunikasi ekspresif
Dengan berkomunikasi kita dapat mengeskpresikan perasaan (emosi). Raut wajah tegang, atau bibir yang tersenyum, tangan mengepal, mengangguk-angguk dll merupakan komunikasi ekspresif dengan menggunakan simbul-simbul non verbal (gesture). Tertawa, menangis, berdecak, mengumpat, teriak histeris juga merupakan, bercerita, curhat, dll merupakan ekspresi emosi yang dikomunikasi melalui simbul-simbul verbal.

3. Sebagai komunikasi ritual dan seremonial.
Manusia ditakdirkan mempunyai kewajiban untuk melakukan “hablum-minallah dan hablum-minannas “ berkomunikasi dengan Allah SWT, Al-Khaliq seperti menjalankan sholat, berdo’a, berdzikir, bertashbih, dll. ( komunikasi ritual ) Juga berkomunikasi dengan sesama manusia (komunikasi seremonial). Seperti mengadakan acara ulang tahun, sunatan, perkawinan, dan upacara adat lainnya oleh para antropolog disebut sebagai "rites of passage"

4. Sebagai komunikasi instrumental
Komunikasi instrumental dimaksudkan untuk mentransformasikan dan menginformasikan, idea-gagasan, pemikiran agar mendorong, mengubah sikap, menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Sebagai instrument komunikasi, tidak saja digunakan untuk membangun hubungan yang lebih baik, tetapi juga dapat untuk merusak suatu hubungan, tergantung dari tujuan dalam kita berkomunikasi. *****

Diposting : Drs. Ach. Chambali Hasjim, SH


Label:

KOMUNIKASI, Prinsip dan Efektif

07.04 / Diposting oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH / komentar (0)

PRINSIP KOMUNIKASI DAN KOMUNIKASI EFEKTIF
Diposting : Drs. Ach. Chambali Hasjim, SH


PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI.
Agar jalannya komunikasi tidak mengalami kemacetan, artinya komunikasi dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan dari berkomunikasi dapat dicapai, maka sedikitnya ada 4 prinsip yang harus diperhatikan oleh komunikator terhadap komunikan yaitu :
  1. Individualisasi, bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang unik atau berbeda-beda, oleh karena itu dalam berkomunikasi jangan menggunakan cara dan pola komunikasi yang sama, melainkan disesuaikan dengan keunikan individu dan latar belakang kelayan yang akan diajak berkomunikasi.
  2. Akseptasi, bahwa dalam berkomunikasi untuk menyampaikan informasi harus bersifat terbuka dan tidak melakukan diskriminasi atas ras, agama golongan, status social yang ada pada audience.
  3. Situasional, hendaknya dapat menggunakan berbagai macam metoda dan sarana komunikasi yang ada yang sesuai dengan sistuasi dan kondisi lingkungan saat berkomunikasi.
  4. Tidak menjustifikasi, dalam berkomunikasi jangan menghakimi atau menilai salah atau benar atas diri audience berdasarkan nilai dan kepercayaan yang ada pada diri komunikator

KOMUNIKASI EFEKTIF.
Komunikasi efektif menunjuk pada kondisi bahwa penerimaan pesan oleh komunikan sesuai dengan pesan yang dikirim oleh komunikator, kemudian komunikan memberikan respon yang positif sesuai dengan yang diharapkan oleh komunikator.

Ada lima ketentuan atau hokum komunikasi yang efektif (The five Inevitable Laws of Efffective Communication) yang di kembangkan dan dirangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH (R-E-A-C-H), yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.

Kelima ketentuan atau hukum komunikasi yang efektif tersebut adalah :


Respect,
yaitu dalam mengembangkan komunikasi yang efektif harus memiliki sikap rasa hormat dan saling menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.

Mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Sedang seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai."


Empathy, Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain. Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif.


Audible, makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.

Clarity, Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi.
Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan . Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.


Humble, rendah hati merupakan hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Sikap rendah hati dalam berkomunikasi pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.


FAKTOR KOMUNIKATOR
Komunikator sebagai yang banyak mengambil prakarsa dalam berkomunikasi harus siap pada posisi “penyampai pesan“ sekaligus sebagai “penerima pesan“ yang baik. Posisi penyampai pesan (komunikator) saat dia menyampaikan pesan, dan pada waktu yang bersamaan, seorang komunikator juga dalam posisi “penerima pesan“, yaitu saat komunikan memberikan respon/umpan baliknya.

Kedua posisi tersebut harus dimanage dengan baik dan meletakkannya pada posisi sama pentingnya. Artinya selain dapat menjadi “pembicara” yang baik, komunikator juga harus dapat menjadi “ pendengar” yang baik.

Berikut ini ada beberapa factor dari sisi komunikator, baik pada posisi sebagai “penyampai pesan” maupun “penerima pesan” (feedback) agar komunikasi berjalan lancar dan tercapai sesuai yang diinginkan, baik dari segi efektifitasnya maupun tujuan kita berkomunikasi.

1. Ketrampilan Berkomunikasi.
Tujuan berkomunikasi adalah agar terjadi keseuaian (tuned) antara komunikator dengan komunikannya. Ketrampilan berkomunikasi bagi komunikator yang dimaksud adalah kemampuan dan ketrampilan meng-encode, yaitu memformulasikan “gambaran di otak“ (picture in our head) komunikator menjadi pesan untuk disampaikan dalam lambang/bahasa yang baik, agar dapat dimengerti oleh komunikan. Dan men-decode, yaitu meng-interpretasi/ menafsirkan feedback yang disampaikan oleh komunikan.

2. Tingkat Pengatahuan dan Pengalaman.
Komunikator hendaknya memperhatikan tingkat pengetahuan dan pengalaman dari komunikan agar tidak terjadi kesenjangan dalam proses komunikasi (communication gap ) Karena komunikator dapat meng-encode, dan komunikan dapat men-decode suatu pesan yang menggunakan lambing-lambang/simbol-simbol/bahasa yang sudah dikenal dan dimengerti.
Wilbur Schramm, ahli komunikasi dalam karyanya communication research in the USA mengungkapkan bahwa : komunikasi akan berjalan lancar dan baik, apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator sesuai dengan kerangka acuan [frame of reference] dan kerangka pengalaman dan pengertian [collection of experiences and meanings] yang pernah diperoleh komunikan.

3. Posisi dan Sistem Kultural Sosial.
Posisi dalam system kultur social yang didalamnya menyangkut masalah peran, prestasi, agama, status, kelas social, gender, dll baik yang menyangkut komunikator maupun komunikannya. Dalam hal ini hendaklah komunikator bisa menempatkan diri dan bisa menghargai/menghormati posisi masing-masing. Jangan menganggap remeh dan “kecil” terhadap komunikan, juga sebaliknya jangan merasa “diri kecil” dihadapan komunikan (untuk hal ini dibahas dalam psikologi social mengenai tingkah laku kolektif)

4. S i ka p.
Komunikator merupakan visi lain dari pesan itu sendiri, visual pesan kadang ter-representasikan oleh penyampainya, meyakinkan apa tidak. Karena itu kata Mc. GUIRE (1997) ada factor penting yang harus diperhatikan komunikator yaitu “source credibility dan source attractiviveness”.

5. Source Credibility (kepercayaan terhadap sumber)
Seorang komunikator sebagai sumber informasi hendaklah menunjukan sikap kridible (dapat dipercaya), karena dengan sikap ini akan memberikan kepercayaan pada komunikan untuk menaruh harapan terhadapnya.

6. Source Competent. (Kompetensi sumber)
Seorang komunikator sebagai sumber informasi, hendaknya menunjukan kompetensinya (penguasaan isi pesan) dihadapan komunikan, kalau nampak ragu-ragu dan terlihat tidak menguasai isi pesan yang disampaikan, bagaimana mungkin komunikan akan mengkomunikasikan persoalannya kepada komunikator tersebut.

7. Source Attractiveness (Daya tarik sumber).
Seorang komunikator sebagai sumber informasi, dapat melakukan perubahan sikap komunikan melalui mekanisme daya tarik. Sosok komunikator yang menarik dan dikagumi oleh komunikan akan mempengaruhi tingkat kepatuhan dan kepercayaan komunikan terhadap pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator.

8. Optimisme.
Seorang komunikator hendaklah menunjukkan sikap optimism. Sikap ini penting karena tujuan komunikator adalah membangun optimisme komunikan. Bagaimana bisa membangun optimisme komunikan kalau komunikator sendiri tidak optimis dengan apa yang ia sampaikan.

9. Siap, Tulus dan Jujur.
Seorang komunikator harus menunjukan sikap siap, artinya apa yang akan disampaikan memang ia kuasai, sikap tulus-ikhlas akan terpancar dari raut wajah komunikator, karena jiwa keterpaksaan akan tampak pada raut wajahnya, serta jujur atas informasi yang disampaikan.

10. Pendengar yang baik.
Komunikator yang sukses adalah komunikator yang menyampaikan pesan-pesannya dengan baik dan jelas, sekaligus menjadi pendengar dari apa yang disampaikan oleh lawan bicara / komunikan dengan baik.

11. Peduli pada komunikan (Friendship)
Salah satu unsur efektifitas komunikasi adalah sikap emphati, yaitu peduli dengan situasi dan kondisi audience (komunikan), itu artinya komunikator hendaknya mengenali siapa komunikannya, misalnya mengenal namanya, asal dari mana, kulturnya, dll. Sikap ini akan menempatkan komunikator bukan lagi sebagai orang asing bagi audience (komunikan).

12. Berbagi kesempatan.
Karena menjadi pendengar yang baik itu adalah termasuk ketrampilan dalam berkomunikasi, maka dalam berkomunikasi, harus berbagi kesempatan berbicara pada audience/kemunikan, jangan mendominasi waktu hanya untuk komunikator.

13. Bahasa non verbal.
Dalam ilmu komunikasi, disebutkan bahwa antara 5%-10% dari kegiatan komunikasi langsung yang kita lakukan melibatkan bahasa non verbal (gesture) seperti gerakan tangan, mata, ekspresi wajah, dll serta intonasi suara yang menguatkan isi pesan yang disampaikan. Tapi ingat, kalau bahasa non verbal ini berlebihan, justru dapat menghilangkan konsentrasi audience terhadap isi pesan itu sendiri.

14. Gunakan kata yang tak bersayap
Dalam komunikasi kita kenal dengan adanya gangguan semantic (semantic noise), yaitu gangguan yang ditimbulkan adanya penggunaan kata-kata yang memiliki multi makna (kata-kata bersayap), sehingga berakibat salah pengertian antara apa yang dimaksud oleh ‘penyampai pesan ‘ dengan apa yang dimengerti oleh ‘penerima pesan’.

ETHOS KOMUNIKATOR.
Opini komunikan terhadap komunikator sebagai persona mempunyai pengaruh yang besar terhadap penerimaan atau penolaan pesan yang disampaikan. Aristoteles dalam hal ini menyatakan : “ sifat komunikator adalah penyebab persuasi, apabila pesannya ia sampaikan sedemikian rupa sehingga membuat ia patut untuk dipercaya..”

Pada saat proses komunikasi berlangsung, komunikan tanpa sadar terbentuk opini tentang komunikator dalam dirinya. Apa yang terjadi dalam diri komunikan tentang diri komunikator sangat dipengaruhi oleh persona/kepribadian komunikator. Persona komunikator sangat dipengaruhi oleh ‘ethos’ yang dimiliki komunikator. Sering serorang mengambil keputusn yang ‘irrasional’ setelah menerima pesan yang disampaikan komunikator, karena tinggi – rendahnya ethos yang dimiliki oleh komunikator. Semakin tinggi ethos komunikator, semakin kuat daya pikatnya. Begitu juga sebaliknya.

Ethos disini bukan mengacu pada status dan posisi structural baik formal maupun non formal yang dimiliki komunikator, tetapi merujuk pada ‘mutu pribadi’ ( personal quality ) sebagai seorang komunikator.

Kepercayaan komunikan terhadap komunikator saat proses komunikasi berlangsung, akan dipengaruhi oleh :
  • Competence , kemampuan yang merujuk pada kewenangan atas materi atau pesan yang disampaikan. Komunikator menguasai dan memahami betul apa yang disampaikan.
  • Integrity, yaitu terdapat sifat kejujuran atas pesan yang disampaikan, tidak ada unsure manipulasi dan menyembunyikan informasi yang disampaikan.
  • Acuntability/Good will, yaitu memiliki rasa tanggung jawab terhadap pesan yang disampaikan.

Faktor Yang Mendukung Ethos.
Austin J. Freeley, menampilkan faktor-faktor yang mendukung dalam pembinan ethos komunikator, yaitu meliputi :
  1. Persiapan (Preparation);
  2. Kesungguhan (Seriousness);
  3. Ketulusan (Sincerity)
  4. Kepercayaan (Confidence)
  5. Ketenangan (Poise)
  6. Keramahan (Friendship)
  7. Kesederhanaan (moderation)

Seorang komunikator akan sukses dalam komunikasinya. Kalau menyesuaikan komunikasinya dengan “the image” dari komunikan, yaitu : Memahami kepentingannya ; -Kebutuhannya; Kecakapannya; Pengalamannya; Kemampuan berpikirnya; Kesulitannya; dsb. Jelasnya, komunikator harus dapat menjaga kesemestaan alam mental dan psikologis yang ada pada komunikan. Prof. Hartley, menyebutnya “the image of other”.

Disamping itu, komunikator harus mampu memperkecil jarak atau kesenjangan yang berkaitan dengan Bahasa atau lambing-lambang pesan yang disampaikan, kerangka berpikir dan kerangka pengalaman, serta kultur sosialnya. Karena bila tingkat kesenjangannya tinggi, dapat berakibat macet, kesalahan persepsi atas makna dan lebih ekstrim lagi bisa timbul kesalahpahaman yang mengarah pada permusuhan.

FAKTOR KOMUNIKE/ISI PESAN.
Efektifitas komunikasi juga ditentukan oleh bagaimana komunike/pesan/informasi yang akan disampaikan itu dipersiapkan, karena setiap pesan/informasi akan menimbulkan efek yang berbeda. Wilbur Scramm, menggambarkannya sebagai “the condition of success in communicatin “ yaitu kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan agar suatu pesan/informasi membangkitkan tanggapan yang kita hendaki.

Kondisi itu dirumuskan sebagai berikut :
  1. Pesan/informasi harus dirancang dan disampaikan agar menarik perhatian;
  2. Pesan/informasi disusun dengan menggunakan bahasa dan symbol-simbol yang dikenali oleh kedua belah pihak yang berkomunikasi ;
  3. Pesan/informasi harus membangkitkan kebutuhan pribadi audience dan memberikan solusi cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut ;

FAKTOR KOMUNIKAN / AUDIENCE.
Ada dua hal yang harus diperhatikan, tujuan komunikan, dan mengapa “Know Your Audience” merupakan ketentuan utama dalam komunikasi efektif. Sebab itu penting mengetahui :
  • Timing yang tepat untuk suatu pesan;
  • Bahasa yang harus dipergunakan agar pesan dapat dimengerti;
  • Sikap dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif;
  • Jenis kelompok dimana komunikasi akan dilaksanakan.

Komunikan dapat dan akan menerima sebuah pesan hanya kalau terdapat empat kondisi berikut ini :
  1. dapat dan benar-benar mengerti pesan komunikasi;
  2. pada saat mengambil keputusan, sadar sesuai dengan tujuannya;
  3. pada saat mengambil keputusan, sadar keputusannya bersangkutan dengan kepentingan pribadinya;
  4. mampu menepatinya baik secara mental maupun fisik.

Komponen komunikan sebagai sasaran komunikasi memerlukan analisa tersendiri. Untuk mengungkapkannya dapat dilakukan dengan pendekatn teori dari Melvin De Fleur (Perancis) dalam bukunya ” Theory of Mass Communication ” ( dalam Onnong U.E, 1986) dengan empat rumusan :

1. Individual Differences Theory.
Bahwa khalayak secara selektif memperhatikan suatu pesan komunikasi, khususnya jika berkaitan dengan kepentingannya, sesuai dengan sikapnya, kepercayaanya dan nilai-nilai yang dianutnya. Tanggapannya terhadap pesan yang diterimanya akan dibentuk sesuai tataan psikologisnya. (pendekatan psikologi umum)


2. Social Categories Therory
. Bahwa meskipun masyarakat modern sifatnya heterogen, orang-orang yang mempunyai sejumlah sifat yang (relatif) sama akan memiliki pola hidup tradisional yang (relatif) sama. Kesaman orientasi dan perilaku ini mempunyai kaitan dengan gejala yang diakibatkan media massa/terpaan informasi (pendekatan sosiologi umum).

3. Social Relationship Theory. Bahwa sebuah pesan komunikasi mula-mula ditangkap oleh pemuka pendapat (opinion leader) kemudian diteruskan melalui komunikasi antar personal kepada orang-orang yang relatif kurang terbuka terhadap terbuka terhadap adanya informasi. Dalam hubungan sosial informal ini, opinion leader bukan saja sebagai penerus informasi, tetapi juga menginterpretasikan informasi sesuai dengan kemampuannya, disini tampak adanya pengaruh pribadi ( personal influence ) dari opinion leader akan mempengaruhi isi pesan komunikasi (pendekatan teorinya Paul Lazarsfeld ” Two Step Flow Communication”)

4. Cultural Norm Theory, Bahwa melalui penyajian yang selektif dan penekanan pada tema tertentu, isi pesan/informasi menciptakan kesan pada khalayak bahwa norma-norma budaya yang sama mengenai topik-topik tertentu dibentuk dengan cara-cara yang khusus.

Pakar komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Sedang seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai." ) *****

Diposting : Drs. Ach. Chambali Hasjim, SH




















Label:

KOMUNIKASI, Komponen dan proses.

06.55 / Diposting oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH / komentar (0)

KOMPONEN DAN PROSES KOMUNIKASI.


KOMPONEN KOMUNIKASI.
Komunikasi dapat berlangsung jika didukung oleh komponen komunikasi, yaitu unsur-unsur yang harus dipenuhi agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. HAROLD LASSWELL (1948) dalam bukunya “ The Structure and Function of Communication in Society “ dalam menjelaskan unsur / komponen komunikasi ini dengan menjawab suatu pertanyaan ini : Who Says What In Which Channel to Whom With What Effect ?. (siapa berbicara apa dengan menggunakan saluran/media apa, siapa penerimanya dan bagaimana umpan baliknya). Komponen tersebut meliputi :
  1. Komunikator atau pengirim (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain;
  2. Komunike atau eesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain ;
  3. Komunikan atau audience atau penerima (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain ;
  4. Channel (saluran) atau Media, adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
  5. Feedback atau umpan balik adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya ;

PROSES KOMUNIKASI
  • Komunikator meng-encode pesan, yaitu memformulasikan buah pikiran/gagasan ke dalam pesan komunikasi (sebagai isi pesan/komunike) dengan lambang-lambang/bahasa yang dapat dimengerti oleh komunikan.
  • Komunikator (sebagai sender) mengirim pesan yang telah diformulasikan itu kepada komunikan (sebagai receiver) dengan menggunakan media tertentu.
  • Kemudian komunikan meng—decode (meng-interpretasikan) pesan/komunike yang diterima itu dalam konteks pengertiannya sendiri.
  • Kemudian komunikan memberikan umpan balik/tanggapan/feedback atas pesan yang diterimanya kepada komunikator.
  • Demikian proses ini berlangsung dalam komunikasi timbal balik/dua arah (two way trafic), sehingga terjadi saling berganti peran antara komunikator dengan komunikan (terutama pada komunikasi antar personal yang feedbacknya berlangsung seketika itu juga/dialogis)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------Ingat INGAT!, Sesungguhnya kemampuan berkomunikasi adalah bukanlah semata memiliki ketrampilan dalam menyampaikan pesan, tetapi juga seberapa jauh kita memiliki ketrampilan untuk menjadi pendengar yang baik.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aspek Proses Komunikasi
Bagaimana tekniknya agar komunikasi yang dilancarkan seseorang komunikator berlangsung efektif, dalam prosesnya dapat ditinjau dari dua perspektif :
  1. Proses Komunikasi dalam Perspektif Psikologis; Persona atau kepribadian yang membedakan ‘wujud’ manusia dengan ‘wujud’ lainnya atau ‘infra human’ seperti batu, tumbuh-tumbuhan, hewan dll. Sifat spiritual atau kerohanianlah yang membedakan manusia dengan infra human tersebut. Dengan demikian manusia adalah factor hakiki bagi proses komunikasi.
Proses komunikasi lebih bersifat rohaniah dari pada jasmaniah. Pasan yang disampaikan komunikator kepada komunikan adalah ‘isi kesadaran’ (istilah Hageman : das bewustseininhalte ) atau ‘ gambaran dalam benak’ (picture in our head – Walter Limppmann). Proses komunikasi akan berlangsung jika lambang-lambang pesan dimengerti, jelas disitu terjadi aktivitas rohaniah.

Perspektif psikologis ini terjadi baik pada pada diri komunikator juga pada komunikan saat terjadinya proses komunikasi. Saat Proses komunikasi berlangsung terdapat aktivitas ‘mengemas’ atau ‘membungkus’ pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator, yang dinamakan ‘encoding’. Sedangkan dalam diri komunikan disebut ‘decoding’ (seolah-olah membuka kemasan atau bungkus pesan).

  1. Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis; Proses ini berlangsung ketika komunikator mengoperkan atau “melemparkan” dengan bibir kalau lisan, atau dengan tangan kalau tulisan. Penangkapan pesan itu dapat dilakukan dengan indera telinga atau indera mata, atau indera-indera lainnya. Adakalanya komunikasi tersebar dalam jumlah relatif banyak, sehingga untuk menjangkaunya diperlukan suatu media atau sarana, dalam situasi ini dinamakan komunikasi massa. ****
Diposting : Drs. Ach. Chambali Hasjim, SH.

Label:

KOMUNIKASI, Pengertian danTujuan

06.44 / Diposting oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH / komentar (0)

PENGERTIAN - HAKEKAT
DAN TUJUAN KOMUNIKASI.


PENGERTIAN.

Selain ada 9 pokok kebutuhan manusia, maka komunikasi merupakan kebutuhan pokok kesepuluh, karena komunikasi merupakan ‘gizi’ yang juga dibutuhkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya, disamping memang berkomunikasi merupakan naluri manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai manusia yang “ zoon politicon “ manusia sebagai makhluk social, selain berhubungan dengan Al-Khaliq (hablum-minallah) juga berhubungan dengan manusia lainnya (“hablum-minannas).

Allah SWT dalam Q.S. Ali-Imran (3):12 berfirman :”Ditimpakan suatu kehinaan terhadap mereka dimanapun berada kecuali mereka yang mempunyai tali hubungan dengan Tuhan-Nya dan tali hubungan dengan sesamanya ‘ ( duribat ‘alaihimuz-zillatu ainamaa tsuqifuu illa bikhablin minallah wakhablin menannas )

Begitu banyak persoalan yang muncul di tengah kehidupan manusia gara-gara masalah komunikasi. Kesalahpahaman telah menimbulkan masalah-masalah sekunder seperti sakit hati, kecewa, marah, tawuran dan bahkan pertumpahan darah sering adisebabkan karena kesalahan berkomunikasi (miss-communication).
Saat kita memperhatikan dua orang atau lebih sedang bercengkerama, ngobrol atau bercakap-cakap, kita akan berkomentar bahwa mereka sedang berkomunikasi. Pengertian yang sederhana ini ada benarnya,

Secara etimologis dari perkataan latin “communicatio”, istilah ini bersumber dari perkataan “communis” artinya ‘sama’, maksudnya ‘sama makna atau sama arti’ atau atau “ communicates” yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan demikian, kata komunikasi menurut kamus bahasa mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan. Komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan. Jika terjadi kesamaan makna antar kedua aktor komunikasi, maka komunikasi tidak terjadi, rumusan lain ‘situasi tidak komunikatif’.

Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak ahli, jumlahnya sebanyak para ahli yang mendifinisikannya, FRANK E.X. DANCE dalam bukunya Human Communication Theory terdapat 126 buah definisi tentang komunikasi yang diberikan oleh beberapa ahli ,diantaranya diungkapkan oleh :

BERELSON & STEINER : Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka, dan lain-lain.

BARNLUND : Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.

BERNARD BARELSON & GARRY A. STEINER : Komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.

COLIN CHERRY : Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.

CARL I.HOVLAND : komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoperkan perangsang, biasanya dengan lambang-lambang bahasa untuk merubah tingkah laku individu yang lain (komunikan).

EVERETT M. ROGERS : Komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

GODE : Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula yang dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.

GERALD R. MILLER : Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk mempengaruhi perilaku mereka.

HOVLAND, JANIS & KELLEY : Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak.

HAROLD LASSWELL : Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa” “mengatakan “apa” “dengan saluran apa”, “kepada siapa” , dan “dengan akibat apa” atau “hasil apa”.(who says what in which channel to whom and with what effect).

HOVLAND, JANIS DAN KELLEY : Komunikasi merupakan proses individu mengirim rangsangan (stimulus) yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain. Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses.

LEXICOGRAPHER (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya.

LOUIS FORSDALE : Menurut Forsdale (1981), ahli komunikasi dan pendidikan “communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules”. Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu sistem dibentuk, dipelihara, dan diubah dengan tujuan bahwa sinyal-sinyal yang dikirimkan dan diterima dilakukan sesuai dengan aturan.

ONONG CAHYANA EFFENDI : Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media)

NEW COMB : Komunikasi adalah transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima.

RAYMOND ROSS : Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.

Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.

WILBUR SCHRAMM : Komunikasi adalah pengoperan gagasan kepada fihak lain agar diperoleh kesamaan pemahaman dengan pihak lain mengenai sesuatu obyek yang dikomunikasika.

WILLIAM ALBIG : Komunikasi adalah penyampaian lambang-lambang yang berarti diantara individu / lambang-lambang yang dimengerti oleh yang terlibat komunikasi.

WEAVER : Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.

WILLIAM J. SELLER : William J.Seller mengatakan bahwa komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

Dari berbagai definisi tersebut, pengertian Komunikasi adalah suatu proses penyampaian dan penerimaan pesan, pikiran, gagasan atau emosi-emosi (perasaan) dari seseorang/kelompok orang ke orang lain/kelompok orang lain dengan menggunakan serangkaian lambang-lambang yang berarti.

Definisi-definisi tersebut masih banyak merupakan definisi komunikasi klasik (yang muncul 1948/Lasswell, 1954/Schramm) yang secara linier hanya memperhatikan secara khusus seorang pengirim dan penerima, pada perkembangan selanjutnya komunikasi tidak sekedar aliran komunikasi dari si pengirim kepada penerima, tetapi terjadi proses interaktif dan konvergensi (Shramm, 1973 ; Roger dan Kincaid, 1981)

HAKEKAT KOMUNIKASI.
Hakekat Komunikasi, adalah suatu upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai makhluk sosial (zoon politicon) . Hal ini karena mereka sadar bahwa tanpa melakukan komunikasi untuk berinteraksi dengan sesamanya, maka kemajuan yang diinginkan sulit untuk bisa diwujudkan.
Komunikasi merupakan proses aktif yang menjadikan, mengembangkan dan menghubungkan antar manusia dengan memindahkan perasaan, idea, pikiran ,elalui lambing-lambang lain yang dilakukan secara sadar.

MAKSUD DAN TUJUAN KOMUNIKASI.
Maksud berkomunikasi, adalah untuk :
a. Menginformasikan (to inform)
b. Mendidik (to educate)
c. Menghibur (to entertain)
d. Mempengaruhi (to influence)

Tujuan Komunikasi, adalah untuk mentranfer/memindahkan buah pikiran seseorang/kelompok orang kepada pihak lain sehingga tercipta kesamaan pengetahuan antara kedua belah pihak, dan pihak penerima pesan mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan dari penyampai pesan.

Dengan demikian tujuan komunikasi tersebut adalah untuk :
a. Mengubah Sikap (to change the attitude)
b. Mengubah Opini (to change the opinion)
c. Mengubah Perilaku (to change the behavior)
d. Mengubah Masyarakat (to change the society)

MENGAPA STUDI KOMUNIKASI
(why study communication)?
Mengapa kita serius untuk mempelajari tentang komunikasi, karena :
  • Kualitas hidup kita tergantung dari kemampuan/keterampilan komunikasi kita (Our quality of life depends primarily on your communication skill)
  • Merubah perilaku (To change behavior )
  • Meningkatkan kemampuan menjual (Improve selling skill)
  • Mampu untuk mempengaruhi orang lain (Be able to persuade)
  • Meningkatkan citra Perusahaan (Increased company image)
  • Manusia sering “over-estimate” entang kemampuan komunikasinya (People overestimate their own communication skill )********

Diposting : Drs. Ach. Chambali Hasjim, SH

DAFTAR PUSTAKA.

Amri Jahi, Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesdaan,PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
Astrid, S. Susanto, Dr. phil. Komunikasi Dalam Teori dan Praktek – 1, Penerbit Binacipta, Bandung, 1974.
Cangara, Hafidz,2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Effendy, Onong Uchyana, Drs, MA, Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Penerbit Remaja Karya CV, Bandung, 1985.
Effendy, Onong Uchyana, Drs, MA, Dimensi-Dimensi Komunikasi. Penerbit Alumni Bandung, 1986.
Evendhy. M. Siregar, Komunikasi dan Rethorika.
Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Kridalaksana, Harimurti, ed. Leksikon Komunikasi, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.1984.
Muhammad, Arni, Dr. Komunikasi Organisasi. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2005.
Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
Meinanda, Teguh, Pengantar Ilmu Komunikasi, CV Armico, Bandung, 1981
Sendjaja,Sasa Djuarsa,1994, Pengantar Komunikasi,Jakarta:Universitas Terbuka.
Ton Kertapati, Drs, Bunga Rampai Penerangan dan Komunikasi, Deppen RI, Jakarta.
Teguh Meinanda, Pengantar Ilmu Komunikasi, CV. Armico, Bandung, 1981.
Turman Sirait.R, Drs. Komunikasi Yang Efektif Untuk Pemimpin, (Terjemahan), CV. Tulus Jaya, Jakarta 1982.
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:Grasindo.



Label:

Wawasan Kebangsaan di Era Informasi

03.06 / Diposting oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH / komentar (0)

WAWASAN KEBANGSAAN
DITENGAH BADAI INFORMASI
Oleh : Achmad Chambali Hasjim.


PENGANTAR.
Perkembangan yang pesat dibidang information technology (IT) telah mendorong percepatan arus globalisasi di hampir semua aspek kehidupan. Negara-negara didunia sudah tidak mengenal batas secara defakto, hanya tinggal batas dejure saja, karena melalui dunia maya warga masyarakat dunia menjelajahi Negara-negara didunia ini. Globalisasi yang didorong oleh derasnya arus informasi dan difasilitasi oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) berdampak para perilaku manusia-manusia dunia.

Globalisasi bagi suatu Negara disatu sisi adalah peluang untuk go international, karena semakin terbukanya pasar internasional dengan aroma liberalisasi pasar terutama bagi produk barang dan jasa yang mempunyai nilai komparatif dan keunggulan kompetitif, terutama dengan dimulainya pasar bebas Asia dan China mulai tahun 2010 ini. Namun disisi lain, bisa menjadi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan terhadap nilai, norma, dan kultur bangsa.

DAMPAK INFORMASI BAGI PERILAKU SOSIAL.
Pesatnya laju perkembangan ICT pada dewasa ini, telah menjadikan dunia terang benderang, transparan dan terasa kasat mata. Berbagai peristiwa dibelahan bumi mana secara bersamaan dapat dilihat dibelahan bumi lainnya. Begitu cepat dan serentak sehingga jarak, ruang dan waktu menjadi lenyap.

Tampilnya media massa sebagai “ medium of message” menjadikan informasi dan berita sebagai konsumsi utama masyarakat dan merangsang untuk merefleksikan secara kritis. Media massa berfungsi mentransformasikan berita tidak hanya sekedar fakta, tetapi lebih berwujud sebagai “ the free marked of ideas” seperti yang disinyalir oleh John Stuart Mills.

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT) disamping memberikan kemudahan bagi fleksibilitas kehidupan manusia, juga membawa serta sejumlah masalah. Informasi menciptakan kemajemukan baru yang semakin kompleks tetapi semakin sensitive. Kemajemukan juga membawa serta dampak yang positif dan negative. Perubahan-perubahan besar dibidang politik, ekonomi dan social budaya menjadi realitas yang menghadirkan diterima dan disikapi secara proaktif, bukan secara reaktif. Setiap informasi membentuk pola tingkah laku social dan bergulir dari waktu ke waktu.

Arus informasi yang begitu deras menerpa, berpeluang menawarkan nilai-nilai baru secara beruntun tanpa henti terhadap masyarakat yang strata sosialnya secara ekonomi, pendidikan, budaya masih dibawah standar, telah membangun keprihatinan baru terhadap perilaku social yang bersifat destruktif.

Kondisi empiris telah mengungkapkan bahwa berbagai gejolak yang cenderung anarkhis saat ini, mengambil bentuk yang serupa dan terpola. Isu sentral yang secara universal menjadi permasalahan berbagai Negara dibelahan dunia seperti demokratisasi, hak-hak azasi, transparansi, hapus korupsi menjadi begitu signifikan utnuk diungkapkan dalam konteks kesenjangan social, penuntutan hak-hak politik, ekonomi dan social budaya yang berwujud melahirkan fragmentasi social dan eklusifisme.

Dinamika transparansi, demokratisasi dan hak-hak azasi senantiasa menuntut tanggung jawab dan kedewasaan dan kesalehan social. Demokrasi, transparansi dan hak azasi sebuah ide kemanusiaan yang memberi peluang bagi perlakuan manusia secara personal sesuai dengan harkat dan martabatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun pada tataran kolektif, manusia sebagai makhluk social diikat oleh berbagai format cultural, etika dan moral kemanusiaan berdasar ruang dan waktu. Oleh karena itu setiap perilaku social harus mencerminkan keterikatan individu/personal dalam tatanan masyarakat bersangkutan.

Demokrasi, transparansi dan hak-hak azasi tidak harus menjadi kondisional baru yang hanya didengung-dengungkan dalam arena pertarungan politik, atau menjadi isu pada orasi-orasi dikancah demontrasi yang dihiasi spanduk dan ban-ban bekas yang dilalap kobaran api. Demonkrasi, transparansi dan hak-hak azasi seharusnya diramu dan diracik secara apik dalam bungkus hak dan kewajiban secara proporsional, sehingga perilaku social tidak hanya mengabdi pada kebebasan, tetapi kebebasan menjadi medium menuju dinamika kolektif yang bermakna manusiawi.

PERUBAHAN SOSIAL DI ERA INFORMASI.
Pembangunan bangsa dilaksanakan dengan maksud untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang semakin baik dan maju. Ini artinya pembangunan adalah gerak perubahan menuju kemajuan dan kesejahteraan. Perubahan kearah kemajuan (progress) dari pembangunan juga termasuk perubahan social, berubah seiring dengan kemajuan jalan. Karena hakekat semua akan berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Perubahan social dari factor internal yang manifest antara lain seperti inovasi-inovasi baru yang ditopang oleh kemajuan teknologi tinggi ( hi-tech) dan Information Communication Technology (ICT) telah mampu menggeser nilai dan tatanan social yang ada. Dari budaya dan norma mekanik yang tradisional ( sabar dan telaten ), manual dan birokratik beralih kepada budaya elektronik, dari analog ke digital.

Dalam sejarah peradaban manusia, sarana bantu kehidupan manusia akan mempengaruhi social budayanya. Demikian juga kehidupan pada era mekanik yang tradisonal dengan sarana bantu manual dan analog ini, melahirkan budaya yang manual juga. Sebaliknya sarana bantu elektronik dengan sarana bantu yang elektronikb dan digital akan melahirkan sikap dan budaya yang serba cepat, praktis, dinamis, tepat, berkualitas, professional dan biaya tinggi (nilai ikutannya adalah budaya instan).

Dalam kontek interaksi antar negara, pada era mekanik ‘perang’ yang terjadi adalah perang secara konvensional dengan penghancuran negara secara fisik dengan senapan dan mesiu. Sedang pada era elektronik bahkan diera digital sekarang ini, perang dan penjajahan yang terjadi adalah perang informasi dan penjajahan informasi. Sasaran tembaknya adalah sikap mental, nilai, norma dan ideology bangsa. Dalam ‘perang’ informasi, peran media benar-benar tidak sekedar “ medium of message” tetapi lebih pada “ free marked of ideas”

Kedahsyatan dari ‘perang’ informasi ini diawal arus globalisasi mulai menggelinding, telah mampu merobohkan tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Jerman Barat, serta memporak-poranda kekuatan penyeimbang Amerika waktu itu, yaitu Uni Sovyet dengan isu sentralnya Glasshnoth dan Phaeresthroika, juga beberapa Negara di Eropa Timur lainnya yang menurut tukang ramal (futuristic) John Naisbitt dalam Bukunya Global Paradox banyak Negara besar nantinya akan kena musibah perpecahan ( Indonesia sebagai Negara kepulauan, kalau kita tidak waspada, memiliki potensi untuk itu )

Apalagi bila melihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural seperti beragamnya suku, budaya daerah, agama, dan berbagai aspek politik lainnya, serta kondisi geografis negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengandung potensi konflik (latent sosial conflict) yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Dewasa ini, dampak krisis multi-dimensional ini telah memperlihatkan tanda-tanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self-confidence) dan rasa hormat diri (self-esteem) sebagai bangsa. Krisis kepercayaan sebagai bangsa dapat berupa keraguan terhadap kemampuan diri sebagai bangsa untuk mengatasi persoalan-persoalan mendasar yang terus-menerus datang, seolah-olah tidak ada habis-habisnya mendera Indonesia. Aspirasi politik untuk merdeka di berbagai daerah, misalnya, adalah salah satu manifestasi wujud krisis kepercayaan diri sebagai satu bangsa, satu “nation”.

ANTISIPASI PADA PERUBAHAN.
Perubahan-perubahan yang sangat cepat akibat badai informasi di tatanan global ini, sudah tidak mungkin dihindari oleh Negara-negara penghuni dunia ini. Bagi Negara-negara yang masih ruwet dengan internal dalam negrinya yang tidak tersedia waktu untuk mempersiapkan diri dari arus perubahan, maka ia akan ketinggalan tanpa ada kesempatan mengejarnya. Bangsa-bangsa yang demikian itu, akan menjadi penonton kemajuan dan menjadi peristirahatan terakhir dari teknologi kedaluwarsa. Kondisi semacam ini, dengan adanya perubahan arus global dari geo-politik kepada geo-ekonomi setelah usai perang dingin, Negara yang lemah secara ekonomi akan termarginalkan dalam arus utama (main-stream) dunia.

Dilain pihak kekuatan arus informasi global akan menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat bangsa dan Negara. Dalam keadaan seperti ini, bagi bangsa yang perekat kebangsaannya sangat rapuh akan mudah tercerai beraikan. Informasi tidak saja meningkatkan kecerdasan dan kualitas hidup suatu bangsa, tetapi informasi juga dapat menjadi senjata yang ampuh untuk merontokan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Kita mengenal banyak bentuk dan ragam perekat kebangsaan , namun yang terpenting adalah pandangan hidup dan falsafah bangsa serta wawasan kebangsaan yang melandasi sikap batin, pola pikir dan perilaku kehidupan dari suatu masyarakat bangsa.

Menyikapi arus perubahan tersebut, yang bisa dilakukan adalah mengembang sikap antisipatif dan proaktif bukan reaktif, artinya meletakkan pandangan dan perhatian ke masa depan dengan memperhatikan apa yang sudah berlalu sebagai referensinya. “ Pengalaman kang pahit kuwi lir pindhane guru sejati kang becik dewe, dene ono kleruning panindak anggepen koyo koco brenggolo, ojo pepes. Sing wis mungkur ayo podho di singkur, ning dipethani endhi sing biso dadhi petutur “ (Jw. : pengalaman yang pahit itu sebetulnya merupakan guru yang paling baik, jika ada salah dalam bertindak, jadikan cermin untuk kemudian hari, jangan putus asa. Yang sudah ya sudah, namun mari kita timang-timang mana yang dapat jadikan nasehat)

Bangsa Indonesia yang tingkat heterogenitasnya cukup tinggi, didalamnya terpendam kerawanan yang sangat hakiki dalam arti dapat menumbuhkan “gaya centrifugal” yang tidak boleh begitu saja diabaikan. Karena itu upaya untuk mencegah merebaknya kerawanan social yang berbuntut perpecahan bangsa, perlu terus dilakukan untuk memperkokok perekat kebangsaan, meningkatkan kualitas wawasan kebangsaan.

REFLEKSI WAWASAN KEBANGSAAN.
Wawasan sering dimaknai dengan konsepsi dan cara pandang seseorang terhadap apa yang ketahui tentang satu hal. Kaitannya dengan negara, wawasan kebangsaan bermakna cara pandang seseorang sebagai warga negara terhadap identitas diri bangsa yang melekat pada dirinya. Secara tidak langsung, wawasan kebangsaan menekankan adanya pengetahuan mendalam tentang identitas nasional untuk menjelaskan ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat dengan dirinya yang diikat oleh kesamaan fisik (seperti budaya, agama, dan bahasa) atau non-fisik (seperti keinginan, cita-cita dan tujuan).

Mengadopsi pemikiran Talcott Parsons mengenai teori sistem, wawasan kebangsaan dapat dipandang sebagai suatu falsafah hidup yang berada pada tataran sub-sistem budaya Dalam tataran ini wawasan kebangsaan dipandang sebagai ‘way of life’ atau merupakan kerangka pengetahuan yang mendorong terwujudnya tingkah laku dan digunakan sebagai acuan bagi seseorang untuk menghadapi dan menginterpretasi lingkungannya. Jelaslah, bahwa wawasan kebangsaan tumbuh sesuai pengalaman yang dialami oleh seseorang, dan pengalaman merupakan akumulasi dari proses tataran sistem lainnya, yakni sub-sistem sosial, sub-sistem ekonomi, dan sub-sistem politik.

Meningkatkan kualitas wawasan kebangsaan yang dilakukan terus menerus dimaksudkan untuk mengantisipasi modernisasi dan globalisasi serta arus perubahan yang cepat melanda seluruh negri di belahan bumi. Seharusnya apapun perubahan itu, Bangsa Indonesia hendaknya tetap dalam format Ke-Indonesia-an.

Kualitas wawasan kebangsaan, ditentukan oleh tiga elemen, yaitu Rasa Kebangsaan, Paham Kebangsaan dan Semangat Kebangsaan. Ketiga elemen ini seharusnya terus menjadi rujukan dan tameng bagi setiap individu bangsa Indonesia dalam menghadapi perubahan jaman. Terlebih para pengelola negera ini, tiga elemen Wawasan Kebangsaan ini seharus menjadi benteng dalam setiap menjalankan amanah yang diberikan rakyat, dan ter-refleksi pada setiap langkah kebijakannya.

Rasa Kebangsaan, tidak hanya merefleksikan bahwa seseorang adalah bagian dari masyarakat bangsanya, tetapi sekaligus mengandung unsure loyalitas untuk menjaga integritas dan identitas masyarakat bangsanya. Rasa kebangsaan memancarkan secara nyata didalam perilaku serta jati diri bangsa, dan mampu menjaganya dari arus modernisasi dan perubahan serta kemajuan teknologi. Artinya, bahwa kemajuan itu terus diupayakan tetapi tetap dalam bingkai budaya bangsa. Dalam perspektif yang demikian itu, akan menetralisir kecenderungan primordialisme yang sangat merugikan persatuan dan kesatuan bangsa. Para stakeholder Negara, dapat mengambil peran yang proporsional untuk mendorong arus demokratisasi, transparansi, dan menjunjung hak azasi, yang dibingkai dengan budaya nasional kita.

Rasa kebangsanaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul paham kebangsaan dan semangat kebangsaan atau semangat patriotisme.

Paham Kebangsaan, pada gilirannya merupakan satu dorongan dan sekaligus tuntutan di dalam mentransformasikan rasa kebangsaan menjadi pagar-pagarnya kemajuan maupun pergeseran social karena arus modernisasi dan perubahan global. Secara normative, pahan kebangsaan berwujud sebagai Wawasan Nusantara yang mengamanatkan kesatuan politik, ekonomi, social-budaya dan hankam.

Semangat Kebangsaan, derajat semangat kebangsaan sangat ditentukan oleh derajat rasa kebangsaan dan paham kebangsaan, karena tinggi rendahnya derajat semangat kebangsaan diwarnai oleh seberapa jauh pemahaman dan penghayatan serta pengamalan dari rasa kebangsaan dan paham kebangsaan. Semangat kebangsaan yang lebih dikenal dengan ‘nasionalisme’ yang secara wantah diungkapkan oleh Disraeli dengan ungkapan “ wright or wrong my country “.

Semangat kebangsaan pada dimensi social, ekonomi dan politik, maka wujud nyatanya akan berupa semangat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan kesejahteraan segelintir orang. Karena semangat kebangsaan pada dimensi ini, pada hakekatnya merupakan semangat batin yang mengandung misi untuk mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yaitu terwujudnya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suasana batin yang warnai oleh semangat kebangsaan akan selalu berupaya untuk memenuhi hak-hak rakyat, apapun profesinya, seperti hak memperoleh pendidikan, hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan, hak untuk hidup yang layak, hak untuk menyuarakan pendapatnya, hak perlindungan dan perlakuan hukum yang sama, dan lain-lainnya yang saat ini masih menjadi barang yang teramat mahal dinegeri ini.

Nasionalisme atau Semangat Kebangsaan mengemban misi untuk mewujudkan social, itu berarti terus menghapus adanya kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan ketidak adilan. Karena ancaman terhadap kehidupan kebangsaan yang akan kita hadapi di era kini dan kedepan bersumber dari ketimpangan-ketimpangan social-ekonomi dan politik, dan merupakan sumber konflik yang potensial, disamping ras, agama dan golongan.

Elit Negara yang memiliki akses distributive kesejahteraan social hendaknya mengimplementasikan secara nyata semangat kebangsaan ini sesuai dengan kebutuhan kekinian. Kepekaan social terus diasah dalam melihat realitas adanya kesenjangan social yang ada. Sekarang yang ada masih sebaliknya, program ‘pengentasan kemiskinan’ justru yang tampak adalah ‘pementasan kemiskinan’. Kesenjangan social lebih perjelas dengan membentuk klaster-klaster eklusifisme elitis, dll.

PANCASILA DAN WAWASAN KEBANGSAAN.
Ditengah hiruk pikuk era reformasi yang mengusung isu demokratisasi, transparansi dan hak-hak azasi justru sumber dari isu-isu tersebut melemah gaungnya, Yaitu Pancasila. Pancasila sebagai landasan wawasan kebangsaan, tidak menerima praktek-praktek yang mengarah pada dominasi dan diskriminasi social, baik karena alas an perbedaan suku, agama, ras maupun golongan. Sebab Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kepada kita bahwa kita sederajat dihadapan Sang Khaliq.

Wawasan kebangsaan menentang segala bentuk penindasan oleh satu bangsa terhadap bangsa lain, oleh satu golongan terhadap golongan yang lain, penindasan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya. Sebab sila Kemanusiaan yang adil dan beradab mengajarkan kepada Bangsa Indonesia untuk menghormati harkat dan martabat manusia, untuk menjamin hak-hak azasi manusia.

Wawasan kebangsaan menentang segala bentuk sparatisme, baik atas dasar suku, agama, ras dan golongan. Sebab sila persatuan Indonesia member tempat kepada kemajemukan dan tidak menghilangkan perbedaan, alamiah dan budaya bangsa.

Wawasan kebangsaan menentang segala bentuk kolonialisme dan feodalisme (baik yang klasik maupun neo) serta kediktatoran oleh mayoritas maupun minoritas. Sebab sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmahn kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mendambakan sebuah Negara yang demokratis yang menjunjung tinggi hak azasi dan supremasi hokum.

Wawasan kebangsaan mencita-citakan perwujudan masyarakat yang makmur dan berkeadilan, dalam suasana kesalehan social dibingkai dalam wadah Negara Kesatuan Republic Indonesia. Karena ini perintah sila Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kontek kekinian, maka peningkatan kualitas wawasan kebangsaan akan mampu menggerakkan semua krida kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang pada ujungnya dapat menempatkan Negara dan bangsa Indonesia di dalam ‘main stream dunia’. Selain itu Wawasan kebangsaan inilah yang sanggup menarik benang merah kebangsaan di sepanjang episode perubahan dan kemajuan masyarakat.*(11/05/2010)*

Diposting : Ach. Chambali. Hs.















Label:

Pidato, Public Speaking

03.55 / Diposting oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH / komentar (0)

TEKNIK PIDATO / PUBLIC SPEAKING
Oleh : Ach. Chambali Hasjim.

Kita sering dibuat kagum terhadap seorang da’i, politikus, atau motivator saat menyampaikan pidatonya, memikat dan mengesankan !!. Tentu semua orang akan mengatakan wah orang itu sangat berbakat, mempunyai talenta. Betul, tetapi tidak semua betul, karena untuk menjadi seorang orator atau ahli berpidato dapat dilakukan dengan mempelajari ilmunya, memang talenta atau bakat sebagai anugerah Tuhan (God's Gift) akan mempengaruhi proses belajar tersebut, seseorang yang mememiliki bakat dalam public speaking (berbicara di depan umum) akan mempercepat proses dalam mencapai keahliannya.


RETHORIKA.

Untuk dapat menjadi orator/ahli berpidato paling mempunyai pengetahuan tentang komunikasi (baca artikel ‘Dasar-dasar Komunikasi’ pada Blok ini) kemudian kita mempelajari Rethorikanya atau seni berpidato./ Public Speaking, dan psikologi social (terutama yang berkaitan dengan tingkah laku social)

Public speaking atau sering disebut dengan pidato adalah ucapan yang tersusun baik dan ditujukan kepada orang banyak. Kepandaian berbidato sering disebut dengan rhetorika atau oratori, sedang orangnya disebut dengan rhetor atau orator. Berpidato merupakan seni percakapan yang didukung dengan penggunaan bahasa yang baik dan wawasan keilmuan yang luas. Berpidato dalam dunia pesantren sering disebut dengan khithabah dan orangnya disebut dengan khatib. Kita dapat melihat orang yang cakap dalam berpidato dalam forum-forum kenegaraan, pengajian, ceramah, diskusi, debat, kampanye, pelatihan, dan lain sebagainya.

Pengertian:
Retorika yang berakar dari bahasa Yunai 'Rhetor' dan dalam bahasa Inggris ‘Orator’ yang berarti orang yang mahir berbicara dihadapan umum atau berpidato Sedang ‘rhetorika sendiri artinya ‘ seni berbicara di depan umum ‘ ( the art of public speaking ) atau seni berpidato.

Pengertian retorika secara luas, seperti yang diungkapkan oleh C. BROOKS dan R.P WARREN, mendifinisikan retorika sebagai " the art of using language effectively" atau seni penggunaan bahasa secara.

Pidato atau berbicara didepan umum (public speaking) adalah merupakan bercakap-cakap yang diperluas ( enlarge conversation ). Berpidato adalah merupakan "art and science communication " . Sebagai seni, berpidato memang perlu bakat yang ada sebagai anugerah Tuhan (God's Gift) Akan tetapi berpidato sebagai science, kecakapan dan kemahiran berpidato dapat juga dipelajari dan dikondisikan sebagaimana kecakapan dan kemahiran dibidang-bidang lainnya.
Memang perpaduan antara bakat yang dimiliki dan pengetahuan keilmuan yang menunjang bakat tersebut tentu akan menjadi lebih baik.


Tujuan Pidato :

Public Speaking dalam performancenya dilakukan untuk berbagai tujuan, seperti :
  1. To interest or amuse the audience (untuk menarik perhatian atau menghubur audience)
  2. To inform or teach (untuk memberi informasi atau pendidikan )
  3. To stimulate or impress (untuk memberi dorongan atau menggairahkan )
  4. To convince or persuade (untuk meyakinkan atau mempengaruhi)
  5. To Instruct (untuk memerintah)
  6. To Entertain (untuk menghibur)

Panca Norma Pidato.
Komunikator dalam kegiatan pidato sebagai individu yang mengambil prakarsa melakukan komunikasi, agar dapat berjalan baik hendaknya memperhatikan 'PANCA NORMA PIDATO', yaitu :

1. Persiapan Pidato.
Persipan sekecil apapun perlu ada untuk meng-eliminir ketidak berhasilan tujuan yang ingin dicapai. Pepatah Latin mengatakan : " qui ascendit sine labore discendit sine honore " yang artinya ' siapa yang naik mimbar tanpa persiapan, akan turun tanpa penghormatan '. Oleh karena itu seorang pembicara tidak boleh mengawali dengan kata ' tidak siap untuk berbicara' dan hendaknya dalam kondisi " always be well prepared " ( siap siaga ) dan selalu " ready for use ' ( siap untuk tampil ).

2. Cara Penyajian ( Type of Delivery )
Cara penyajian dalam berpidato ada 4 tipe yaitu :
  • a. Extempore, Pidato yang dilakukan secara spontan, untuk ini memerlukan penguasaan materi dari berbagai bidang ( sudah ahli).
  • b. Impromtu : yaitu pidato yang disampaikan tanpa naskah, dilakukan secara imrpovisasi dan spontanitas.
  • c. Memorized Speech / Memotiter (menghafal materi), yaitu dilakukan dengan cara menghafal naskah pidato. Kelemahan pidato akan tiba-tiba berhenti karena hafalannya bubar pengaruh demam panggung.
  • d. Manuscript (membaca naskah), yaitu pidato secara membaca naskah yang telah dipersiapkan, ini sering dilakukan bila pidato itu memang untuk membacakan naskah pidato orang yang diwakilinya.
  • e. Pointer (dengan catatan kartu), yaitu pidato yang dibantu dengan catatan-catan kecil pada kartu mengenai pokok-pokok pidato yang akan disampaikan.

3. Sistematika Pidato

Sistematika atau susunan pidato harus terangkai dengan baik, artinya pidato harus sistematis dan logis, tidak membingungkan audience yang ditimbulkan oleh jalan pikiran yang tertuang dalam pidato yang berbelit-belit dan kacau (kesannya muter-muter itu-itu saja).

Dalam sistematika pidato, banyak digunakan apa yang disebut dengan " Teori Kuda" Menurut teori ini, pidato harus meliputi empat bagian, yaitu :

  • Exordium (Kepala), yaitu bagian pertama yang merupakan pendahuluan dimakusdkan sebagai upaya untuk menimbulkan kemauan dan membangkitkan perhatian (attention arousing) audience terhadap topik pembicaraan yang akan disampaikan.
  • Protesis (Punggung), yaitu bagian kedua yang merupakan pemaparan pokok permasalahan yang akan disampaikan dalam pidato.
  • Argumenta (Perut), yaitu bagian ketiga yang merupakan bagian yang berkaitan dengan alasan-alasan mengangkat topik permasalahan yang disampaikan tadi.
  • d. Conclucio (Ekor) bagian terakhir yang merupakan penutup pidato yang berisi kesimpulan, pemecahan masalah sekaligus saran-saran alternatif yang secara persuasif bertujuan mempengaruhi audience.

4. Isi dan Materi Pidato.
Isi atau materi pidato hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  • Menarik dan aktual ;
  • Disampaikan dengan lambang-lambang yang mudah dimengerti ;
  • Mencerminkan kepentingan audience ;
  • Mengandung unsur untuk suatu penyelesaian/menambah pengetahuan, bukan menambah persoalan audience.

5. Keadaan Auditorium.
Seorang mimbarwan/pembicara hendaknya mengenali 'medan tempurnya' yaitu situasi dan kondisi auditorium dimana proses komunikasi akan dilangsungkan. Tempat pembicara apakah dapat menjangkau seluruh audience, alat bantu pengeras suara apakah dalam kondisi baik dan menjangkau seluruh audience.


Membangun Ethos.

Seorang orator dalam berkomunikasi, dalam situasi apapun harus tetap berpijhak pada “ ‘pathos’ ( memberikan kesan simpatik)- ‘ethos’ (memegang teguh etika masyarakat) dan ‘logos’ (rasional/logis dan bukan mimpi atau khayalan).

Untuk membangun itu semua harus dilakukan dengan :
  1. persiapan (Preparation);
  2. Kesungguhan (Seriuosness);
  3. Ketulusan (sincerity);
  4. Kepervayaan (confidence);
  5. Ketenangan (poise) ;
  6. Keramahan (Friendship) ; dan
  7. Kesederhanaan (moderation).

Hindari saat Pidato hal-hal berikut ini :

  • Memasukan tangan dalam saku celana
  • Melipat kedua tangan
  • Menggemgam kedua belah telapak tangan dan meletakkan dibelakang
  • Menunjuk audience dengan telunjuk
  • Memegang daun telinga berkali-kali
  • Menggigit salah satu jari tangan
  • Menggaruk-nggaruk kepala
  • Menundukkan kepala/memandang ke bawah atau mendongak memndang keatas.
  • Teralalu sering mengulang kata-kata yang sama.
  • Sering mengucapkan kalimat yang bermakna untuk mengakhiri pidato, tetapi nyatanya tetap masih berlanjut, yang dilakukan secara berulang-ulang.

Basic Concept Public Speaking.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kita melakukan public speaking sebagai konsep dasar untuk memulai pidato, yaitu :

1. Public speaking merupakan konversasi (percakapan) yang diperluas ( enlarge conversation), artinya percakapan dengan banyak orang (audience). Berbicaralah dengan mereka (talk with the people),, jangan berbicara kepada mereka (talk to the people)


2. Public speaking adalah komunikasi yang beryujuan (public speaking is purposeful communication ) agar mereka berperasaan, berpikiran, berbuat sesuai yang dikehendaki Karena itu sepanjang pidato konsentrasi terhadap tujuan itu, jangan terpengaruh oleh keadaan lingkungan.


3. Pidato harus hidup, energik, menarik, enthusiastic, karena itu orator harus bersemangat, optimistic, dan bergairah ( memiliki sense of responsibility an sense of leader)


4. Perhatikan bahwa manusia itu memiliki sikap dasar dan apabila sudah membentuk massa, derajatnya menurun. Sikap dasar tersebut meliputi sikap orang yang mempunyai perasaan, kepatuhan, sifat, kelainan watak, sifat lekas percaya, kebiasaan-kebiasaan, sifat menghormati, sifat senang pujian, sifat berobah pendapatnya.


5. Pembicara yang berhasil dinilai bukan dari apa yang dikatakan, melainkan bagaimana cara mengatakan (HOW You say is more important than WHAT you say)


6. Influence on an audience is determined or dress for success : 7% by what we say ; 38% by how we speak, and 55% by how we look and behave



TINGKAH LAKU KOLEKTIF.

Berpidato atau berbicara didepan umum (public speaking), berarti berhadapan dengan banyak manusia dengan kondisi psikologis yang unik dan komplek. Dalam hal ini Ilmu Jiwa Sosial /psikologi social dapat membantu untuk menganalisis, walau kita hanya diberi sedikit tahu tentang hal ini seperti yang difirmankan Allah SWT [Q.S. Al-Isra’ (17):85]: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh (jiwa) itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(wasyasaluunaka ‘anirruuhi. Qulliruukhu min amri rabbi wamaa uutiitum minal’ilmi illaa qalillan)

Firman Allah SWT tersebut mengisayaratkan kepada kita bahwa pengetahuan tentang hal ihwal ruh ( jiwa/psyche) yang dimiliki manusia sangat terbatas, yaitu hanya pada gejala jiwa yang tampak secara lahiriyah berupa tingkah laku saja. Selebihnya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu.

Psikologi social melihat individu sebagai unsure yang bersikap aktif. Individu di dalam interaksi social memperlihatkan action yang berupa perbuatan sebagai reksi terhadap lingkungannya. Reaksi yang diperlihatkan tidak hanya dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari luar saja, tetapi juga dipengaruhi oleh kebutuhan yang memerlukan pemuasan.

Dalam bahasan proses komunikasi, mau tidak mau harus memperhatikan tingkah laku individual dalam kontek interaksi social. Dalam kehidupannya sehari-hari, seorang individu hidup dalam ikatan social, ikatan social ini mengkondisikan seseorang dalam tingkah laku tertentu yang menunjukan cirri-ciri dan fenomena tertentu sehingga untuk ikatan-ikatan social tersebut dijumpai ada yang namanya kelompok (group), khalayak (public), kerumunan (crowd) dll. I

katan-ikatan social tersebut memiliki karakter tertentu dan menunjukan gejala tertentu pula, maka komunikasi yang berlangsung pada ikatan-ikatan social tersebut, menghendaki cara-cara tertentu pula, yaitu menyesuaikan dengan factor-faktor social psikologis dimana komunikan berada.


Istilah tipologi tingkah laku kolektif (collective behavior) adalah untuk membedakan dengan sitilah tingkah laku individual. Tingkah laku kolektif merupakan pola tingkah laku yang ada saat orang berkumpul banyak.

Gejala yang sangat menonjol dalam tingkah laku kolektif ini adalah, bahwa : daya berfikir individual umumnya menurun atau terhambat ;tanpa disadari penguasaan atas diri sendiri melemah; dan seolah-olah terseret dalam tingkah laku bersama orang-orang lainnya.

GUSTAVE LE BON, menggambarkan keadaan kejiwaan massa sebagai berikut : bilamana orang banyak berkumpul dalam suatu situasi tertentu seperti dalm rapat-rapat umum, demontrasi, menonton sepak bola, dsb. Maka jiwa kelompok bersifat incidental (massa) itu mempunyai watak dan sifat-sifat atai cirri-ciri tersendiri sebagai tingkah lakum kolektif, seperti :
  • Jiwa individu yang ada didalamnya mempunyai tingkah laku dan cirri-ciri khas yang berbeda bila tidak berada pada kerumuman / massa ;
  • Kesadaran diri sekan-akan terserap dalam massa, sehingga menjadi jiwa kelompok yang sensitive dan inpulsif ;
  • Cenderung bertindak dengan segera (reaktif), irrasional, lebih mudah terpengaruh (suggestable) ;
  • Lebih mudah melakukan peniruan (imitation) terhadap hal-hal tertentu ;
  • Solidaritas lebih besar dari pada bila seseorang berada di luar massa.


PANDUAN PRAKTIS PUBLIC SPEAKING.

1. Saat MC mempersilahkan Anda naik podium, itu artinya seluruh audience perhatiannya tertuju pada Anda. Bersikaplah tenang, tarik nafas, perhatikan seluruh audience dan luasnya auditorium untuk mengukur tekanan suara kita (sekaligus untuk menghilangkan podium vrees/demam podium)


2. Berdo’alah sebelum memulai berpidato agar memperoleh ketenangan bathin, dan lancar dalam berpidato.


3. Mulailah berpidato dengan penuh percaya diri, hantarkan pembukaan pidato Anda dengan kata-kata atau cerita yang mengikat, atau hal-hal yang sangat actual dengan singkat (untuk membentuk medan psikis audience).


4. Berbicaralah dengan gaya yang orisinal, dan bersikap sama sederajat dengan audience (talk with the people), jangan bernada menggurui (talk to the people).


5. Berbicaralah dengan menjaga irama/intonasinya, tidak datar dan menjemukan ( irama berbicara, jangan irama membaca ). Aturlah tempo bicara agar dapat didengar dan dicerna dengan jelas, kapan berhenti sementara (koma), dan kapan berhenti lama (titik).


6. Berikan tekanan-tekanan (stressing) pada hal-hal tertentu untuk mendapat perhatian khusus dari Audience.


7. Berbicara hendaknya dengan tetap memelihara kontak pribadi (personal contact) dengan audience, ekspresi wajah terus menunjukkan rasa simpati dan kesungguhannya.


8. Jangan berbicara yang bertele-tele, berhentilah sebelum dihentikan. Jangan berbicara melebihi waktu yang disediakan (kalau memang kurang harus minta ijin menambah sedikit, kalau ada peringatan dengan secarik kertas, hendaknya diberitahukan pada audience, supa tidak mengganggu konsentrasi audience karena penasaran apa itu ).


9. Hindari hal-hal yang merusak medan psikis yang telah dibangun dari awal atau memecah perhatian audience, kecuali karena gangguan mekanik (mechanic noise) perdulikan sebentar kemudian kembalikan lagi audience kepada topic pembicaraan.


10. Jika perhatian audience menurun (kelelahan atau bosan), berusahalah untuk mengembalikan perhatian tersebut dengan menyuguhkan ilustrasi atau joke-joke segar seperlunya, yang penting segera ambil inisiatif (kalau memang masih ada materi yang harus disampaikan).


11. Setiap pidato tentukan klimaksnya, dan kalau dirasa sudah pada klimaks pidato, segera disudahi pidato, denagn menyimpulkan hal-hal yang perlu ada stressing.


12. Setelah pidato pada klimaks, maka pidato segera disudahi yang ditandai dengan kata-kata yang menunjukan pidato akan berakhir, seperti demikian…., akhirnya…., kiranya demikian saja …., dll. Hindari pengulangan kata-kata yang menunjukan berakhirnya pidato tersebut, yang kenyataannya pidato tidak juga berakhit. Hal ini akan melelahkan bahkan menyiksa psikis audience.


13. Untuk mempersiapkan diri menjadi pembicara yang baik, terus lakukan dan kembangkan hal-hal berikut ini :

  • Memandang sesuatu dari sudut baru
  • Selalu memperluas cakrawala
  • Selalu antusias
  • Rasa ingin tahunya tinggi
  • Selalu menunjukkan empati
  • Jangan terlalu banyak membicarakan diri sendiri dalam pidatonya.
  • Mengenal dengan baik siapa pendengarnya
  • Menguasai materi dan mampu ber-improvisasi
  • Mampu menyesuaikan diri dengan waktu, tempat, suasana dan acara
  • Mampu menggelitik emosi pendengar
  • Mempunyai selera humor dan kestabilan emosi
  • Perkaya perbendaharaan kata/ragam bahasa yang berupa ungkapan, perumpamaan, kata mutiara, kutipan ucapan tokoh (karena manusia senang hal seperti ini)
  • Tampilan harus memikat

PEDOMAN UNTUK PENILAIAN PIDATO.
Berikut ini disajikan Pedoman Umum (Guiding Principles) baik untuk pegangan dalam melakukan pidato, atau untuk penilaian suatu pidato (lomba pidato) :
  1. Kelancaran berbicara
  2. Kesungguhan
  3. Sistimatis dan logis
  4. Vokal dan intonasi
  5. Performance
  6. Illustrasi
  7. Gesture / gerakan
  8. Kesopanan dan pemilihan kata-kata
  9. Humor
  10. Waktu / ketepatan durasi
  11. Originalitas.

PENUTUP.
Seorang orator yang mampu merubah ‘warna” dunia. Banyak tokoh yang sudah membuktikannya, Rasululloh SAW dengan pidato-pidato dakwahnya merubah jaman jahillah menjadi jaman yang penuh rahmatan lilalamin.

Bila anda sudah menjadi seorang orator dibidang apapun, sebelum naik panggung, coba renungkan apa yang telah difirmankan Allah SWT : “Serukanlah (ajaklah) kepada jalan Tuhanmu (jalan kebenaran) dengan hikmah*/ dan pelajaran yang baik dan bantahlah (berdiskusilah dengan )mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“ [ Q.S An-Nahl (16):125]. (*/ Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil)**

Ingat !!!
  • SIAPA YANG NAIK MIMBAR TANPA PERSIAPAN, AKAN TURUN TANPA PENGHORMATAN ( QUI ASENDIT SINE LABORE - DESENDIT SIN HONORE )
  • JANGAN TERSENYUM DI-KEGELAPAN ; JANGAN BERBISIK KEPADA ORANG TULI DAN JANGAN MENGERLING KEPADA ORANG BUTA .
  • PENARI YANG BAIK, HARUS MENGERTI IRAMA GENDANG.

DAFTAR PUSTAKA.
Astrid, S. Susanto, Dr. phil. Komunikasi Dalam Teori dan Praktek – 1, Penerbit Binacipta, Bandung, 1974.
Cangara, Hafidz,2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Carolina Nitimihardja, dra. Psi, Psikologi Sosial, Oenerbit senat mahasiswa STKS bandung, 1983.
Effendy, Onong Uchyana, Drs, MA, Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Penerbit Remaja Karya CV, Bandung, 1985.
Effendy, Onong Uchyana, Drs, MA, Dimensi-Dimensi Komunikasi. Penerbit Alumni Bandung, 1986.
Evendhy M. Siregar, Komunikasi dan Rhetorika
Kridalaksana, Harimurti, ed. Leksikon Komunikasi, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.1984.
Muhammad, Arni, Dr. Komunikasi Organisasi. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2005.
Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
Meinanda, Teguh, Pengantar Ilmu Komunikasi, CV Armico, Bandung, 1981
Mirrian. S. Arif, Dra. M.Ec (PA), Organisasi dan manajemen, Penerbit Karunika Jakarta, 1985.
Robert M.Z. Lawang, Drs. Pengantar Sosiologi (Modul 1-9) Universitas terbuka, Jakarta, 1985.
Sendjaja,Sasa Djuarsa,1994, Pengantar Komunikasi,Jakarta:Universitas Terbuka.
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:Grasindo.








Label: