Ibu Peluklah Aku

23.49 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /

IBU AKU RINDU PELUKAN HANGATMU
Oleh : Drs. Ach. Chambali Hasjim. SH

Rabu, tanggal 22 Desember 2010, Bangsa Indonesia, memperingati Hari Ibu yang ke 82, tanggal tersebut diambil dari momentum terselenggaranya “KONGGRES PEREMPUAN INDOENSIA“ pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Joyodipuran Jogjakarta, yang diprakarsai oleh perkumpulan-perkumpulan wanita seperti : WANITA UTOMO ; WANITA TAMAN SISWO ; PUTERI INDONESIA ; AISYIAH ; JONG ISLAMIETEN BON BAGIAN WANITA ; WANITA KATHOLIK dan JONG JAVA BAGIAN WANITA. Sejak tahun 1959 telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Nasional, yaitu dengan Keputusan Presiden RI Nomor 316/1959 tertanggal 19 Desember 1959. Dengan demikian Hari Ibu ini tidak saja diperingati oleh kaum ibu, tetapi oleh seluruh bangsa Indonesia. Berbeda dengan di Amerika dan Kanada yang merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei.

Tradisi peringatan ini untuk membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang besar yang tahu akan menghormati jasa para pahlawannya, khususnya para pahlawan pejuang wanita, atau dari kaum ibu. Dalam setiap peringatan, relevansinya terhadap kondisi kekinian adalah bukan meriahnya acara seremonial peringatan, namun bagaimana memaknai dan menarik benang merah dari kepahlawan para pejuang kaum ibu dulu kepada kondisi kekinian yang tidak kalah pula besarnya tantangan yang dihadapi.

Posisi seorang ibu atau pada umumnya kaum wanita, dari aspek sumberdaya manusia Indonesia, memiliki potensi yang cukup besar, karena lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia adalah kaum wanita, yang pada saat nanti akan mengambil peran sebagai seorang ibu. Dari aspek socio-cultural, seperti pada pemahaman agama Islam, seorang ibu ditempatkan posisinya lebih dibanding kaum pria, seperti yang dalam riwayat seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW, siapa yang patut kita hormati ya Rasullah? Jawab Rasulullah SAW, Ibumu, kemudian siapa lagi, Ibumu, siapa lagi, Ibumu, baru pada pertanyaan yang keempat Rasulullah SAW menjawab, Bapakmu. Maknanya, ibu memiliki posisi yang kuat dalam pembentukan watak anak sebagai generasi bangsa.

Anak, adalah generesi penerus bangsa.
Kata yang sering diucapkan, tetapi lebih banyak dalam retorika, implementasi dari komitmen ini yang paling penting. Ungkapan ini sudah cukup tua, setua sejak lahirnya genersi yang namanya anak. Yang harus dilakukan, bagaimana menyiapkan anak sebagai penerus genarasi ini menjadi anak yang siap memikul tanggung jawab sebagai generasi penerus, bukan anak yang lemah, anak yang banyak menyandang masalah, bahkan menjadi anak yang tidak jelas masa depannya, sehingga bukan tidak mungkin kelak menjadi bangsa ini mengalami “lost generation” (generasi yang hilang), Terancamnya “lost generations” ini karena dipicu oleh kondisi generasi anak bangsa ini pada situasi dan kondisi yang terbelenggu oleh kemiskinan, kebodohan, kurang gizi, kering akan kasih sayang, baik oleh lingkungan keluarganya maupun oleh lingkungan sosialnya. Allah SWT telah memperingatkan seperti dalam firmannya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisaa’ : 9).

Peringatan Allah SWT tersebut jelas, bahwa jangan meninggalkan anak-anak yang lemah, dan untuk kesejahteraan mereka (anak-anak)nya, hendaklah bertaqwa dan berkata yang benar. Kuncinya bertaqwa dan berkata yang benar. Artinya bekerja dan terus berdo’a. serta tidak kalah pentingnya harus terus selalu berkata benar (tidak berkata bohong). Berkata bohong, implikasinya sangat besar bagi kelangsungan hajat hidup manusia.

Potret buram anak-anak generasi bangsa.
Terabaikannya peran “Ibu” (dalam pengertian ibu yang melahirkan anak-anaknya, serta sekaligus yang melahirkan generasi penerus) sebagai pendidi pertama dan utama bagi anak-anaknya, telah banyak melahirkan sisi-sisi kelam dunia anak-anak. Jangan protes dulu, memang bukan kesalahan tunnggal dari seorang ibu semata, juga karena factor lingkungan internal keluarga (ada peran ayah, dan saudara) juga dipengaruhi oleh factor social dan lingkungannya. Namun banyak kondisi empiris yang menyuguhkan fakta bahwa, anak-anak yang “gagal”, terlahir karena kurangnya perhatian ibunya (terlalu sibuk berkerja diluar rumah, bisa karena menjadi orang tua karir, atau karena kemiskinan yang menghimpitnya), sehingga anak kehilangan figure sentral yang menjadi “social modelling” bagi dirinya.

Bisa dibayangkan, ketika anak dalam kesendiriannya secara social maupun secara psikologis, yang hanya ditemani oleh ibu asuh upahan, atau ditemani tayangan televisi, maka proses internasilasi yang ada pada anak tersebut adalah apa yang ia terima dalam kesehariannya. Terintalisasi hubungan pengasuh dengan dia yang tanpa rasa kasih dan nilai-nilai relasinya secara ekonomis antara pengasuh dengan anak (pengasuh sering banyak ngalah terhadap anak asuhnya, sehingga tidak bisa menginternalisasi nilai-nilai baik, seperti penghormatan kepada orang yang lebih tua, tidak berbuat yang buruk, dll), Juga mendapat internasilsasi acara-acara televise yang tidak selalu tepat untuk pertumbuhan psikologi anak. Dan dampaknya sudah cukup banyak seperti yang kita lihat dari pemberitaan media, banyak anak yang liar, terlibat tawuran, narkoba, peminum, dll.

Hal ini karena anak yang pertumbuhan akal pikiran belum sempurna, sejatinya membutuhkan bimbingan dari Ibunya (dan ayahnya) untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, justru ia mendapat referensi untuk pertumbuhannya dari sumber yang salah, seperti dari teman, publik figure, buku, tayangan tv, pemberitaan yang dia sendiri belum memiliki kemampuan untuk melakukan filter terhadap itu semua.

Akibatnya jadilah ia menjadi anak bermasalah, yaitu anak yang prilakunya atau tindakannya tidak diharapkan orangtua atau masyarakat/lingkungan sosialnya dan tindakannya cenderung merugikan dirinya dan orang lain.

Potret buram anak-anak generasi bangsa, semakin memprihatinkan, seperti yang dirilis oleh Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, bahwa data yang dimiliki oleh BKKBN menunjukan makin banyak remaja yang telah aktif secara seksual sebelum nikah akibat merebaknya pergaulan bebas dikalangan para remaja. Ditahun 2010, data yang dimiliki BKKBN (Koran Surya, 29/11/2010) menunjukan 54 % remaja perempuan di Surabaya sudah tidak perawan, di medan 52 % dan Bandung mencapai 47 %. Data tersebut juga menunjukan bahwa 51 % perempuan usia belasan tahun diwilayah Jakarta, Bogor, depok, Tangerang dan Bekasi (Jabidetabek) kehilangan kegadisannya. Artinya, dari 100 remaja 51 orang diantaranya sudah tidak perawan. Masih dari data BKKBN tersebut, di Jogjakarta menunjukan 37 % mahasiswa menikah akibat hamil diluar nikah ( married by accident ), dan estimasi jumlah aborsi di Indonesia pertahun mencapai 2,4 juta, dan sebanyak 800.000 terjadi dikalangan remaja). Belum lagi yang terkait dengan AIDS, berdasarkan relis Kemetrian kesehatan pada pertengahan tahun 2010 ini, menyebutkan bahwa jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan kasus 47.157 HIV positif. Dari jumlah itu prosentasi pengidap pada usia 20-29 tahun (relative masih muda) sebesar 48,1 %. Sedang pengguna narkoba di Indonesia pada pertengahan tahun 2010 mencapai 3,2 juta jiwa, 75 % nya atau 2,5 juta adalah para remaja.

Jadikan Keluaga Sebagai Basis Pendidikan Anak.
Allah SWT berfiman : ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu". (QS. at-Tahriim: 6). Ini menginsyaratkan bahwa ”nahkoda” keluarga memiliki tanggung jawab menyelamatkan biduk keluarga agar dapat mencapai tujuan hidup ini baik yang jangka pendek ”fiddun ya khasanah” lebih-lebih tujuan jangka panjang ”akhirati khasanah” .

Dalam kondisi kebebasan dalam aksesibilitas informasi sekarang ini, fungsi negara dan masyarakat lemah dalam memberi perlindungan terhadap perlindungan anak dari serangan modernitas (dalam tanda kutib) yang diterjemahkan salah oleh banyak anak-anak, maka pilihan benteng akhir adalah kembali kepada ”keluarga”.

Keluarga, yang merupakan suatu institusi tertua, dan sebagai unit terkecil atau sebagai inti dari suatu sistem sosial dalam masyarakat – bangsa. Sebagai sub sistem dari sistem sosial dalam masyarakat, keluarga menjadi variabel penting dalam mewujudkan kesalehan sosial dalam masayarakat. Terbentuknya keluarga yang ”sakinah – mawadah dan warrahmah”, keluarga yang mampu mengayomi dan memberi ketrenteman bagi anggota keluarga didalamnya, akan memberi kontribusi terwujudnya masyarakat yang aman dan tenteran yang pada gilirannya masyarakat yang sejahtera.

Begitu penting peran keluarga ‘khususnya ibu’ dalam membentuk karakter anak sejak dini bahkan sejak ia di dalam kandungan. Keluarga memiliki peran yang besar disamping sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang nilai baik dan buruk kepada anak-anaknya. Keluarga pulalah wadah dimana anak dapat menerapkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, maupun di institusi keagamaan. Mengentaskan anak-anak bermasalah harus dimulai dengan mengembalikan fungsi keluarga sesuai nilai-nilai ajaran moral dan agama.

Mengembalikan fungsi keluarga secara utuh menjadi kebutuhan yang tidak dapat terelakkan dalam memposisikan ”keluarga” sebagai ”madrasatun ’ula” atau ’kampus’ yang pertama bagi anak-anaknya. Fungsi- fungsi tersebut tersebut meliputi :
1. Fungsi Edukasi dan Advokasi.
Keluarga merupakan wahana pendidikan yang pertama dan utama, sebagai wahana pembinaan nilai-nilai dan norma agama dan budaya bagi generasi manusia. Memberikan dukungan afektif, berupa hubungan kehangatan, mengasihi dan dikasihi, mempedulikan dan dipedulikan, memberikan motivasi, saling menghargai, dan lain-lain. Pengembangan pribadi, berupa kemampuan mengendalikan diri baik fikiran maupun emosi; mengenal diri sendiri maupun orang lain; pembentukan kepribadian; melaksanakan peran, fungsi dan tanggung jawab sebagai anggota keluaraga; dan lain-lain.

2. Fungsi Sosial.
Dengan berkeluarga individu-individu didalamnya mendapat status atau pretige tersendiri, yakni menjadi suami atau isteri, dan dari sini keduanya akan mendapat harga diri dan status sosial tersendiri. Keluarga juga untuk menanamkan kesadaran atas kewajiban, hak dan tanggung jawab individu terhadap dirinya dan lingkungan sesuai ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

3. Fungsi Religius.
Berkeluarga merupakan sebuah pengalaman hidup beragama, mengingat menikah adalah sebuah sunnah rosul dan didalamnya terdapat aturan-aturan hidup sesuai ketentuan ajaran agama. Keluarga sebagai wahana untuk beribadah dan pengamalan syariat agama.

4. Fungsi Afeksi,
Keluarga untuk membina dan bertumbuh kembangnya kasih sayang yang terwujud dalam hubungan biologis antara suami-isteri. Mengembangkan kasih sayang diatara anggota keluarga yang berdampak rasa untuk saling mengasihi dengan sesamanya.

5. Fungsi Protektif.
Keluarga merupakan tempat berlindung individu-individu didalamnya, baik dari secara fisik maupun psikhisanggota keluarga saling melindunginya.

6. Fungsi Rekreatif,
Suasana keluarga yang harmonis merupakan tempat hiburan yang sehat bagi anggota keluarga, kenyamanan rumah tangga akan memberikan kehangatan, kedamaian, dan kesenangan anggota keluarga ( baiti jannati).

7. Fungsi Ekonomis,
Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat bangsa yang mandiri yang merupakan tumpuan kegiatan perekonomian. Kebutuhan primer dan kebutuhan skunder dari suatu keluarga menjadi tujuan produksi suatu usaha.

8. Fungsi Reproduksi.
Dengan berkeluarga yang diikat oleh suatu perkawinan yang sah baik menurut ketentuan agama maupun ketentuan negara, manusia dapat mengembangkan keturunan sebagai generasi penerus kehidupan dan peradaban manusia.

Pencapaian fungsi-fuingsi keluarga tersebut akan membentuk suatu komunitas yang berkualitas dan menjadi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan potensi setiap anggota keluarga, sehingga terwujudlah ketahanan keluarga yang mejadi landasan untuk ketahanan mental dan fisik generasi penerus terhadap tantangan jaman, yang pada gilirannya akan mewujudkan ketahanan social, ketahanan masyarakat dan bangsa.

Ibu kembalikan kehangatanmu untukku
Kehadiran seorang Ibu untuk mendampingi pertumbuhan baik secara phisik maupun psikis anak menjadi sangat penting ketika kita berharap generasi mendatang menjadi generasi yang pintar, cakap, tangguh dan santun. Ini disebabkan karena seorang ibu, memahami betul tentang anaknya. Bukankah Ibu dan Anaknya tersebut pernah mengalami ”hidup bersama dan tak terpisahkan” selama sembilan bulan saat ia mengandungnya? Sebagaimana difirmankan Allah SWT “…Waham luhu wafisa luhu syalaa-syuna syahron….” (…mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,…) (QS. Al – Ahqaaf : 15). Disamping itu seorang Ibu pula yang memberi kehangatandan kasih sayang yang pertama kalinya untuk kehidupannya, dengan memberi asupan makan dengan ” ASI ” nya, Fimna Allah SWT : “Walwalidatu yurdzikna auladahunna khaulaini kaamilaini…“ (Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan - QS. Al-Baqarah : 233 ).

Jadi dari sinilah mestinya antara Ibu dan anaknya sudah ada ikatan psikologis yang kuat, sehingga kondisi ini memberikan modal yang besar bagi proses internalisasi kehidupan spiritual, sosial dan budaya seorang anak.

Ketika lahir, seorang anak merupakan makhluk yang tidak berdaya dan amat tergantung pada orang yang terdekat dengan dirinya. Dan, orang terdekat itu adalah ibunya, karena kebutuhan pangannya harus dipenuhi dari air susu ibunya. Menurut Neuman (1990) usia 20-22 bulan merupakan masa penting hubungan ibu-anak dan pembentukan diri individu, yang disebut Neuman primal relationship yaitu hubungan yang terbentuk diawal kehidupannya.

Dalam pandangan ahli social learning maka apa yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya merupakan proses yang pengadobsian perilaku dan sikap oleh si anak melalui proses social-modelling, model-model kehidupan social yang diperankan oleh ibunya. Bagaimana suasana ibu mengasuhnya, apakah dengan penuh kelembutan dan kasih sayang atau apakah dengan kasar dan amarah serta penolakan akan membentuk perilaku manusia muda tersebut dikemudian hari. Itulah sebabnya posisi Ibu adalah sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi manusia.

Tumbuhnya kesadaran akan pentingnya tugas-tugas ibu dalam memberikan pendidikan dan pembimbingan terhadap anak-anaknya yang tak tergantikan oleh siapapun ini, sudah menjadi gerakan baru di negara maju, seperti Amerika, yang merupakan pencetus pertama kali gerakan feminisme, (yaitu gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria) yang dipelopori oleh aktivis sosialis uotpis Charles Fourier pada tahun 1837

Kini mereka menggiatkan gerakan kembali kerumah atau “ back to family “, hal ini dipicu oleh meluasnya syndrome “Cinderella Complex” yaitu perasaan yang gamang sebagai “public women”. Untuk mewujudkan keinginannya itu, mereka mendirikan kelompok yang ia beri nama “Moms Offering Mom Support Club“ Tahun 1983, kemudian karena responnya bagus maka tahun 1984, didirikannya Yayasan “Mothers at Home”, kemudian ada lagi Yayasan “Mothers & More” yang didirikan tahun 1987, dan resposnnya terus meningkat. Dari semua ini, yang penting kita ambil pelajarannya adalah, bahwa pandangan dunia kepada kaum ibu telah mengalami perubahan paradigma, bahwa perannya sebagai ibu dari anak-anaknya tetap menjadi penting tak bisa tergantikan, walau ia menjadi wanita karir dibidangnya masing-masing. Di Indonesia, saat memperingati Hari Ibu 22 Desember 2004, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengkampanyekan “Gerakan Kembali Ke Rumah” (al ruju' ila al usroh). namun gaungnya kurang mendapat respon dari kaum ibu sendiri (Republika, 16/12/2004).

Kembali ke rumah, melakukan fungsi domestiknya, tidak selalu diartikan melepas perannya diwilayah public. Tetapi yang penting adanya penyadaran dini bahwa, naluri keibuannya dibutuhkan oleh anak-anaknya dirumah. Pada aspek psikologi perkembangan anak, untuk memahi keseluruhan karaketeristik dan pola tingkah laku anak, perlu dilakukan penelusuran kemampuan sumber pembawaan dan kemampuan sumber perolehan. Kemampuan bawaan atau kapasitas seseorang anak dipengaruhi oleh genetikanya, dan kemampuan yang diperoleh karena proses belajar atau abilitas (seperti internasilsasi, sosialisi, interaksi, edukasi dan advokasi, dll). Faktor Kapasitas dan abilitas anak sangat dipengaruhi oleh factor keturunan, factor lingkungan, factor sosiso ekonomis atau hygienis baik pada masa prenatal (masih dikandungan) maupun postnatal, setelah dilahirkan.

Membentuk prilaku anak yang sehat dan produktif, yang dilakukan melalui proses abilitas atau belajar akan menampakkan pengaruhnya pada tingkah laku yang bersifat koknitif, konatif, afektif, dan motorik yang dimanisfetasikan dalam bentuk pengetahuan, pengertian, kebiasaan, ketrampilan, apresiasi, emosional, hubungan social, jasmani, etis/budi pekerti dan sikap/attitude. Dan semua itu tidak cukup diperoleh dari pendidikan formal baik mulai jenjang PAUD (pendidikan anak usia dini) atau apapun namanya sampai jenjang tertinggi. Lebih-lebih dalam kondisi sekarang ini, berkembang persepsi umum, bahwa kecerdasan intelektual yang mengandalkan kemampuan berlogika menjadi target pendidikan yang diburu para orang tua untuk anaknya.

Orang tua merasa bangga dan berhasil mendidik anak, bila melihat anak-anaknya mempunyai nilai rapor yang bagus, menjadi juara kelas. Tentu saja hal ini tidak salah, dan menjadi harapan setiap orang tua, tetapi tidak juga benar seratus persen. Karena beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual (SQ) berkontribusi lebih besar bagi “kesuksesan hidup” seorang anak. Penelitian Daniel Goleman (1995 dan 1998) memperlihatkan bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi kontribusi 20 persen terhadap kesuksesan hidup seseorang. Yang 80 persen bergantung pada kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritualnya. Bahkan dalam hal keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya berkontribusi empat persen. Kecerdasan emosional, kecerdasan social dan kecerdasan spiritual ini, banyak membutuhkan peran orang tua, lebih-lebih peran ibunya.

Dalam memperingati hari Ibu 22 Desember 2010 ini, mari dimaknai dengan merenung kembali tentang gagasan “Gerakan kemabali Ke Rumah”, atau mengapa negara-negara maju seperti AS telah melakukan gerakan yang tidak populis dengan “back to family”. Tentu semua ini berkaca dari perkembangan kondisi jaman yang yang telah berbalik arah, bahwa ketidak berdayaan anak yang tanpa pendampingan orang tua, memliki kecenderungan terjadinya kemerosotan kemampuan emosional maupun social dasar. Anak cenderung menjadi pemarah, pemurung, gampang resah, emosinya labil dan kurang patuh.

Harus kita akui, bahwa generasi bangsa kini banyak menampilkan anak-anak cerdas, bahkan mampu menunjukan kecerdasannya di tingkat dunia dalam berbagai bidang keilmuan dan ketrampilan. Namun tidak bisa dipungkiri, seperti data yang dilansir BKKBN maupun Kementrian Kesehatan seperti diatas, banyak juga anak generasi bangsa ini yang terjerumus maka tindak criminal, penyalahgunaan narkoba, sek bebas, anarkhis, tawuran, dan memeiliki kenekatan yang tinggi dalam bunuh diri, yang selalu sudah menjadi konsumsi sehari-hari belalui berita di layar tv.

Akhirnya, Selamat Hari Ibu tahun 2010, kita selalu memohon agar kita dianugerahi anak-anak yang soleh dan soleha "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Al-A’faar : 189).

Marilah kita panjatkan do’a kehadirat Allah SWT demi anak-anak kita seperti do”a Lukman untuk anak-anaknya : “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “ ( QS. : Lukman : 17-18) ***(Malang, 20 Desember 2010)


Label: