Kembali Ke Fitrah

20.30 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



KEMBALI KE FITRAH
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu kutiba 'alaykumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alaalladziina min qoblikum la'allakum tattaquun
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(qs. Al baqarah [2]:186)

Jamaah netizen  rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pernah pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi-dan nikmat umur walau sudah terukur dan nafas-nafas yang terbatas, kerena ...sekali-kali tidak diperpanjang umur seorang, dan tidak pula dikurangi umurnya melainkan sudah (sudah sitetapkan) dalam kitab (lauh mahfutzh) (qs. faathir [35]:11 )
·      Wa an jismihi,  serta nikmat badan yang sehat  mohonlah kepada Allah kesehatan, sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (HR. Ibnu Majah)
·      Rasulullah saw berpesan kepada Ibnu Abbas ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang  (artinya, saat-saat sehat dan waktu senggang orang sering menggunakannya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan terlarang). (hr. Bukhari).   Dan Rasululloh saw berpesan kepada Ibnu Umar (ya untuk kita juga), "… manfaatkanlah waktu sehatmu  sebelum datang waktu sakitkanmu…."
·      Sehingga dengan semua nikmat itu, kita diringankan langkahnya untuk hadir di majelis ilmu ini dalam rangka  melaksana seruan rasuulloh saw “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (hr. Muslim).... Amien.
·      Washolaatu wassalamu ‘ala asyrofil anbiyaa’i wal mursaliin _ solawat serta salam semoga selalu tercurahkan  kepada junjungan penghulu alam-nabi besar muhammad salallaahu alaihi wassalam.
·      Wa ‘alaa alihi washokhbihi aj ma’iinn - berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya semuanya dan para umat yang selalu mengikuti sunnah-sunnahnya. Semoga pada yaumil hisab nanti kita mendapatkan syafaatnya....... Amien.

Jamaah netizen  rohimatullah
·      Banyak sudah fadilah dan keutamaan dari shaum romadhon yang kita ketahui, semoga ibadah kita selama bulan romadhon diterima oleh Allah SWT dan membekas lekat pada kalbu kita sehingga sebelas bulan kedepan apa yang sudah menjadi kebiasaan dibulan romasdhon bisa tetap kita pertahankan.
·      Hadits  dari abu hurairah ra, rasulullah saw bersabda: “auwaluhu rahmah”  -awal bulan ramadhan adalah rahmah, wa-ausathuhu maghfiroh  -pertengahannya maghfirah, wa akhiruhu itqun minan-nar”.   Dan akhirnya itqun minan nar (pembebasan dari api neraka)”.
·      Dari 3  fase itu, bila sempurna ibadah shaum kita insya-Allah hikmahnya 11 bln kedepan terhadap umat muslim adalah :
~Menjadi penyayang kepada sesama dan lingkungannya (belajar dari rahmad Allah)
~Menjadi  lapang dada dan pemaaf (belajar dari maghfiroh Allah)
~Dan selalu selalu menjaga agar dijauhkan dari api neraka (terlatih saat shaum, inqun minan-nar... Amien.
Shaum, meningkatkan kualitas  keislaman seseorang
·      Bulan romadhon dengan berbagai fadilah dan keutamaan yang menyertainya,  juga sebagai wahana untuk meningkatkan kualitas keislaman, keimnan, ketauhidan, ketaqwaan.
·      Setidaknya ada 3 kondisi yang mendukungnya.
Pertama, Meningkatnya Maqom Keislaman
·      Dengan melaksanakan ibadah shaum, meningkat maqom keislaman kita, dari “maqom muslimun” meningkat ke “maqom mukminun”  karena allah memerintahkan shaum romadhon hanya kepada yang beriman “yaa ayyuhalladziina aamannu “ bukan yaa ayyuhal muslimun atau yaa ayyunnas.
·      Insya allah akalu shaumnya sempurna, akan meningkat maqonya ke “maqomam-mahmudah” maqom yang mulya disisi allah yaitu “maqom muttaqin” karena target shaum somadhon adalah “laa’alakun tattaquun”
Ø Karena, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi allah, ialah orang yang paling taqwa diantara kamu./….inna akromakum ‘indallohi atqookum. (qs. Al-hujarat_49:13).

Kedua, Meningkatnya Kecerdasan Qolbiyah (QQ)
·       Syahrul romadhon sebagai  syahrut tarbiyahtul bisa meningkatkan kecerdasan qolbiyah, terutama pada “irodah syar’iyyah diniyah”.
·       Dalam irodah kauniah qodari, Allah “berkehendak” manusia hanya menerima apa yang telah dikehendaki atau ditakdirkan Allah swt, tidak mampu menolaknya,  misalnya saya  dilahirkan sebagai orang jawa dengan kulit sawo mentah tidak bisa minta dan tidak bisa menolak.
Ø Irodah kauniah qodari itu, misalnya :  innamaa amruhu idzaa arooda syay-an an yaquula lahu kun fayakuun [sesungguhnya keadaan-nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "jadilah!" maka terjadilah ia]. (qs. Yaasin [36]: 82)
·      Dalam irodah syar’iyyah diniyah, Allah menciptakan isi alam dengan berpasangan, ada baik dan buruk, ada taat dan  ingkar, ada halal dan haram, dst.
Ø Manusia diberi kebebasan untuk memilih dan akan mendapatkan imbalan pahala sesuai dengan perbuatan pilihannya. 
Ø Agar tidak salah dalam memilih apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan,  Allah telah menyiapkan “buku panduan” berupa “Kitabullaoh al Qur’anul Kariim- yang merupakan hudanlinnaasi -walfurqoon”
Ø Irodah syar’iyyah dhiniyah ini, dalam bahasa gaulnya “lu ingkar ama perintah Allah—tuh neraka balesannya, lu baik taat ama perintahNya – tuh syurga balesannya” up to you !!!.
·      Manusia dilengkapi dengan kemauan yang menuju pada kebaikan (maunah qolbiyah/mengikuti bisikan hatinya) dan kemauan yang mengarah kepada keburuka yang dikendalikan oleh nafsu (mutmainah/keutamaan, aluamah/serakah dan amarah),
·      Maunah qolbiyah akan terus dibina oleh keimanannya, dan berpacu dengan maunah nafsiah yang banyak maunya....
Ø Orang itu kalau ditanya “apa yang ia mau” jawabnya mesti “apa-apa mau”   Coba kalau lagi jalan-jalan ke mall, yang dilihat rasanya pingin semua yang  dilihat pinginnya dibeli, ... Sayangnya fulus didompetnya cupet jadi ya harus ngempet......
·      Nafsu dalam diri manusia sudah menjadi irodah kauniyah qodari, maka harus diterima, yang harus dilakukan adalah  selalu dibimbing dengan keimanan.
·      Nafsu untuk “menjadi orang kaya” tidak salah, orang bilang nggak usah ngumpulin harta, toh tidak bisa dibawa mati.  Ungkapann ini ada benarnya kalau cuma untuk dikumpulin
·      Yang harus dilakukan adalah “hartanya” diajak untuk ikut beramal soleh, untuk mengoptimalkan ibadahnya,
·      Kalau banyak harta biasa naik haji bisa kapan saja, bisa nyumbang pembangunan masjid dalam jumlah yang signifikan, bisa memberi santunan anak yatim, fakir miskin para dhuafa, dll.  Inilah wujud harta yang kita punya yang kita bawa mati nanti, yaitu amal sholeh dari harta kita.
·      Dalam mencari harta, hendaknya dijauhkan dari nafsu aluamah / keserakahan, dan mencari harta yang halalan thoyyibah. Mencari yang baik - dengan cara yang baik, dan istiqomah dengan kebaikannya.
·      Yang sering terjadi, setelah banyak harta jadi  sombong, pelit bin kikir dan jauh dari rasa bersyukur seperti qorun dengan mengatakan “qoola innamaa uutii-tuhu 'alaa 'ilmin.qorun berkata: "sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku".  (al_qoshash (28:78)
·      Di bulan romadhon yang merupakan syahrut tarbiyatul irodah, untuk mendidik dan membina “kecerdasan spiritual/SQ dan kecerdasan qolbyah/QQ”,
·      Sehingga irodah kauniyah dalam bentuk “qolbu yang penuh iman” terus dapat mengendalikan “nafsu” mengecilkan nafsu alumah/serakah dan amarah, mengembangkan nasfu mutmainah/keutamaan
·      Makanya dibulan romadhon biasanya ‘amal sholeh atau amal kebajikan  mendapat lahan subur untuk tumbuh bak jamur dimusim becek.
Ø Misalnya, banyak orang tiba-tiba jadi dermawan (yuk nyumbang mumpung bulan puasa), banyak orang sangat menjaga perkataannya-ucapannya – perilakunya.
·      Kalau ini bisa dipertahankan terus sampai 11 bulan berikutnya sampai ketemu bulan romadhon lagi, untuk kemudian nge “cas” lagi,  Maka insya allah, kita mengakhiri hidup ini dengan khusnul khotimah, yang dipanggil Allah dengan kelembutan :
Yaa ayya-tuhan-nafsul muthma-innah
Hai jiwa yang tenang.
Irji'ii ilaa robbiki roodiyatan mardhiyyah
Kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-nya.
Fad khulii fii 'ibaadii
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-ku,
Wadkhulii jannatii
Masuklah ke dalam syurga-ku.
(QS. Al Fajr [89]: 27-30) :

Ketiga, Serasa didekatkan dengan  “aroma” syurga,
·      Bulan romadhon, sangat diistimewakan oleh allah swt, bertebaran “bonus” dari allah swt, seolah umat muslim sedang didekatkan dengan “aroma” surga allah, dan dijauhkan dari “panasnya” neraka.
·      “jika datang ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (hr. Muslim)
·      Allah swt menyiapkan khusus bagi yang shaum romadhon salah satu surha dari 8 jenis surganya, yaitu surga ar-royyan : “siapa yang termasuk ahli puasa, akan dipanggil dari pintu surga ar-royyan.” (hr. Bukhari muslim)
·      Shaum romadhon akan menjadi saksi amal sholeh pada yaumil hisab nanti  :”...puasa berkata, ‘wahai rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.’ (hr. Imam  ahmad dalam musnadnya, no. 6626 dari jalur ibnu umar)
·      Sebagai puncak kenikmatan dari pahala shaum romadhon adalah, bertemu dengan allah swt : “bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya dengan allah karena ibadah puasanya.” (hr bukhari)

Keempat,  Mengembalikan Manusia  Kepada “fitrahnya”
·      Puncak kesempurnaanya shaum kita akan tutup dengan “idul fitri”  kembali kefitrah manusia.  barangsiapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan penuh dengan penuh keimanan kepada allah maka apabila ia memasuki idul fitri ia akan kembali menjadi fitrah seperti bayi dalam rahim ibunya”. (hr bukhari).
Ø Dulu jaman jahillah (persia kuno) mereka punya 2 hari raya, ‘’nairuz dan mahrajan yang dirayakan dengan tari-tarian dan mabuk-mabukan.
Ø Hadis yang diriwayatkan abu dawud dan an-nasa’i, rasulullah saw bersabda, ’sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni idul fitri dan idul adha.’’
Ø Hari raya idul fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat islam, pada 17 ramadhan 2 hijiriyah. (selepas kemenangan dalam perang badar (319  tentara muslim melawan 1000 kaum qurais)
ADA 2 MAKNA, “KEMBALI KE FITRAH” TERSEBUT :
Makna yag pertama,  kembali ke-fitrah ketauhidan ruh,
·      Pada hakekatnyanya manusia dilahirkan dalam keaadaan bertauhid kepada Allah swt, karena sebelum ruh ditupkan kepada janin manusia itu sudah dimintai kesaksiannya oleh Allah swt.
·       Allah mengumpulkan ruh-ruh “calon manusia” ini,  “....wa-asyhadahum 'alaa anfusihim_mengambil kesaksian dari mereka, seraya berfirman : “alastu birobbikum” – apakah aku ini tuhanmu ? Mereka menjawab :  balaa syahidnaa – betul (engkau tuhanku) kami menjadi saksi (diceritakan dalam QS Al A’raf (7:172)   Setelah membuat kesaksian tentang Allah selanjutnya satu persatu ruh tersebut dihembuskan allah kedalam rahim ibu “ Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As Sajadah (32:9)
·       Kapan ditipukannya ? Para ulama menghitung 120 hari sejak pertama kali janin terbentuk.  Dihitung dari ketiga masa , bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovom)  40 hari, menjadi ‘alaqoh  (segumpal darah)  40 hari, dan menjadi mudhghoh (segumpal daging)   40 hari, sehingga ketiga masa itu selama 120 hari
·       Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya,  ajalnya,  amalnya,  dan celaka  atau bahagianya.  (HR. Bukhari muslim) ---- Dari sini banyak orang selamatan kehamilan itu pada bulan keempat,... Bukan bulan ketujuh.
·      Fitrah  ruh,  fitrah bertauhid kepada Allah swt, baik  tauhid rubbubiyyah,  mengimani hanya allah yang maha mencipta, menguasai dan mengatur alas semesta ini, sehingga konsekuensi logisnya adalah tauhid secara  ulluhiyyah,  mengimani hanya allah yang patut disembah dan dan dimintai pertolongan.
·      Kedua ketauhidan ini, sudah menjadi komitmen dalam setia sholat kita ucapkan “ iyyaaka na’budu/hanya kepada engkau kami menyembah); wa iyyaka nasta’in/dan hanya kepada engkau kami minta pertolongan (QS. Al-Fatihah (1:5)
·      Apakah komitmen selama ini kita pegang teguh, kadang masih banyak yang suka “sesaji untuk minta pertolongan” kepada yang kuasa selain Allah, misalnya untuk mendapatkan jabatan atau proyek masih harus menyogok/menyuap memberi gratifikasi agar mendapatkan “pertolongan dari yang berkuasa” terhadap hal itu.  Ini adalah bentuk jahiliyah modern dengan “sesaji” yang sudah bermutasi sesuai jamannya, tujuannya sama, mengharap ‘pertolongan terhadap yang berkuasan, dalam hal ini manusia.
·      Atau juga masih suka dengan khurafat , tahayul, mistik, kahin (dukun), arraf (peramal),  munajjimun (astrolog/ ramalan bintang) , tathoyyur ( berprasangka sial, misalnya kejatuhan cicak bakal sial, ada gagak hitam bakal ada yang meninggal, dlll)
·      Padahal Allah  tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-nya, (QS. Al jiin [72]:26-27)  Kalau ada bisa melihat jin, iblis, gondoruwo, itu tipudaya setan, .....setan  melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. ( QS. Al A’raaf [7]:27 ), j
·      Hati-hati :  barangsiapa yang datang ke tukang ramal (kahin, arraf, munaj-jimun) lalu mempercayai apa yang dikatakan maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. (hr. Muslim no. 2230).
·      Masih banyak yang sering melakukan ritual budaya yang tidak ada tuntunannya baik dalam Al Qur’an maupun sunnah Rasul, seperti kita mengerjakan sesuatu hanya karena semua orang melakukannya, meisalnya, kalau ada yang melahirkan ari-arinya ditanam kemudian dikerobongi dan diberi lampu, kalau ditanya kenapa gitu, gak tahu semua orang juga melakukan, sebenarnya kita ini mau ber i’ttiba’ kepada Rasul apa berittiba’ kepada jamaah/orang banyak.
·      Idul fitri, mengembalikan manusia kefitrah ruhnya yaitu fitra ketauhidan, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shaum, dalam perjalanan hidup 11 bulan sebelumnya ada kemungkinan iman kita kecampuran kesyirikan
·      Apakah itu syirik besar (menyekutukan Allah),  ada seperti :
~     Syirik  ibadah, dalam berdo’a selain kepada Allah terselib kepada selain allah,  baik saat  isti’anah (minta tolong), istighotsah  (minta tolong di saat sulit)Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya1159; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS. al Ankabut [29] :65) “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi [18]:110)
~     Syirik niat, menunjukan suatu ibadah tidak semata kepada Allah “ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.  Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS al Huud [11]:15-16)
~     Syirik keta'atan, menta'ati selain Allah, ketaatannya memelbihi ketaatan kepada allah (kadang lebih taat kepada adat dari pada syariat)  Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah639 dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan  (QS At Taubah [9]:31)
~     Syirik mahabbah (kecintaan), menyamakan selain Allah dengan dalam hal kecintaan (misalnya mencintai hartanya atau anaknya lebih diatas mencintai Allah) “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). “(QS. Al Baqarah [2]:165)

·      Atu Apakah  itu syirik kecil, memang syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (jalan, perantara) kepada syirik besar. Misalnya :
~        Syirik zhohir (nyata), yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan, dalam bentuk ucapan misalnya bersumpah dengan selain allah ta’ala “barangsiapa bersumpah dengan selain nama allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” [hr. At-tirmidzi (no. 1535) dan al-hakim (i/18, iv/297), ahmad (ii/34, 69, 86) dari ‘abdullah bin ‘umar radhiyallahu anhuma
~        Contoh lain syirik dalam bentuk ucapan yaitu perkataan:
مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ.
Maasyaa alloh wa syiauta
Atas kehendak allah dan/wa kehendakmu
( ini ucapan yang salah)

مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ.

Maasyaa alloh tsumma  syiauta
Atas kehendak allah kemudian /tsumma  karena kehendakmu (ini ucapan yg betul)
~        Hadits dari ibnu ‘abbas r.a ) (baca at takwir [81]:29) -
~        Contok syirik dalam perbuatan, seperti memakai gelang, akik , kalung, jimat, dll yang dipercayai memberi keselamatan, rejeki karir dll.
·      Syirik khafi (tersembunyi), syirik dalam hal keiginan dan niat, seperti riya' (ingin dipuji orang) dan sum'ah (ingin didengar orang), misalnya berlama-lama dalam sholat saat dilihat orang agar dibilang khusu’ (ingin pujian), atau bershadaqah dengan mengundang rame-rame kerumahnya agar dipuji sebagai dermawan. Dll
·      Ancamannya, “...innallooha laa yagh-firu an yusyroka, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, (QS An-Nisaa’ [4]:48) .... Kecuali dengan tobat nasuha...

Makna yang kedua, Kembali fitrah-suci tanpa dosa seperti saat dilahirkan, 
·      Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, :“maa min mauludin illaa yuu-adu ‘allaa fitroh - setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah.
·      Kalau kemudian terjadi perubahan aqidah, apakah menjadi Yahudi (yang dimurkai Allah) atau menjadi nashoro (yang sesat), sebagaimana ditegaskan dalam surah al fatihan: ghoyril maghdhuubi'alayhim walaadh-dhoolliin - bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
·      Itu semua karena :  kedua orang tuanyalah yang membuatnya-fa-abawaa hu yuhau wadaa nihi ...  Wayu-nashshoroo nihi - menjadi seorang nasoro/nasrani...wayumaj-jasaa nihi - menjadi seorang yahudi maupun seorang majusi.) (HR. Imam Malik, Imam Achmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim)
·      Manusia tumbuh di lingkungan sosialnya, karena memang manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa terpisah dari lingkungan sosialnya, namun justru itupula maka lingkungan sosial punya andil “mengotori” jiwa yang suci pada jabang bayi tersebut.
·      Pada dewasa ini, polusi lingkungan sosial sudah pada tingkat “masif dan sistemik”, Lihat saja perilaku sosial yang jauh dari aqidah dan syariat islam sudah secara kasat mata ada didepan kita.   Sekarang ini yang namanya kebohongan sudah merambah sampai pada wilayah dapur... Beras palsu, kemiri palu, kecap palsu, daging palsu, telur palsu
·      Dengan ibadah shaum, yang penuh keimanan dan keikhlasan semata-mata karena Allah, akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali seperti bayi yang tanpa dosa :  Man shooma romadhoona  Imaanan wakhti saaban –  Ghu-firo-lahu maa taqod-dama - min dzam bih  “barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena keimanan dan hal mengharap pahola, dosa­-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Hadits dari Abu Hurairah r.a, diriwayatkan Bukhari-Muslim )
·      Kemudian disempurnakan saling memaafkan, sambil bersilaturahmi setelah sholat ied. Seharusnya saling memaafkan juga dilakukan sebelum memasuki romadhon, sebagaimana hadist shahih yang menerangkan bahwa malaikat jibril berdo’a : ya allah, abaikan puasa umat nabi muhammad saw, apabila sebelum ramadhan dia belum: memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup.  Bermaafan antara suami istri; bermaafan dengan keluarga kerabat serta orang sekitar.”
·      Yang perlu diperhatikan, seringnya pada momen untuk saling memaafkan akad ucapannya tidak mengandung makna yang substansial tentang “minta maaf” atau “memaafkan”. Misalnya dengan mengucapkan “Selamat hari taya,  lahir bathin ya, atau selamat lebaran ya”, semua itu tidak ada akad untuk minta maaf atau memaafkan, padahal kesempurnaan kembali fitrah itu, selama sebulan ibadah shaum urusan dengan Allah sudah mendapat maghfiroh/ampunan, tetapi dengan sesama manusia harus kita selesaikan dengan manusia, yaitu saling memaafkan...
·      atau “tahniah” (ucapan selamat) dengan kata “minal ‘aidin wal faidzin” (kita kembali dan meraih kemenangan). Kita kembali kemana, kalau sebelumnya ahlul maksiyat, masak mau kembali lagi, jangan-jangan karena ucapan ini, orang yang sudah beribadah puasa selama sebulan penuh, abis puasa kembali lagi keasalnya, asalnya peminum habis puasa kembali jadi peminum lagi......heheee semoga tidaklah.
·      Ada kebiasaan yang harus diluruskan dalam mengucapkan saat iedul fitri, seperti minal ‘aidin wal faidzin” (kita kembali dan meraih kemenangan).  Kita kembali kemana (kalau sebelumnya ahlul maksiyat, masak mau kembali lagi),
·      Karena itu dalam “tahniah” pasca romadhon ini, hendaknya akadnya harus jelas “mohon maaf lahir dan batin” kemudian diteruskan dengan mendo’akan sebagaimana dalam hadits dari Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan, “dari Jubair bin Nufair; beliau mengatakan, ‘dahulu, apabila para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saling bertemu pada hari raya, mereka saling mengucapkan, taqabbalallahu minna wa minkum.” (semoga Allah menerima amal kami dan kalian)  (sanadnya hasan; fathul bari, 2:446), dan biasanya djawab “taqobbal ya kariim”
·      Semoga kita termasuk golongan umat yang telah meningkat keimanannya, sehingga pantas sebagai pewaris syurganya allah ta’ala yang dijanjikan allah ta’ala tersebut.. Amein.
·      Sebagai penutup mari kita renungkan sindiran dari allah swt : dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,…. Walaa takuunuu kallatii naqadhat ghazlahaa min ba'di quwwatin ankaatsan tattakhidzuuna (qs. An nahl (16) : 92 :)
·      Apa yang sudah kita ‘pintal’ dibulan romadhon, misalnya kita pintal ‘benang-benang’ syiam, qiyamul lail, sodaqoh, tilawatil qur’an, maashshobirin, dan ibadah-ibadah lain sehingga menjadi ‘kain’  pembungkus sebagi muttaqin, setelah usai romadhon jangan di urai lagi “bebang-benang ibadah’ tersebut, sehingga yang didapat hanya tumpukan benang kusut. 
Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh


Label: