Muhassabah

02.50 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



( yang selalu bermuhassabah)

Bissmillaahirrahmaanirrahiim
Assalaamualaikum wr wb
Alhamdulillaah
Alhadulillahil jabbaril qohhar,
Al azizil ghoffar,
Kholitil jannati wan naar,
Wash-sholatu wassalaamu
‘ala muhammadinil muchtar,
Wa ‘ala alihi wa askhabihi ab khaar
Robbisy-rohlii shod-ri /
Wa yas-sirlii  amri /
Wahlul ‘uqdatam-millisanii/
Yaf qohuu – qoulii /
Robbi -zidnii ‘ilman /
War zughni  fahma./
Amma ba’du
Majelis Nitezen Rohimatullooh,
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
·      Sebelumnya saya ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga saya serta para jamaah netizen semuanya.
 “ ... yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.  (QS Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan berbaring,
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara sempurna)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alas an belum mampu melaksanakan, misalnya meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nelum bisa dilaksanakan karena belum mampu meninggalkan kebiasaan itu. Ya Tidak bisa gitu  bro!!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(HR.Bukhari dan Muslim).
·      Dakwah bit Tadwin (dakwah tulisan) ini untuk melaksanakan Perintah Allah SWT : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung”  (QS. Al-Imran [3]: 104),
·      Dan Sabda Rasululloh SAW : “Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul Islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Majelis Nitezen Rohimatullooh,
Parameter Orang Pandai
·      Ketika kita masih kecil, maka orang tua kita sering mendoakan kita menjadi orang yang pandai atau pintar. Memang kepandaian merupakan satu hal yang menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Bahkan kepintaran dijadikan iklan obat anti masuk angin.
·      Orang selalu mengghubungkan kepandaian dengan berdasarkan IQ, kalau hanya ini tolok ukurnya kasihan orang yang IQ nya rendah mereka tidak akan pernah menjadi orang pintar. Bahkan kepintaran dijadikan iklan obat anti masuk angin.
·      Dalam perspektif Islam, kepandaian itu dapat dimiliki setiap orang karena kepandaian atau kepintaran menurut Islam adalah orang yang selalu menghisab/ mengevaluasi dirinya dan beramal untuk bekal kehidupan sesudah mati.
·      Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda :
“Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
Ada 2 parameter orang pandai
·      Jadi ada dua parameter orang yang pandai yaitu orang yang sering bermuhasabah dan melakukan amal untuk persiapan setelah meninggal.

Ber-Muhasabah
·      Muhasabah dari kata hisab yang berarti perhitungan atau melakukan evaluasi.
·      Karena kesibukan beraktifitas,  kita terkadang lupa melakukan muhassabah/instropeksi, menghisab bagaimana progres amalan sholihan kita, sehingga kita bisa cepat melakukan perbaikan kedepan.
·      Allah SWT telah memerintahkan agar sering melakukan muhassabah.
QS. Al-Hasyr [59: 18]:
yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullooha waltanzhur nafsun maa qoddamat lighodin wattaquullooha innallooha khobiirun bimaa ta'maluun
[59:18] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
·      Sahabat Umar r.a. berkata: Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.”
·      Pernyataan sahabat Umar r.a. diatas bermakna bahwa semakin sering kita melakukan muhasabah maka semakin lebih sering memperbaiki diri dan semakin ringan hisab di yaumil akhir. Oleh karena itu, muhasabah bisa dilakukan tiap hari, pekanan, bulanan atau tahunan.
·      Muhasabah tidak hanya bermanfaat untuk akhirat tapi juga untuk kehidupan dunia. Bill Gates, seorang milyuner, selalu menyempatkan untuk beristirahat seminggu atau “think week” dalam enam bulan sekali dari kepenatan di perusahaannya, Microsoft.
Dia akan beristirahat disuatu tempat yang sunyi dan membaca buku sekitar 18 jam sehari. Dari kesempatan untuk berkontemplasi tersebut, muncul ide-ide segar dalam pengembangan software.

Beramal untuk Bekal
·      Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan.
·      Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmidzi  ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’  muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.
·      Orang yang pandai bukan hanya bisa bekerja atau mengumpulkan harta, tetapi orang yang juga beramal sholeh untuk hari kemudian.
·      Orang tersebut akan sibuk beraktifitas dan juga berinfaq atau membantu sesama agar mendapatkan pahala di hari akhir.
·      Dalam surat Al Qashash 77, Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
·      Bahkan dalam ayat ini disebutkan keutamaan terhadap bekal di dunia, dengan tidak melupakan kebahagiaan di dunia.
·      Beginilah pola hidup yang patut ditiru sehingga terjadi keseimbangan dalam kehidupan kita agar kebahagiaan di dunia dan akhirat bisa diraih.
·      Secara ringkas, kepandaian yang hakiki dapat dicapai oleh setiap orang. Kepandaian itu dapat digapai dengan melakukan muhasabah secara berkala dan beramal untuk kehidupan di dunia dan akhirat.
·      Semoga kita mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk menjadi seorang muslim yang pandai.
Urgensi Muhasabah
1. Mempersiapkan diri pada Yaumil Hisab
Khalifah Umar bin Khattab r.a. mengemukakan: “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”.
2. Sebagai wujud ketaqwaan
Sementara Maimun bin Mihran r.a. seorang tabiin yang cukup masyhur,  wafat pada tahun 117 H. mengatakan: ‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
3. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri
Setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.
Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].

Aspek-aspek Muhasabah
1. Aspek Ibadah
Aspek ibadah harus selalu dilakukan muhassabah, karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini.
[QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]
wamaa kholaqtul jinna wal-insa illaa liya'buduun
[51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Ibadah Sholat, menjadi tolok ukur amal ibadah yang lain, karena sholat merupakan ibadah yang pertama kali diperhitungkan dalam hisab kelak di akhirat.
Dari Anas ra, bahwa Rosululloh saw bersabda :
Awalu maa yukhaasabu bihil-abdu yaumal qiyaamatis-sholaah, Yundzoru fii-sholaatihi fain-shoolukhat, Fakot af-lakha wain-fasadad Khooba  wa khosir
Permulaan amalan yang diperiksa dari seorang hamba pada Hari kiamat ialah sholatnya, Diperhatikan benar-benar sholatnya. Maka jika urusan sholatnya baik, ia mendapatkan kemenangan. Jika urusan sholatnya tidak baik, rugi dan sia-sialah usahanya. ( HR Ath-Thabarani ).

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek kedua berkaitan dengan kegiatan usaha atau pekerjaan dan rezeqi yang diterima.
ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan kurang dilakukan evaluasi oleh kebanyakan kaum muslimin.
Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)

3. Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia.
Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadits, Dari Abu Hurairah ra, bahwa :
§  Rasulullah saw. Bersabda :‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (mufis)  itu?’
§  Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’
§  Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim) Na’udzubillah min dzalik.

3. Aspek Dakwah
§  Dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol-simbol islami, tetapi secara substansinya memiliki makna yang yang dalam tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar.
§  aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan

Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallohumma
wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh

Label: