Aktualisasi Kalimah Syahadat

02.44 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



AKTUALISASI
 KALIMAH SYAHADATAIN
( Kuliah Subuh Online)
http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif
Ass wrwb
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
syahidallaahu annahu laa ilaaha illaa huwa walmalaa-ikatu wauluu l'ilmi qaa-iman bilqisthi laa ilaaha illaa huwa l'aziizu lhakiim
[3:18] Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu188 (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 (Qs. Ali Imran (3:18)
Majelis netizen rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah Allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al israa’-78, oleh Rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan Allah....(hr. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam,  sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(hr.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (Al Ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (QS. Ali Imran 104)
·      Dan  kata Rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan allah ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri watansawna an-fusakum  wa-antum tat luunal kitaaba Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 surah al baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis netizen rohimatullah
·       Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam.
·       Rasululloh saw menegaskan dalam hal ini : Dari Abi Abdi ar-Rahman bin Ibnu Umar Ibni Khattab Ra. Berkata : “ Aku telah mendengar bahwa Rasulullah Saw pernah berkata “ (( Islam dibanun di atas lima perkara yaitu mengucapkan syahadat tidak ilah selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah serta mendirikan shalat menunaikan zakat shaum di bulan ramadhan dan menuaniakan haji ke Baitullah.) “
·      Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari dua kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat).    Dua kalimah syahadat itu laksana ‘anak kunci’ yang dengannya manusia masuk kedalam alam keselamatan (keislaman), dan dengan kalimat itu pula manusia dimasukkan ke surga, kalau kalimat itu menjadi ucapan di akhir hidupnya.
·      Kata sekaten (sekatenan) bermula dari Syahadatain, konon Raden Patah Adipati Demak Bintoro, mengundang para walisongo untuk penyebaran Islam di Jawa. Sunan Kalijogo mengusulkan menggunakan media budaya setempat, dan disepakati sepanjang tidak menyimpang aqidah, Maka di Masjid Dewak selama tujuh hari menjelang Maulud Nabi SAW diadakan kegiatan syiar Islam, dengan menggunakan gemelan Kyai Sekati yang konon buatan Sunan kalijogo. Kemudian masyarakat yang ingin masuk Islam, dituntun mengucap dua kalimah syahadat atau sahadatain.  Sunan kalijogo termasuk wali yang suka berkesenian, seperti tembang ilir-ilir, gundul-gundul pacul adalah ciptaan Sunan kalijogo
·      Mengucap dua kalimah syahadat mengandung konsekuensi bahwa seseorang menjadi “muslim” dan tentu saja kepadanya diberlakukan syariat islam, dan dituntut untuk melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua larangan-Nya yang telah diwahyukan melalui Rasulullah Muhammad SAW.  Dengan membaca dua kalimah syahadat, seseorang telah berhijrah dari alam kafirum kepada alam muslimun.
·      Sabda Rosululloh SAW (diriwayatkan oleh Achmad dan Abu Daud ) “ Dari Mu’adz berkata aku mendengar Rosululloh SAW bersabda : Mangkana Akhiruu Kalamihi Laailaha Illallah Dakholal Jannah  (Barangsiapa yang diakhir hidupnya mengucap Laailaha Illallah maka akan dimasukkan syurga ). 
·      Sabda Rosululloh SAW (diriwayatkan oleh Achmad dan Abu Daud ) “ Dari Mu’adz berkata aku mendengar Rosululloh SAW bersabda : Mangkana Akhiruu Kalamihi Laailaha Illallah Dakholal Jannah  (Barangsiapa yang diakhir hidupnya mengucap Laailaha Illallah maka akan dimasukkan syurga ). 
·      Kedua kalimat syahadat itu adalah:
Pertama, syahadat tauhid :
Syahadat1.gif
asyhadu an-laa ilaaha illallaah
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah

·      Syahadat Tauhid, memiliki makna beri'tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, menta'ati hal tersebut dan mengamalkannya.
·      Ucapan La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. - Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.   Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, "Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah".
·      Ketauhidan ini menegaskan eksistensi satu-satunya tuhan/illah  yang yang patut disembah adalah Allah SWT.  Ini keimanan yang fundamental bagi seorang muslim.  Sebab Ilah atau Ma'bud (Arab) sering juga diartikan sebagai "tuhan", atau ‘khuda’ (Parsi), atau ‘Dewata’ (Hindu), atau “GOD” (bhs Inggris). Dan ‘illah’ atau tuhan tersebut bisa saja berwujud manusia, barang, kesenangan, harta, jabatan, dan lain-lian yang dipandang dapat mendatangkan ketenangan.  Karena itu ‘illah’ atau ‘tuhan’ tidak dapat disamakan dalam pengertian Tuhan Allah SWT.
·      Kalimah Syahadat “asyhadu an-laa ilaaha illallaah”  mempunyai dua rukun: Pertama, Laa ilaaha (لاَ إِلـهَ) =An-Nafyu (peniadaan) : yaitu meniadakan dan meninggalkan bentuk kesyirikan serta mengingkari segala seuatu yang disembah selain Allah Ta’ala. 
Kedua, Illallaah (إِلاَّ الله ) = Al-Itsbat (penetapan): yaitu menetapkan bahwa tiada yang berhak disembah dan diibadahi melainkan Allah Ta’ala serta beramal/berperilaku dengan landasan ini.
·      Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur'an, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :  QS. Al-Baqarah (2: 256)
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_256.png
Laa ikrooha fid-diin ; Qot tabay-yanar-rusydu munal-ghoyy, Fa may yakfur bith-thooghuuti wayu’mim billaahi fa qodistamsaka bil ‘urwatil –wushqoo lanfishooma lahaa. Walloohu sami’un ‘aliim.
[2:256] Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
·      Ayat ini menjelaskan barang siapa yang ingkar kepada Thoghut, yaitu  syaitan dan apa saja sesembahan selain dari Allah SWT, ini merupakan makna annafyu- “laila”. Dan beriman hanya kepada Allah SWT ini makna al-itsbat- “illallooh”

Kedua, Syahadat Rasul :
Syahadat2.gif
wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.
·      Syahadat rasul ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat ”’abduhu warosuuluhu’ (hamba dan utusanNya).  Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .
·      Beliau adalah hamba Allah dari golongan manusia. Tetapi beliau sebagai Rosul Allah makhluk yang paling sempurna dengan sifat yang mulia.  Allah SWT menegaskan tentang siapa Muhammad saw.: qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuhaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun…./Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". …….. [QS. Al-Kahfi ( 18:110)]
·      Syahadat Rasul, memiliki makna mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta'ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan menjadikannya sebagai suri tauladan dalam sikap dan perilaku hidupnya.
QS.An_Nisaa’ (4:59):
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/4/4_59.png
yaa ayyuhaalladziina aamanuu athii'uullooha wa-athii'uur-rosuula, wauliil-amri minkum, fa-in tanaaza'tum fii syay-in farudduuhu ilaalloohi warrasuuli, in kuntum tu/minuuna bilaahi walyawmil-aakhiri dzaalika khoyrun wa-akhsanu ta/wiilaa
[4:59] “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
·      Mengucap dua kalimah syahadat mengandung konsekuensi bahwa seseorang menjadi “muslim” dan tentu saja kepadanya diberlakukan syariat islam, dan dituntut untuk melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua larangan-Nya yang telah diwahyukan melalui Rasulullah Muhammad SAW.  Dengan membaca dua kalimah syahadat, seseorang telah berhijrah dari alam kafirum kepada alam muslimun.

Kandungan Kalimah Syahadat.
·       Syahadat berasal dari bahasa Arab (ašy-šyahādah, dari kata kerja  šyahida , "ia menyaksikan") yang berarti pengakuan atau persaksian. Dengan demikian Syahadat merupakan:
·      Al-I’lan (Sebagai Ikrar/pengumuman), Syahadat merupakan pernyataan seorang muslim mengenai apa yang diyakininya. Ketika ia mengucapkan kalimat syahadah, maka ia memiliki kewajiban untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang kita ikrarkan itu.
·      Al-Qosam (Sebagai Sumpah), Seseorang yang bersumpah, berarti dia bersedia menerima akibat dan risiko apapun dalam mengamalkan sumpahnya tersebut. Artinya, Seorang muslim itu berarti siap dan bertanggung jawab dalam tegaknya Islam dan penegakan ajaran Islam.
·      Al-Wa’du (Sebagai Janji), Syahadat sebagai janji. Artinya, setiap muslim adalah orang-orang yang berjanji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah SWT, yang terkandung dalam Al Qur'an maupun Sunnah Rasul.

Syarat Bersyahadat
·      Mengucapkan kalimah syahadat bukanlah hal yang sulit bagi orang yang tidak mengalami gangguan dalam pengucapan/vocal/bahasa lisan, tetapi pengucapan yang memiliki makna terhadap perilaku kehidupan haruslah dipersiapkan  secara seksama ruang ukhrowi atau ruang qolbiyahnya, maka dari itu perlu diperhatikan tujuh syarat dalam bersyahadat, yaitu :
1.  'Ilmu, (mengerti/faham), yang menafikan Jahl  (kebodohan).
·      Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan atau faham akan apa yang diucapkan. Syarat ini menafikan ‘jahl’ (kebodohan), ketidaktahuannya dengan hal tersebut. Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan olehlisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan sia-sia.
QS. Ali ‘Imraan ( 3:18)
syahidallaahu annahu laa ilaaha illaa huwa walmalaa-ikatu wauluul'ilmi qaa-iman bilqisthi laa ilaaha illaa huwal'aziizulhakiim
[3:18] Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu188 (untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.) (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
{Baca juga QS. Az-Zukhruf [43]:(86) ; QS. Muhammad [47]:(19)}

2.  Yaqin, (yakin), menafikan Syak (keraguan).
·      Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu. Syarat ini yang menafikan ‘syak’ (keraguan), maksudnya orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu…….innamaalmu/minuunalladziina aamanuu bilaahi warasuulihi tsumma lam yartaabuu wajaahaduu bi-amwaalihim………/ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu ………..QS. Al Hujarat (49 :15). 
·      Lawan dari keyakinan adalah keraguan (syak). Keyakinan akan membawa seseorang kepada keistiqomahan, sedangkan keraguan akan menimbulkan kemunafikan.
·      Dalam Hadits, juga dinyatakan sebagai berikut: Dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu dengan Allah dengan dua kalimat ini dan tidak ragu tentang kedua-duanya, kecuali masuk surga. (HR. Muslim)

3.  Qabul (menerima), menafikan Radd (penolakan),
·      Menerima akan kebenaran yang terkandungan dalam Kalimah Syahadat serta konsekuen menajalaninya.
·      Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima (dan menta'ati), maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah swt dalam QS. Ash-Shoffaat (37:35-36)
innahum kaanuu idzaa qiila lahum laa ilaaha illaallaahu yastakbiruun
[37:35] Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,
wayaquuluuna a-innaa lataarikuu aalihatinaa lisyaa'irin majnuun
[37:36] dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?"
·      Ini seperti halnya perbuatan-perbuatan syirik,  Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan selain Allah swt.  (seperti meyakini kebenaran ramalan bintang, barang-barang keramat, dll). Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna laa ilaaha illallah.
·      Lawan dari penerimaan di atas adalah ‘Radd’ penolakan atau pembangkangan. Yaitu membangkang dan berpaling dari ajaran-ajaran Rasulullah SAW dengan hatinya, sehingga ia tidak ridho dan tidak menerima ajaran-ajaran tersebut. Allah menggambarkan orang-orang seperti itu dalam ayat berikut ini:
QS. Thoha (20: 124-126)
waman a'radha 'an dzikrii fa-inna lahu ma'iisyatan dhankaa wanahsyuruhu yawma lqiyaamati a'maa
[124] “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
qaala rabbi lima hasyartanii a'maa waqad kuntu bashiiraa
[125] Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

qaala kadzaalika atatka aayaatunaa fanasiitahaa wakadzaalika lyawma tunsaa
[126] Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".

4.  Inqiyad (patuh), yang menafikkan Tark (meninggalkan),
·      Patuh terhadap kandungan dan makna Syahadat. Maksudnya dengan mengucap kalimah syahadat disertai iktikat untuk tunduk dan patuh dengan apa yang sudah diucapkan. Syarat ini  yang menafikan ‘tark’ (meninggalkan).
·      Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Luqman (31:22) :
waman yuslim wajhahu ilaallaahi wahuwa muhsinun faqadi istamsaka bil'urwati lwutsqaa wa-ilaallaahi 'aaqibatu l-umuur
[31:22] Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya Allah-lah kesudahan segala urusan.
·      Pernyataan syahadat harus diiringi dengan ketundukan. Ketundukan yaitu tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.  Artinya, kita harus mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
·      Perbedaan antara ‘penerimaan’ dengan ‘ketundukan’ yaitu bahwa penerimaan merupakan pekerjaan hati, sedangkan ketundukan pekerjaan fisik.  Oleh karena itu, setiap muslim yang bersyahadat selalu siap mengimani aqidah Islamiyah, melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya yang merupakan aplikasi syahadatain. Ia bertekad menjadikan hukum dan undang-undang Allah SWT berlaku bagi kehidupan dirinya maupun kehidupan sosialnya
·      Lawan dari inqiyat atau kepatuhan adalah pengingkaran atau meninggalkan (tark), yaitu tidak mau melakukan atau mengabaikan apa yang diperintahkan Allah atau sebaliknya, justru mengerjakan apa yang dilarang-Nya. Seseorang yang bersyahadat adalah orang-orang yang tunduk dan taat kepada Allah.

5.  Ikhlash, yang menafikan Syirik
·      Maksud penerimaan kalimah syahadat secara ikhlas memiliki konsekuensi logis menolak pen-Tuhan-an selain Allah Swt, dan tidak segala amal ibadahnya tidak mengandung riya’. Syarat ini menafikkan ‘Syirik’ (menyekutukan) dan ‘riya’ (pamer). 
·      Istilah “keikhlashan” diambil dari kata ‘al laban al khalish’ (“susu murni”), yang maksudnya tidak lagi dicampuri kotoran yang merusak kemurnian dan kejernihannya. Artinya, ikhlash berarti bersihnya hati dari segala sesuatu yang bertentangan dengan makna syahadat. Ucapan syahadat mesti diiringi dengan niat yang ikhlash, lillahi ta’ala, tidak  bercampur dengan riya’ atau kecenderungan tertentu tidak akan diterima Allah SWT.
·      Ikhlas, akan membersihkan amal perbuatan dari segala debu-debu syirik, yang memiliki konsekuensi logis menolak pen-Tuhan-an selain Allah Swt, dan amal ibadahnya tidak mengandung riya’. Semua dilakukan semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
·      Syahadat sendiri merupakan bagian dari ibadah, oleh karena itu harus dilakukan dengan ikhlash. Dan ikhlash, merupakan lawan dari kemusyrikan. Setiap perbuatan yang mengandung kemusyrikan, maka akan menghapus amal perbuatan itu sendiri. Dan orang yang melakukannya menderita kerugian, karena pekerjaannya sia-sia tidak bermakna. Dan tidak ikhlash juga berarti mengadakan tandingan-tandingan selain Allah SWT.  Allah SWT berfirman  QS. An-Nisaa’ (4:48) :
innallaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wayaghfiru maa duuna dzaalika liman yasyaau waman yusyrik bilaahi faqadi iftaraa itsman 'azhiimaa
[4:48] Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [baca juga  QS. Al-Kahfi (18:110) ;QS. Az-Zumar (39:65)]

6.  Shidq (jujur) Yang menafikan Kadzib (dusta)
·      Mengucap dengan lisannya dan membenarkan dengan hatinya, melaksanakan dalam tindakan, berarti ia telah mengimani syahadat, karena ketiganya itu merupakan unsure dari iman (”at-tashdiiqu bil-qolbi; al-iqrooru bil-lisaani; al-’amalu bil-arkaan ) Namun manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta/‘kadzib’. 

QS. Al-Baqoroh (2:8-10) :
wamina nnaasi man yaquulu aamannaabillahi wabil yaumilaakhiri wamahum bimu'miniin
[2:8]Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian', padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
yukhaadi'uunallaaha walladziina aamanuu wamaa yakhda'uuna illaa anfusahum wamaa yasy'uruun
[2:9] Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
fii quluubihim maradhun fazaadahumullaahu maradhan walahum 'adzaabun liimun bimaa kaanuu yakdzibuun
[2:10] Dalam hati mereka ada penyakit*/, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta."

·      Penyakit hati yang dimaksud ayat ini adalah keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
·      Kejujuran adalah bahwa kondisi ‘lahir’ tidak boleh menyalahi ‘batin’. Keduanya harus saling sesuai dan sejalan antara ilmu dan amalnya, antara apa yang ada di dalam hatinya dengan apa yang dikerjakan oleh raganya, yang dinyatakan dengan lisan, diyakini dalam hati, lalu diaktualisasikan dalam amal perbuatan.
·      Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah’ dengan jujur dalam hatinya, maka ia akan masuk surga. (HR. Bukhari).   Allah SWT berfirman QS. Al An’am (6: 82)
alladziina aamanuu walam yalbisuu iimaanahum bizhulmin ulaa-ika lahumu l-amnu wahum muhtaduun
[6:82] “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
·      Lawan dari sikap Jujur (Shidq) ini adalah kebohongan/dusta (kadzib) yang melahirkan kemunafikan (nifaq), yaitu menampakan sesuatu yang sebenarnya tak ada dalam hatinya. Atau bahwa ia menyimpan kekufuran dalam batinnya, tetapi menampakkan iman dalam lisan dan raganya.
QS. Al Ahzab (33:23)
mina lmu/miniina rijaalun shadaquu maa 'aahaduullaaha 'alayhi faminhum man qadaa nahbahu waminhum man yantazhiru wamaa baddaluu tabdiilaa
[33:23] “Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)“.
·      Kejujuran dan kemunafikan diuji melalui cobaan. Cobaan ini akan menjadi seleksi bagi seseorang, dengan cobaan akan menunjukan siapa yang betul-betul berjuang di jalan Allah, dan siapa yang tidak bersungguh-sungguh berjuang. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:
QS. Al ‘Ankabuut (29:2-3)
ahasiba nnaasu an yutrakuu an yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun
[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
walaqad fatannaalladziina min qablihim falaya'lamannallaahulladziina shadaquu walaya'lamanna lkaadzibiin
[29:3] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

·      Kejujuran memang kini menjadi barang langka, tetapi itulah yang seharusnya bagi kita yang telah mengucapkan kalimah syahadat dan sekaligus mengimaninya. Kalau sudah bersahadah tetapi belum belaku jujur maka belum kaffah dalam memasuki maqom muslimunnya.

7.  Mahabbah (kecintaan), Yang menafikan Baghdha' (kebencian).
·      Maksudnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai orang-orang yang beriman, serta cinta beramal sholeh sebagai konsekuensinya. Apapun yang diberikan Allah swt, diterima dengan rasa cinta dan tawaqal.  Syarat Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha' (kebencian).  
·      Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqoroh (2:165) :
wamina nnaasi man yattakhidzu min duunillaahi andaadan yuhibbuunahum kahubbillaahi walladziina aamanuu asyaddu hubban lillaahi walaw yaraalladziina zhalamuu idz yarawna l'adzaaba anna lquwwata lillaahi jamii'an wa-annallaaha syadiidu l'adzaab
[2:165] Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
·      Seseorang yang beriman, akan melimpahkan cintanya terlebih dahulu kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan jihad, sebelum mencintai yang lainnya.  Rasa cinta yang dimiliki diposisikan sebagai hidayah Allah SWT yang perlu diabdikan dan dicurahkan kehadirat-Nya, baru setelah itu kecintaan duniawinya. Untuk hal ini Allah SWT memperingatkan seperti yang difirmankan-Nya.
QS. At Taubah (9:24),

qul in kaana aabaaukum wa-abnaaukum wa-ikhwaanukum wa-azwaajukum wa'asyiiratukum wa-amwaalun iqtaraftumuuhaa watijaaratun takhsyawna kasaadahaa wamasaakinu tardhawnahaa ahabba ilaykum minallaahi warasuulihi wajihaadin fii sabiilihi fatarabbashuu hattaa ya/tiyallaahu bi-amrihi walaahu laa yahdiil qawmal faasiqiin
[9:24] “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
·      Dan jika seseorang ingin merasakan manisnya iman, maka ada baiknya pahami hadits Rasululloh saw berikut ini :  “Tiga hal, yang barangsiapa dalam dirinya ada ketiganya, akan mendapatkan manisnya iman, bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, bila seseorang mencintai seseorang yang lain, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan apabila ia tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekufuran itu sebagaimana ia tidak ingin dijebloskan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari).
·      Cinta itu juga harus disertai dengan suatu kebencian, yaitu kebencian/kemarahan terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan makna yang terkandung dalam syahadat, seperti kesyirikan, kemunkaran dan kebathilan sehingga harus dijauhinya. Rasulullah SAW bersabda: “Ikatan iman yang terkuat adalah cinta karena Allah dan marah karena Allah. (HR. Thabrani dari Ikrimah dan Ibnu Abbas).
·      Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah.
·      Setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat syahadat di atas, maka akan timbul di dalam dirinya sikap rela dan ridho untuk diatur oleh Allah SWT, Rasulullah, dan Islam, dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan dalam setiap keadaan.

Kalimah Syahadat Fondasi Ketauhidan
·           Pengucapan Kalimah Syahadat tentu tidak saja berhijrah dari alam kafirun ke maqom muslimun, lebih dari itu Kalimah Syahadat merupakan fondasi bagi kita untuk dapat meningkat sampai pada “maqomam-mahmudah” maqom tertinggi yaitu “Muttaqin”.
·           Kalimah tauhid "Laa Ilaha Illaallah" mengandung maksud secara esoteric (penerimaan secara alamiah/takdir) maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya, disembah / diabdi selain Allah (Tauhid Uluhiyah) dengan kepengaturan-Nya/ajaran-Nya sebagai Rabb (Tauhid Rubbubiyah).
·           Siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada maha pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka konsekuensinya ia harus mengakui tauhid ulluhiyah bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala . QS. Al-Fatihah (1:5) iyyaaka na’budu/hanya kepada Engkau kami menyembah; wa iyyaka nasta’in/dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan)
·           Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ‘ilah’ maknanya adalah ma'bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do'a kecuali Allah SWT, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Allah SWT, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Allah SWT, tidak ada yang patut dimintai perlindungan kecuali Allah SWT, tidak ada yang patut di puji kecuali Allah SWT, tidak ada yang pantas menerima seluruh aktivitas ibadah kita kita kecuali Allah SWT.  Allah SWT telah memerintahkan untuk menyembah Tuhan Allah SWT yang telah menciptakan kamu dan sebelum kamu, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah (2:21) :

Yaa ayyuhan-naasu’buduu robbakumul-ladzi kholaqolakum wal ladziina min qoblikum la’allakum tattaquun.
[2:21] Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
[Baca juga :QS. Ali-‘Imraan (3:2); QS. Adz-Dzariyat (51 : 56)]
·      Sedang, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Makanya, tauhid uluhiyah itu merupakan hasil dari keyakinan seseorang akan tauhid Rububiyah.
QS. Al-An'am (6:102)
Dzaalikumullohu robbukum , laa ilaaha illaahuu khooliqu kulli syai’in fa’ buduuh, wa huwa ‘alaa kulli syai’iw wakiil.
[6:102] Demikian itu ialah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu"
·      Rububiyyah adalah aspek-aspek Allah sebagai Rabb yang terjabar pada al-Akwan (Alam Semesta) dan al-Kitab. Hukum-hukum yang terlaksana di alam semesta (makro kosmos) maupun alam manusia (mikro kosmos, secara fisik) merupakan penjabaran Rububiyyah Allah.
QS. Al_Fatihah (1:2) :
Alhamdu lillahi robbil ‘alamiin / Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam
QS. An Naas (114:1),
Qul a’uudu birrob binnaas
[114:1] Katakanlah: “aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.
·      Rabb diterjemahkan  Tuhan yang ditaati Yang Maha Mengatur, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mendidik dan Yang Maha Memelihara.
·      Ketika Nabi Musa bersama kaumnya dalam kondisi terjepit sewaktu di kejar Fir’aun dan pengikutnya, karena di depan ada laut. Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan.  
Jawab Nabi Musa “Qoola kallaa inna ma ’iya robbi sayahdiin’
[26:62] Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". [QS. Asy_Syu’ara (26:62)]
·      Dalam surah ke 26 Asy-Syu’ara yang menceritakan perlawanan Fir’aun kepada nabi Musa as tersebut, pada ayat 62 kalimatnya, Inna ma ’iya Robbi, bukan inna ma’iya Ilaahi.   Dalam kasus ini, menggambarkan bahwa ketakutan pengikut Musa as. bukan tidak percaya adanya Allah swt yang patut disembah (ululuhiyah), tetapi sebagai Rabb (rububiyah/Yang Maha Mengatur) dia masih lemah.
·      Lemahnya keyakinan terhadap Allah swt sebagai Rabb ini yang membuat orang yang beribadah, tetapi kadang masih meminta pertolongan kepada selain Allah, serta mengeluh kepada Allah,. “Ya Allah swt, saya menyembah-Mu tetapi kenapa saya masih susah?”  Nah ini khan karena ia tak memiliki kesadaran bahwa Allah swt, selain Yang Maha Disembah (Illahi), juga Yang Memelihara Hidup (Rabb). Apapun yang diberikan Allah SWT, tentu Allah yang Maha Tahu apa yang ada dibalik itu semua.  Banyak manusia tidak kuat godaan, akhirnya menita pertolongan kepada yang lain selain Allah Ta’ala.
·      Dengan kata lain, pada level syar’i, ketika seorang muslim mengikrarkan diri beriman kepada Allah Swt. namun dalam praktek hidupnya  tak sesuai dengan syariat Allah swt, dan mencabangkan Allah SWT dengan ilaah-ilah yang lain, maka ia belum disebut bertauhid.  Dalam hal ini, Allah swt mengingatkan seperti firmannya dalam Kitabulloh : QS. Yassiin (36:74) :
Wattakhodzuu min duu nillahi aalihatal la’al lahum yunshoruun.
[36:74] Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
·      Pen-tuhanan kepada Allah SWT pada level batin dan ibadah ritual, haruslah dibuktikan dengan pen-tuhanan Allah swt, melalui jalan hidup yang sesuai dengan syari’at-Nya, sehingga segala perilaku ibadah ritual (syahadatnya, sholatnya, zakatnya, puasanya dan hajinya) terpancarkan dalam perilaku sosialnya. 
·      Artinya perilaku ibadahnya berbanding lurus dengan perilaku sosialnya. Bukan sebaliknya, perilaku ibadah ritualnya berbanding terbalik dengan perilaku social.  Atau  ibadahnya kenceng, tetapi perilaku munkar juga kenceng.
·      Untuk dapat meningkatkan ketauhidan dan keimanan kita secara kaffah, Kyai Kondang Zainudin MZ (Almarhum) memberi tip proses yang perlu dilakukan yaitu ” Takholli  - Takhalli – dan Tajalli ”  (satu jenis huruf arab yang letak titiknya berbeda, jim-kha’ dan kho’). Takholli,  membersihkan jiwa dan bathin kita dari pikiran-pikiran yang merangsang untuk berpeilaku buruk (sirik, dengki, culas, malas, dll); Takhalli,  isi dengan niat-niat kebaikan di jalan Allah SWT; Tajalli,  maka akan datang karomatullah berupa petunjuk, perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT.
·      Dengan selalu mereaktualisasi Rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat, akan menyegarkan kembali ketauhidan kita, sehingga usaha meningkatkan maqom sampai pada maqoman-mahmudah, yaitu “muttaqin” Insya-Allah dapat dicapai. (Bersambung :“Syahadat Tauhid”)***

Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallohumma wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh







Label: