Ibda' Binafsih

20.28 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /

IBDA’ BINAFSIH DALAM KEMIMPINAN RASUL
(Sebagai Rujukan dan Referensi Kepimimnan Muslim)
Bissmillaahirahmaanirrahim
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin / Wash-sholaatu was-salaamu
‘alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin / Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Segala puji-pujian hanya milik Allah Tuhan pemelihara alam semesta.
Semoga rahhmat dan salam terlimpah kepada seorang Nabi dan Utusan yang paling mulia Yaitu junjungan Nabi Muhammad SAW, dan kepada keluarganya para sahabat semua.
Amma ba’du
Ibda’ Binafsih
Makna Ibda' binafsik (Mulailah dari dirimu) secara terminologi sosial, maka kata 'diri' (anfus, nafs), mengingatkan kita pada 'individu'. (bahwa), "perubahan struktural tak akan pernah terjadi tanpa didahului perubahan kultural, dan perubahan kultural tak akan pernah terjadi tanpa perubahan inidividual," sehingga dapat dikatakan perubahan individual itu adalah induk dari segalanya.
Dalam firman Allah SWT QS. Ar_Ra’d (13:11), menegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan768 yang ada pada diri mereka sendiri.

lahu mu'aqqibaatun min bayni yadayhi wamin kholfihi yakhfazhuunahu min amrilloohi innallooha laa yughoyyiru maa biqawmin hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim wa-idzaa araadallaahu biqawmin suu-an falaa maradda lahu wamaa lahum min duunihi min waal
[13:11] Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan768 yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Pada ayat diatas, kata yang menjadi kata kunci (keyword) adalah ‘diri’ (dalam ayat tersebut anfus, jamak dari nafs). Dalam terminologi sosial, kata ‘diri’ (anfus, nafs) ini mengingatkan kita pada ‘individu’.
Jadi sebelum ada pernyataan populer dalam sosiologi (bahwa), “perubahan struktural tak akan pernah terjadi tanpa didahului perubahan kultural, dan perubahan kultural tak akan pernah terjadi tanpa perubahan inidividual,”  ternyata Allah SWT sudah mewahyukan melalui QS Arra’du (13:11) tersebut, bahwa perubahan individual/nafs  merupakan awal dari perubahan bagi suatu keolompok/komunitas atau suatu kaum.   Dalam hadits Rosulullah SAW bersabda : “Ibda’ Binafsikyang artinya Mulailah dari dirimu.

Kalau pada dewasa ini kita melihat adanya krisis kepemimpinan baik ditingkat local, regional maupun nasional, hal ini karena kita telah meninggal dasar pijakan dalam kepemimpinan/“leadership basic”  yang telah dicontohkan Rasululloh SAW sejak 14 abad yang lalu.  Rasulullah SAW sebagai panutan kita menjadikan Ibda’ binafsik sebagai solusi terbaik dalam membina umat dan mengatasi krisis multi dimensional.
Nabi Muhammad saw adalah contoh teladan terbaik dan tipologi ideal paling prima. Hal ini digambarkan oleh al-Qur’an surat Al-Ahzab (33:21) :
laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun khasanatun liman kaana yarjuullooha walyawmal-aakhiro wadzakarollooha katsiiroo
[33:21] Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Ketauladanan Nabi diambil, antara lain, karena ia mampu menghadapi berbagai masalah yang dihadapi secara praktis, realistis, tanpa kehilangan keseimbangan, tanpa kehilangan idealisme dan tanpa surut dari sebuah misi. Itulah sebabnya Michael H. Hart, dalam bukunya “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Umat Manusia”, menempatkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh Nomor Satu yang paling berpengaruh dalam sejarah kehidupan manusia.  Dan Rasulullah dalam mengatasi krisis yang paling ampuh ialah selalui memulai dari diri sendiri / Ibda’ Binafsih.

Kesuksesan Rasululloh yang gemilang itu, setidaknya telah menorehkan tiga karya besar yang belum pernah ditorehkan oleh siapapun pendahulunya, hanya dalam kurun waktu 23 tahun, ( dengan biaya kurang dari 1 % dari biaya Revolosi perancis, dan korban yang kurang dari 100 orang). Tiga karya besar itu adalah :
Pertama, تَوْحِيْدُ الإِلهِ (tauhid “ laillahailallah/mengesakan Tuhan), yaitu menjadikan  Bangsa Arab yang semula mempercayai banyak tuhan/polytheisme (ada 360 patung pemujaan/ paganisme) menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak( monotheisme absolud)
Kedua,  تَوْحِيْدُ الأُمَّةِ (tauhidul ummah/kesatuan ummat), yaitu menjadikan bangsa Arab yang sebelumnya terus menerus terjadi perang antar suku dan antar kabilah, menjadi bangsa yang bersatu dalam satu ikatan islam dan iman sebagi umat Muhammad.
Ketiga,  تَوْحِيْدُ الْحُكُوْمَةِ (tauhidul khukumah/kesatuan pemerintahan), yaitu menjadikan bangsa Arab sebelumnya tidak memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, karena bangsa Arab adalah jajahan Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang mampu mendirikan Negara kesatuan yang terbentang luas dari benua Afrika sampai Asia.
Di era modernitas umat, kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai hidayah Allah SWT, seharus merupakan ‘tool’ atau alat untuk lebih menyempurnakan dan memperlancar upaya perubahan menuju kebaikan, namun sayangnya fenomena yang ada lebih mengarah kepada kehancuran, kalau toh bukan kehancuran jasadiyah, tetapi kehancuran qolbiyah dan ukhrowiyah telah lebih terasa, tentu hal ini karena telah ditinggalkannya pusaran qolbiyah atau pengingkaran suara hati nurani para pemimpin umat atau bangsa.
Padahal Allah SWT telah dengan jelas member petunjuk, kepada siapa kita harus menggantung kepemimpinan umat ini, seperti dijelaskan dalam QS. Al_Maiadah (5:55-56),
innamaa waliyyukumulloohu warosuuluhu walladziina aamanuulladziina yuqiimuunash-sholaata wayu/tuunazzakaata wahum rooki'uun
[5:55] Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
waman yatawallallooha warosuulahu walladziina aamanuu fa-inna khizballoohi humulghoolibuun
[5:56] Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.
Dengan kualitas pemimpin yang sebagaimana dijelaskan pada Surah Al_Maidah ayat 55-56 diatas, maka Allah SWT menjamin kita pasti memperoleh kemenangan atau berhasil dalam menjalankan kepemimpinan tersebut.
Strategi Kepemimpinan Rasululloh SAW
Kepemimpinan Rasululloh SAW, dengan prinsip “Ibda’ Binafsih” atau “mulai dari diri sendiri” mampu berhasil keluar dari krisis yang dihadapi di zaman Kerasulannya, dengan mengetrapkan beberapa strategi, seperti :
Pertama, kualitas moral-personal yang prima,
Kualitas personal Rasululloh SAW ditunjukan oleh sifat Nabi yang: siddiq, amanah, tabligh, dan fahtanah, atau jujur, dapat dipercaya, menyampaikan apa adanya, dan cerdas.
Keempat sifat ini membentuk dasar keyakinan umat Islam tentang kepribadian Rasul saw. Kehidupan Muhammad sejak awal hingga akhir memang senantiasa dihiasi oleh sifat-sifat mulia ini. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, ia telah memperoleh gelar al-Amin (yang sangat dipercaya) dari masyarakat pagan Makkah.
Pentingnya kualitas moral yang prima ini kembali ia tekankan setelah menjadi utusan Tuhan dalam haditsnya: Dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda: Sesungguhnya aku diutus guna menyempurnakan kebaikan akhlak. (H.R. Ahmad, 8595).

Kedua, Integritas.
Integritas menjadi bagian penting dari kepribadian Rasul Saw. yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya.
Ketika dakwahnya dianggab akan mengganggu kehidupan jahiliiyahnya, maka para pemuka Makkah mencoba membujuk Rasululloh untuk menghentikannya, dengan imbalan kedudukan dan harta yang berlimpah dalam system masyarakat Mekkah yang ada saat itu, Rasululloh SAW menolak  dengan mengungkapkan kata yang santun : “Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini”.  Begitum kuatnya benteng integritas Rasululooh membuat pembesar Makkah saat itu tak punya jalan menaklukannya.

Ketiga, kesamaan di depan hukum.
Prinsip kesetaraan di depan hukum merupakan salah satu dasar terpenting manajemen Rasul saw.
Rasululloh SAW menunjukkan komitmennya akan penegakan hukum tanpa pandang siapa yang bersalah, dengan hukum yang berlaku (qishosh) seperti siapa yang mencuri hukumannya potong tangannya.
Rasululloh saw. dengan tegas bersabda: Demi Allah, kalau sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya. (H.R. Bukhari, 3216)

Keempat, Penerapan pola hubungan egaliter dan akrab.
Salah satu fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Rasul saw. adalah penggunaan konsep sahabat (bukan murid, staff, pembantu, anak buah, anggota, rakyat, atau hamba) untuk menggambarkan pola hubungan antara beliau sebagai pemimpin dengan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Sahabat dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan. Berbeda dengan, misalnya, murid, staff, atau pengikut yang kesemuanya berkonotasi tingkatan tinggi-rendah.
Sahabat lebih bermuatan kerjasama dua arah, saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Sahabat terasa sedemikian dekat, seolah tanpa jarak.
Konsep persahabatan memang benar-benar tepat menggambarkan realitas hubungan yang terbina antara Rasul saw. dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah antara lain motivator yang telah membuat para sahabat rela mengorbankan apa saja (seperti jiwa, raga, harta, waktu) demi perjuangan Rasul saw.
Sebab di dalam hati mereka merasakan bahwa cita-cita Rasul saw. adalah juga cita-cita mereka sendiri, dan keberhasilan beliau adalah juga keberhasilan mereka.
Disamping itu, para sahabat nabi, dipilih Allah untuk mendampingi Nabi sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya, yang menggambarkan kebutuhan seorang pemimpin, lihat saja sifat dan karakter keempat sahabat Nabi tersebut:
Abu Bakar Assidiq yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad saw, adalah sahabat utama (memiliki sifat integritas)
Umar ibnu Khattab bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran (memiliki keberanian dalam kebenaran)
Ustman ibnu Affan adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad saw. (modal yang cukup)
Ali ibnu Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. (generasi penerus yang siap/sustainable-keberlanjutannya)

Kelima, kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi.
Keberhasilan Muhammad saw. sebagai seorang pemimpin tak lepas dari kecakapannya membaca situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta merancang strategi yang sesuai untuk diterapkan. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode Makkah kemudian dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan.

Keenam, tidak mengambil kesempatan dari kedudukan.
Rasul Saw. wafat tanpa meninggalkan warisan material. Sebuah riwayat malah menyatakan bahwa beliau berdoa untuk mati dan berbangkit di akhirat bersama dengan orang-orang miskin.
Jabatan sebagai pemimpin bukanlah sebuah mesin untuk memperkaya diri. Sikap inilah yang membuat para sahabat rela memberikan semuanya untuk perjuangan tanpa perduli dengan kekayaannya, sebab mereka tidak pernah melihat Rasul saw. mencoba memperkaya diri.
Kesederhanaan menjadi trade mark kepemimpinan Rasul saw. yang mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang Umar ibn al-Khattab. Seseorang dari Mesir datang ke Madinah ingin bertemu dan mengadukan persoalan kepada khalifah Umar ra. Orang tersebut benar-benar terkejut ketika menjumpai sang khalifah duduk dengan santai di bawah sebatang kurma. Tak ada tanda-tanda bahwa ia adalah seorang pemimpin besar yang sangat berkuasa—ia tak berbeda dari orang-orang yang dipimpinnya.

Ketujuh, visioner–futuristic.
Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul saw. adalah seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan (sustainable).
Meski tidak mungkin merumuskan alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata akan datang suatu masa…’, lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu.
Kini, setelah sekian abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah mulai terlihat dalam realitas nyata.
Berikut adalah beberapa contoh hadits futuristik:
v Akan datang satu masa ketika orang tak perduli lagi dengan cara apa ia mendapatkan harta, dengan halal atau haram. (H.R. Bukhari, 1941)
v Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, akan datang satu masa ketika seorang pembunuh tak tahu lagi kenapa ia membunuh, dan orang yang terbunuh tak tahu kenapa ia dibunuh. (H.R. Muslim, 5177)
v Manusia akan mencapai suatu masa ketika suatu waktu mereka berdiri (untuk shalat) dan tak menemukan seorang yang bisa menjadi imam. (H.R. Ibn Majah, 972)

Kedelapan, menjadi prototipe bagi seluruh prinsip dan ajarannya.
Pribadi Rasul Saw. benar-benar mengandung cita-cita dan sekaligus proses panjang upaya pencapaian cita-cita tersebut. Beliau adalah personifikasi dari misinya. Oleh karena itu ia dengan mudah dimengerti dan dengan berhasil menggerakkan masyarakatnya untuk sama-sama berupaya keras mencapai tujuan bersama.
Terkadang kita lupa bahwa kegagalan sangat mudah terjadi manakala kehidupan seorang pemimpin tidak mencerminkan cita-cita yang diikrarkannya. Sebagaimana sudah disebut di atas, Rasul saw. selalu menjadi contoh bagi apa pun yang ia anjurkan kepada orang-orang di sekitarnya.

Dengan mengambil contoh dan teladan dari Rasululloh SAW, kita semua baik yang dipimpin terlebih yang memimpin umat, masyarakat dan bangsa ini, kita yakin semua krisis yang dihadapi akan bisa dilewati dengan mudah. Insya_Allah !!
Dan kuncinya, adalah Ibda’ Binafsih, mari kita awali dari setiap diri kita masing-masing untuk berbuat kebaikan, dan jangan membodohi diri sendiri, dengan mengingkari pusaran qalbiyah yang selalu membisikan kata hati yang ilahiyah.
Para pemimpin umat hendaklah apa yang dia ucapkan, menjadi tuntutan untuk dia lakukan terlebih dahulu sebagai teladan ummatnya. Ingat firman  Allah SWT :
yaa ayyuhaalladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf 'aluun
[61:2] Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? *********(Sya’ban 1436 H_ahas***)


Waloohu a’lam bishowab
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh

Ya Rabb..
"Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii,
wa aafinii, warzuqnii."
Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku,
selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku

“Allaahumma innii as’aluka
‘ilman naafi’an
wa rizqan waasi’an
wa syifa’an min kulli daa’in”
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,
rezeki yang luas, dan penawar (kesembuhan) dari segala penyakit.
(H.R. Thabrani)”

Amien

Label: