Pilih Yang Amanah

20.53 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



JANGAN TERTIPU JANJI PALSU KAMPANYE
PILIH PEMIMPIN YANG AMANAH

Assalaamu’alaikum wr. Wb
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin / Wash-sholaatu was-salaamu
‘alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin / Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin
Robbisy-rohlii shod-ri / Wa yas-sirlii  amri / Wahlul ‘uqdatam-millisanii/
Yaf qohuu – qoulii / Robbi -zidnii ‘ilman / War zughni  fahma./
Amma ba’du

Qolallohu ta’ala firqur’anil adzim,
A’udzubillahiminash-shaithonirrojiim
waminannaasi man yu' jibuka
qowluhu fii alkhayaatid dunyaa
wayusy-hidullooha 'alaa maa fii qolbihi
wahuwa aladdu alkhishaam
(QS. Al Baqarah : 204)
Majelis Netizen Rohimatullooh,
·      Ditengah gegap gempitanya pesta demokrasi, pada saat pemilihan kepemimpinan apa itu pemimpin parpol, pemimpin organisasi sosial, dari tingkatan paling bawah sampai pimpinan tingkat nasional, selalu diriuhkan dengan kampanye dan propagan.
·      Diajang kampanye untuk memperoleh dukungan inilah, banyak cara dilakukan termasuk yang malang kesantunan beragama, baik santun terhadap sesamanya labih-lebih santun terhadap Allah SWT, banyak kandidat penebar janji, tidak sedikitpun takut mengingkarinya nanti.
·      Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan seperti dalam sabdanya :
Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
·      Dalam hadits lain Rasululloh SAW bersabda : Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)
·      Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Muslim)

·      Tingkah laku berdusta seperti ini sudah ada sejak jaman jahiliiyah dan dijaman Rasululloh SAW,  Allah SWT mengingatkan dengan firmannya  dalam QS Al Baqarah 204 seperti yang dibaca tadi :
waminannaasi man yu' jibuka
qowluhu fii alkhayaatid dunyaa
wayusyhidullooha 'alaa maa fii qolbihi
wahuwa aladdu alkhishaam
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.”

Asbabunzunul ayat tsb
Seperti Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir  dari as-Suddi.
Bahwa al-Akhnas bin Syariq (seorang anggota komplotan Zukhra yang memusuhi Rasulullah) datang kepada Nabi saw. mengutarakan maksudnya untuk masuk Islam dengan bahasa yang sangat menarik sehingga Nabi sendiri mengaguminya.
Di kala pulang dari rumah Rasulullah, ia melewati kebun dan ternak kaum Muslimin. Ia membakar tanamannya dan membunuh ternak-ternaknya.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 204), mengingatkan kaum Muslimin akan bahaya tipu daya mulut manis.

Money Politik.

·      Pasca setiap acara pesta demokrasi, berita yang mengiringinya penuh dengan berita yang tak sedap yang berkaitan dengan “money politik” dengan modus yang beragam, beli suara kepada calon pemilih, kepada petugas pemilu dll yang berujung konflik karena hasilnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

·      Kenapa ini terjadi, karena jabatan, bukan lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai “mesin pengumpul uang” yang efektif, walau harus melanggar sara’

·      Hal ini sudah dipredeksi oleh Rasulullah SAW seperti yang disabdakan dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan (kekuasaan), padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan. ” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

·      Sifat yang ambisius untuk mendapatkan kedudukan, membuat kita menjadikan kita serakah keduniawian, seperti pujian, kepopuleran, penghormatan, kemegahan, kemewahan bahkan menghantarkan kepada kepongahan dan kesombongan

·      Kerakusan kedudukan ini digambarkan Rasulullah SAW seperti dua ekor srigala yang kelaparan, dalam Haditsnya :

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah segerombolan kambing lebih merusak dari pada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi. ” (HR. Tirmidzi no. 2482, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/178)  

Kekuasaan adalah amanah

·      Kepemimpinan/kekuasaan adalah amanah, yang namanya amanah bukan diminta, dibeli, direbut atau dirampas.

·      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah (Hadits riwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146 dan diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1652  yang diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi “Bab Larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya”.)

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). ”

·      Dalam riwayat lain, dari Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda:  “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut. ” (Shahih, HR. Muslim no. 1825)

·      Rasulullah menyatakan kepada Abu Dzar bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah amanah. Karena memang kepemimpinan itu memiliki dua rukun, kekuatan dan amanah. Kekuatan yang berarti memiliki kompetensi

·      Rasulullah Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).

·      Lantas bagaimana akibat tidak amanat dalam menunaikan kepemimpinan? Dalam hadits di atas sudah disebutkan akibatnya, Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita”.


Pilih pemimpin yang amanah
·      Maka pilih pemimpin yang amanah, yang akidahnya kuat, dan imannya telah teruji. Karena yang beriman akan dilindungi oleh Allah SWT seperti janjinya dalam QS. Ali Imran (3: 28)
alloohu waliyyulladziina aamanuu
yukhrijuhum minazhzhulumaati ilaannuuri ….
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).
·      Semoga kita ditunjukin jalan yang lurus jalan yang diberkahi oleh Allah SWT, dan diberi pemimpin yang memiliki STAF yang kuat, yaitu ‘S’idiq, ‘T’ablig, ‘A’manah dan ‘F’atonah.
·      Mari kita sama berdo’a sebagaimana do’a Rasulullah SAW “ “Ya Allah tunjukkanlah aku untuk berhias dengan akhlak yang terbaik karena tidak ada yang bisa menunjukkan kami kepada hal itu kecuali Engkau, dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk dan tidak ada yang bisa menjauhkan aku darinya kecuali Engkau”..Amien ya Robbal ‘alamin (Sya’ban 1436 H_**ahas**)

Waloohu a’lam bishowab
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh


 [Disarikan dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani, 13: 125-126]





Label: