Syahadat tauhid

02.45 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



KALIMAH SYAHADATAIN
( Kuliah Subuh Online_Episote Syahadat Tauhid)
http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif
Ass wrwb
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
syahidallaahu annahu laa ilaaha illaa huwa walmalaa-ikatu wauluu l'ilmi qaa-iman bilqisthi laa ilaaha illaa huwa l'aziizu lhakiim
[3:18] Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu188 (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 (Qs. Ali Imran (3:18)
Majelis netizen rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah Allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al israa’-78, oleh Rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan Allah....(hr. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam,  sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(hr.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (Al Ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (QS. Ali Imran 104)
·      Dan  kata Rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan allah ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri watansawna an-fusakum  wa-antum tat luunal kitaaba Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 surah al baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis netizen rohimatullah
·      Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari dua kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat), yaitu “Syahadat Tauhid” dan “Syahadat Rasul”
·      Dua kalimah syahadat itu laksana ‘anak kunci’ yang dengannya manusia masuk kedalam alam keselamatan ( keislaman ), dan dengan dua kalimah syahadat, itu pula seseorang telah berhijrah dari alam kafirum kepada alam muslimun.

SYAHADAT TAUHID :
Syahadat1.gif
asyhadu an-laa ilaaha illallaah
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah

·      Makna Syahadat Tauhid : "Laa ilaaha illallah", Yaitu beri'tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, menta'ati hal tersebut dan mengamalkannya.
·      Sabda Rosululloh SAW (diriwayatkan oleh Achmad dan Abu Daud ) “ Dari Mu’adz berkata aku mendengar Rosululloh SAW bersabda : Mangkana Akhiruu Kalamihi Laailaha Illallah Dakholal Jannah  (Barangsiapa yang diakhir hidupnya mengucap Laailaha Illallah maka akan dimasukkan syurga )
·      Ucapan La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. - Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.   Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, "Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah".
·      Ketauhidan ini menegaskan eksistensi satu-satunya tuhan/illah  yang yang patut disembah adalah Allah SWT.  Ini keimanan yang fundamental bagi seorang muslim.  Sebab Ilah atau Ma'bud (Arab) sering juga diartikan sebagai "tuhan", atau ‘khuda’ (Parsi), atau ‘Dewata’ (Hindu), atau “GOD” (bhs Inggris). Dan ‘illah’ atau tuhan tersebut bisa saja berwujud manusia, barang, kesenangan, harta, jabatan, dan lain-lian yang dipandang dapat mendatangkan ketenangan.  Karena itu ‘illah’ atau ‘tuhan’ tidak dapat disamakan dalam pengertian Tuhan Allah SWT.
·      Kalimah Syahadat “asyhadu an-laa ilaaha illallaah”  mempunyai dua rukun: Pertama, Laa ilaaha (لاَ إِلـهَ) =An-Nafyu (peniadaan) : yaitu meniadakan dan meninggalkan bentuk kesyirikan serta mengingkari segala seuatu yang disembah selain Allah Ta’ala.  Kedua, Illallaah (إِلاَّ الله ) = Al-Itsbat (penetapan): yaitu menetapkan bahwa tiada yang berhak disembah dan diibadahi melainkan Allah Ta’ala serta beramal/berperilaku dengan landasan ini.
·      Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur'an, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :  QS. Al-Baqarah (2: 256)
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_256.png
Laa ikrooha fid-diin ; Qot tabay-yanar-rusydu munal-ghoyy, Fa may yakfur bith-thooghuuti wayu’mim billaahi fa qodistamsaka bil ‘urwatil –wushqoo lanfishooma lahaa. Walloohu sami’un ‘aliim.
[2:256] Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
·      Ayat ini menjelaskan barang siapa yang ingkar kepada Thoghut, yaitu  syaitan dan apa saja sesembahan selain dari Allah SWT, ini merupakan makna annafyu- “laila”. Dan beriman hanya kepada Allah SWT ini makna al-itsbat- “illallooh”

Syahadat Fondasi Ketauhidan
·      Pengucapan Kalimah Syahadat tentu tidak saja berhijrah dari alam kafirun ke maqom muslimun, lebih dari itu Kalimah Syahadat merupakan fondasi bagi kita untuk dapat meningkat sampai pada “maqomam-mahmudah” maqom tertinggi yaitu “Muttaqin”.
·      Kalimah tauhid "Laa Ilaha Illaallah" mengandung maksud secara esoteric (penerimaan secara alamiah/takdir) maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya, disembah / diabdi selain Allah (Tauhid Uluhiyah) dengan kepengaturan-Nya/ajaran-Nya sebagai Rabb (Tauhid Rubbubiyah).
·      Siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada maha pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka konsekuensinya ia harus mengakui tauhid ulluhiyah bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala . QS. Al-Fatihah (1:5) iyyaaka na’budu/hanya kepada Engkau kami menyembah; wa iyyaka nasta’in/dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan)
·      Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ‘ilah’ maknanya adalah ma'bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do'a kecuali Allah SWT, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Allah SWT, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Allah SWT, tidak ada yang patut dimintai perlindungan kecuali Allah SWT, tidak ada yang patut di puji kecuali Allah SWT, tidak ada yang pantas menerima seluruh aktivitas ibadah kita kita kecuali Allah SWT.  Allah SWT telah memerintahkan untuk menyembah Tuhan Allah SWT yang telah menciptakan kamu dan sebelum kamu, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah (2:21) :

Yaa ayyuhan-naasu’buduu robbakumul-ladzi kholaqolakum wal ladziina min qoblikum la’allakum tattaquun.
[2:21] Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
[Baca juga :QS. Ali-‘Imraan (3:2); QS. Adz-Dzariyat (51 : 56)]
·      Sedang, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Makanya, tauhid uluhiyah itu merupakan hasil dari keyakinan seseorang akan tauhid Rububiyah.
QS. Al-An'am (6:102)
Dzaalikumullohu robbukum , laa ilaaha illaahuu khooliqu kulli syai’in fa’ buduuh, wa huwa ‘alaa kulli syai’iw wakiil.
[6:102] Demikian itu ialah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu"
·      Memang seseorang telah memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta (Ululhiyah), dengan pertanyaan : “siapa yang member rezeqi kepada kita” disini tauhid rubbubiyah diuji, apakah juga meyakini bahwa hakikatnya yang mengurus hidup kita adalah Allah SWT, banyak orang mengingkarinya dengan meyajini bahwa harta berlimpah karena dia bekerja.
·      Nah, itulah kenapa masih ada orang yang menjadikan pekerjaannya sebagai Illah/tuhan? Kenapa orang menjadikan uang sebagai Illah/Tuhan ? dan asesoris dunia lainnya dijadikan Illah/Tuhan ?.  Itu semua karena ia lemah pada Rububiyahnya. Dia kira, dia dapat rezeqi dari bekerja saja.  Dari sini kiita tahu betapa pemantapan tauhid rububiyah menjadi penting, karena tauhid rububiyah menyangkut tauhid al-af’al.
·      Rububiyyah adalah aspek-aspek Allah sebagai Rabb yang terjabar pada al-Akwan (Alam Semesta) dan al-Kitab. Hukum-hukum yang terlaksana di alam semesta (makro kosmos) maupun alam manusia (mikro kosmos, secara fisik) merupakan penjabaran Rububiyyah Allah.
QS. Al_Fatihah (1:2) :
Alhamdu lillahi robbil ‘alamiin / Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam

QS. An Naas (114:1),
Qul a’uudu birrob binnaas
[114:1] Katakanlah: “aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.
·      Rabb diterjemahkan  Tuhan yang ditaati Yang Maha Mengatur, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mendidik dan Yang Maha Memelihara.
·      Ketika Nabi Musa bersama kaumnya dalam kondisi terjepit sewaktu di kejar Fir’aun dan pengikutnya, karena di depan ada laut. Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan.   Jawab Nabi Musa “Qoola kallaa inna ma ’iya robbi sayahdiin’ [QS. Asy_Syu’ara (26:62)]
[26:62] Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".
·           Dalam surah ke 26 Asy-Syu’ara yang menceritakan perlawanan Fir’aun kepada nabi Musa as tersebut, pada ayat 62 kalimatnya, Inna ma ’iya Robbi, bukan inna ma’iya Ilaahi.   Dalam kasus ini, menggambarkan bahwa ketakutan pengikut Musa as. bukan tidak percaya adanya Allah swt yang patut disembah (ululuhiyah), tetapi sebagai Rabb (rububiyah/Yang Maha Mengatur) dia masih lemah.

Sinergitas rubbubiyah dan ikhtiayar, menghasilkan tawakkal
·      Harus ada kesatuan antara keyakinan Rububiyah dengan usaha manusia, kesatuan ini terdapat pada usaha untuk mendudukkan secara proporsional, antara usaha dan hasil.   Hidup ini menjadi susah, karena kita ikut-ikut mengurusi hasil dari usaha yang kita lakukan. Padahal wilayah kita di usaha itu. Inilah konsep tawakkal di Islam.
·      Sebuah riwayat, seorang sahabat yang membawa kuda bertanya kepada Rasululloh saw, “Ya Rasul, apakah saya harus mengikat kuda ini atau saya tawakkal saja?”, Kemudian Rasululloh berkata i’qil fatawakkal ‘ala Allah swt (ikatlah, baru tawakkal kepada Allah swt).
·      Di sini terlihat bahwa tawakkal itu ada di titik terakhir, ketika ia ingin menguatkan tauhid Rububiyah. Ketika kita tawakkal, apapun usaha kita, itu adalah kewajiban kita sebagai manusia, mengenai hasilnya kita kembalikan kepada Allah swt. Demikian seseorang bisa memposisikan Allah swt sebagai Rabb.
·      Maka dari itu, untuk mencapai tauhid Rububiyah haruslah dilakukan ‘3i’ sebagai wilayah manusia, dimulai dengan ikhtiyar/berusaha, lalu kemudian ijtihad/profesionalitas dalam bidang yang dikerjakan, serta ihtiyath/hati-hati agar usahanya tak menghalalkan segala cara.
·      Nah ketika manusia sudah ikhtiyar, ijtihad, dan ihtiyath, pasti ia berharap mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diinginkan? Di sinilah titik tawakkal berada. Pada titik ini tawakkal menyatu dengan tauhid Rububiyah.
·      Keduanya (Uluhiyah dan Rubbubiyah) ternyata saling mensyaratkan; keyakinan kita kepada Allah swt yang patut disembah (ululhiyah), harus dibarengi dengan keyakinan bahwa Allah swt-lah yang mengatur, mengurusi, dan membimbing segenap praktik hidup, mulai dari soal rezeki, karir, jodoh, nasib, cita-cita, dsb. (Rubbubiyah). Kesatuan dalam ketauhidan Rubbubuyah dan ulluhiyah ini yang menjadikan seseorang tenang dalam hidupnya.
Bila kedua tauhid itu terpisahkan.
·      Seorang muslim taat dalam ibadahnya (ya sholat, zakat, puasa, atau bahkan sudah haji), tetapi ketika ia lebih takut urusan duniawinya (dalam aktivitasnya tidak mengikutsertakan keberadaan Allah swt, tidak mengparesiasi adanya surga dan neraka), ia bisa dikatakan lebih men-tuhankan (duniawinya seperti harta, jabatan, karier, dll). 
·      Maka, segenap ibadah Ilahiyah kehilangan makna, sehingga ketika yang diinginkan tidak tercapai, ia mengeluh ; “Ah, ternyata aku sholat, puasa, zakat, bahkan sudah haji, hasilnya ya begini-begini saja.”.
·      Disaamping itu, Orang tak bisa menentukan dirinya sendiri, karena yang menentukan adalah Allah swt. Yang bisa dilakukan adalah ‘3i’ tadi (ikhtiyar, ijtihad, ikhtiyath). Jadi kalau ada orang miskin kok susah, itu bukan karena kemiskinannya, tetapi karena Tuhan hilang dari dirinya. Begitu juga sebaliknya; kalau ada orang kaya bahagia, itu pasti bukan karena hartanya, tetapi karena Tuhan ada dalam dirinya.   Orang demikian ini, telah kehilangan tauhid uluhiyah-nya, karena dalam praktik sehari-hari, ia tak memiliki tauhid Rububiyah. 
·      Dengan kata lain, pada level syar’i, ketika seorang muslim mengikrarkan diri beriman kepada Allah Swt. namun dalam praktek hidupnya  tak sesuai dengan syariat Allah swt, dan mencabangkan Allah SWT dengan ilaah-ilah yang lain, maka ia belum disebut bertauhid.
·      Dalam hal ini, Allah swt mengingatkan seperti firmannya dalam Kitabulloh :
QS. Yassiin (36:74) :
Wattakhodzuu min duu nillahi aalihatal la’al lahum yunshoruun.
[36:74] Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
·      Pentuhanan kepada Allah SWT pada level batin dan ibadah ritual, haruslah dibuktikan dengan pentuhanan Allah swt, melalui jalan hidup yang sesuai dengan syari’at-Nya, sehingga segala perilaku ibadah ritual (syahadatnya, sholatnya, zakatnya, puasanya dan hajinya) terpancarkan dalam perilaku sosialnya. 
·      Artinya perilaku ibadahnya berbanding lurus dengan perilaku sosialnya, bukan sebaliknya perilaku ibadah-ibadah ritualnya berbanding terbalik dengan perilaku social.  Ungkapan ibadahnya kenceng, tetapi perilaku yang tidak islami juga kenceng, semoga sudah lepas dari kehidupan kita. Insya Allah !!.
·      Akhirnya, untuk menyempurnakan dalam keimanan, keislaman dan keikhsanan kita secara kaffah, Kyai Kondang Zainudin MZ (Almarhum) memberi tip proses yang perlu dilakukan yaitu ” Takholli  - Takhalli – dan Tajalli ”  (satu jenis huruf arab yang letak titiknya berbeda, jim-kha’ dan kho’)
Takholli,  membersihkan jiwa dan bathin kita dari pikiran-pikiran yang merangsang untuk berpeilaku buruk (sirik, dengki, culas, malas, dll)
Takhalli,  isi dengan niat-niat kebaikan di jalan Allah SWT
Tajalli,  maka akan datang karomatullah berupa petunjuk, perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT.
·      Demikian itu, seharusnya seseorang yang telah berikrar dengan dua kalimah syahadat, syahadat tauhid dan syahadat rasul dalam menjalani kehidupannya, karena ia telah hijrah dari alam kafirun kea lam muslimun.  (Bersambung ke Syahadat Rasul)***

Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallohumma wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh







Label: