Maulid Nabi Muhammad SAW

20.29 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
Bissmillaahirahmaanirrahim
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin / Wash-sholaatu was-salaamu
‘alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin / Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Segala puji-pujian hanya milik Allah Tuhan pemelihara alam semesta.
Semoga rahhmat dan salam terlimpah kepada seorang Nabi dan Utusan yang paling mulia Yaitu junjungan Nabi Muhammad SAW, dan kepada keluarganya para sahabat semua.
Amma ba’du

Setiap tanggal 12  Rabiul awal, kita umat Islam biasa memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW yang maksudnya untuk menghormati lahirnya Rosululloh SAW.  Di Jogjakarta peringatan ini dinamai “ Grebeg Maulud ”  yang dimeriahkan secara besar-besaran. Tujuannya baik, namun kebaikan itu jangan sampai membawa kita kepada sampai keluar dari hukum syar’inya, bagaimana seharusnya cara kita merayakannya, ini yang penting, sehingga perbuatan yang baik tadi tidak menyeret kita pada tindakan yang salah dan menyesatkan, lebih-lebih sampai pada perbuatan syirik.   Dalam syariat Islam dikenal  ada 3 perkara yang perlu kita pahami, yaitu  :
1.  Syahibusy-Syariah  dibidang Aqidah ( Keimanan )
Di dalam aqidah (iman) ini menggunakan gaya bahasa “ kalimat berita” . Jadi manusia hanya sekedar bertindak sebagai “ penyampai berita” dari Allah SWT tersebut.  Manusia hanya sekedar menerima perintah, maka dalam perkara akidah kita tidak boleh merubah ( mengurangi – atau menambah) firman Allah tersebut.  Jelasnya, masalah aqidah hanya Allah SWT kang ngasto pubo wasesane“ atau yang menetapkan ketentuannya. Misalnya, yang ada pada Arkanul Iman yang 6 (Rukun Iman)

2.  Syahibusy-syariah dibidang ibadah.
Didalam tataran ‘ibadah’, menggunakan gaya bahasa “ ibtikari” atau ciptaan Allah. Yang menciptakan, menyusun dan menetapkan masalah-masalah ibadah, hanyalah Allah SWT semata.
Disini kedudukan manusia hanya sekedar menjalankan/melaksanakan. Misalnya, sholat, zakat, puasa, haji sebagaimana yang ada pada Arkanul Islam yang lima.  Jelasnya, manusia tidak boleh membuat tata cara sendiri mengenai masalah ibadah ini, kita hanya dapat taat dan patuh. ( misalnya bikin cara sholat sendiri, puasa dengan cara sendiri, dll. )

3.  Syahibusy-syariah dibidang muamalah.
Dalam muamalah digunakan gaya bahasa “selektif edukatif”, maksudnya manusia bebas melaksanakan muamalah dalam bentuk apapun, asal baik, mendidik dan tidak melanggar syariat agama Islam.
Jelasnya didalam hal muamalah orang merdeka memilih mana yang terbaik dari yang baik (dalam koridor hukum aqidah dan ibadah ).
Dalam hal muamalah ini Rosulullah SAW bersabda : “ Perkara aqidah dan iabadah kamu semua berkiblatlah kepadaku, tetapi bab muamalah kamu berlebih tahu adanya 

Dengan demikian, peringatan Maulud Nabi itu berada pada hukum akidah, ibadah, atau muamalah ?  kalau dibandingkan dengan ‘Idul fitri, ‘Idul Qurban, Isyro’ Mi’roj, semua sudah ada “nash” di Al Qur’an, tetapi kalau Maulud Nabi sepengetahuan saya kok tidak ada, jadi hukumnya ya muamalah yang diharapkan menjadi amalan sholicha.  Karena merupakan perbuatan muamalah, peringatan Maulud Nabi ini tergantung kita, melaksanakan boleh, tidak melakukan pun tidak apa.  Dan kalau kita melaksanakan ya harus selektif-edukatif, jangan sampai “murang-syara” atau melanggar syariat, atau bahkan menjadi syirik
Kalau kita telusuri riwayatnya atau lembaran historis dari adanya peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW ini pada zaman Rasul, pada zaman para sahabat Rasul, tabi’in,--- ternyata belum ada kegiatan peringatan ini. Adanya baru setelah ratusan tahun kemudian, sesudah Rosullulloh wafat, yaitu sekitar abad ke-IV hijriyah ( 647-674 M).  Pada saat itu terjadi perang salib, perang antara umat Islam dengan umat Nasoro dalam meperebutkan jerusalem.  Pasukan tentara Islam dipimpin oleh Panglima Perang SULTAN SALAHUDIN yang bergelar MUHAMMAD YUSUF SALAHUDIN AL AYUBI mengalami kemunduruan semangat dan berjihat maju perang.
Dalamm kondisi yang demikian itu, Sultan Salahudin berfikir untuk mencari cara bagaimana menumbuhkan semangat para prajuritnya itu.  Setelah dibicarakan dengan para komandan pasukan, akhirnya diadakan acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, dalam kesempatan itu Sultan Salahudin mengungkap kembali kisah perjuanagan Nabi Muhammad SAW.   Setelah peristiwa ini, ternyata semangat prajurit untuk berjihat menegakkan kalimah-kalimah Allah SWT bangkit lagi sehingga menang dalam peperangan tersebut.  jadi mutivasi diadakannya peringatan ini sudah jelas untuk menyegarkan kembali motivasi untuk meneladani kehidupan Rasululloh SAW. 
Nabi Muhammad, adalah manusia (bukan dari golongan jin dan malaikat), maka beliau memiliki sifat-sifat fitrah manusia seperti kita juga seperti, makan, tidur, berumah tangga, bersosial, dan wafat. Allah SWT menegaskan dalam hal ini seperti dalam QS. At_Taubah (9:128) :
laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum 'aziizun 'alayhi maa 'anittum hariishun 'alaykum bilmu/miniina rauufun rahiim
[9:128] Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Beliau adalah hamba Allah dari golongan manusia. Tetapi beliau sebagai Rosul Allah makhluk yang paling sempurna dengan sifat yang mulia.  Allah SWT menegaskan tentang siapa Muhammad saw.: qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuhaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun…./Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". …….. [QS. Al-Kahfi ( 18:110)]
Q.S. Al-Ahzab (33:40) :
Maa kaana Muhammadun aabaa akhadim-mir rijaalikum wa laakir-rosuulallohi wa khootaman-nabiyyiin, wa kaanalloohu bi kulli syai’in ‘alimaa.
 [33:40] Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu1224, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kanjeng Nabi, adalah putra Abdullah bin Abdul Muntholib, Ibunya Aminah binti Wahab, ia keturunan dari suku Quraisy. 
Beliau lahir di Mekkah pada hari SENEN, 12 RABIUL AWAL tahun Gajah ( 20 April 671 M), Silsilah keturunan beliau dari Nabi Isma’il bin Nabi Ibrahim as. Beliau menjadi yatim sewaktu masih dalam kandungan (usia kandungan 6 bulan) karena ayah beliau wafat pada usia 18 tahun, jenazahnya dimakamkan di Madinah. Pada usia 6 tahun, beliau ditinggal ibunya wafat ( sepulang dalam perjalanan dari Madinah, setelah berziarah makam suaminya, ayahanda Nabi Muhammad SAW di kampung Abwa ).  Kedua orang tua beliau meninggal tanpa meninggalkan harta kekayaan yang berlimpah bagi beliau.
Beliau memiliki kemukjizatan sejak beliau dilahirkan dan berada dilingkungan yang telah dijaga oleh Allah SWT. Coba luhat saja biografi beliau :  Beliau lahir, hijrah dan wafat pada hari Senin bulan Rabiul awwal. Ayah beliau bernama Abdullah, yang berarti pengabdian kepada ALLAH, Ibunya Aminah yang berarti Kedamaian dan Keamanan; Bidan yang menangani kelahiran beliau bernama Asy-Syifa yang arinya kesembuhan, perolehan sempurna dan memuaskan; Sedangkan yang menyusukan beliau bernama Halimah yang artinya Yang Lapang Dada. Beliau sendiri diberi nama Muhammad yang artinya Yang Terpuji, suatu nama yang baik yang sebelumnya tidak dikenal sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, "mengapa kakeknya menamainya demikian?"
Dalam perjalanan hidupnya beliau mendapat sebutan dari orang-orang disekelilingnya dengan sebutan “ AL AMIN”  karena sikap dan perlilaku  beliau yang jujur, pemaaf, pemalu, terhormat, adil dan bijaksana.
Kerosullan Muhammad, ketika beliau menginjak usia 40 tahun, malam 17 Romadhon, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, sewaktu beliau berkhalwat dan beribadat di Gua ‘Hiro’” datanglah malaikat Jibril as. Membawa tugas suci dari Allah SWT untuk Muhammad.
Pada waktu itulah, wakyu pertama kalinya diturunkan, yaitu Surat Al 'Alaq yang berarti Segumpal Darah, surat Ke-96 terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al Quran yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad s.a.w. berkhalwat di gua Hira'. Surat ini dinamai Al 'Alaq (segumpal darah), diambil dari perkataan Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan Iqra atau Al Qalam.
Ayat pertama : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
iqra/ bi-ismi rabbikalladzii khalaq
Dan ayat kedua : Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari segumpal darah
kholaqol-insaana min 'alaq

Perintah membaca Al Quran; manusia dijadikan dari segumpal darah; Allah menjadikan kalam (ayat ke 4) sebagai alat mengembangkan pengetahuan; manusia bertindak melampaui batas karena merasa dirinya serba cukup; ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.
Dan inipulalah saat penobatan beliau sebagai Rosululloh, utusan Allah SWT kepada seluruh umat manusia sampai akhir jaman. Tugasnya adalah sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an Surah Al-Anbiya (21:107) Wa  Maa  Arsalnaaka Illa Rahmatan Lil ‘Aalamin  (tiada kami utus engkau /Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam ).
Sebelum Nabi Muhammad di angkat sebagai Rosululloh, dunia jagat raya ini secara bathiniah dalam keadaan gelap gulita kalau dalam istilah tarech nabi, dinamakan “jaman jahilliyah “ (orang Jawa menyebutnya “jamane akeh wong jahil ).   Di jaman jahilliyah ini, manusia dalam keadaan “qolbun muttaqoliba “, manusia yang hatinya berbolak-balik, tidak tentram, gelisah (qolbun=hati, qolaba=bolak-balik ).  Kegelapan hati manusia seperti itu, membutuhkan rahmatullah / rahmatan dari Allah SWT berupa “ penerang hati“ yang berupa : Dienul Haq - Dienullah ‘ Addinul Islam “ yang dibawa oleh Muhammad Rosululloh SAW, Kalau kita bisa istiqomah sebagai ummatnya, insyaallah kita akan salama / aslama / selamat dunia akherat.
Muhammad Rosululloh SAW sendiri menegaskan bahwa tugasnya adalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak, Innamaa Bu’itstu Litammimma Makarimal Akhlak,  melalui ajaran yang telah diwahyukan kepadanya.  Untuk ini Allah SWT telah menunnjukan bahwa, “ Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam -  Innalladzina ‘ Indallahhil Islam “ ( QS. Al-Imran [3]:19 )
Dalam firman Allah SWT dala Surah At_Taubah 128, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin
"Allah tidak mengatakan 'rasul dari kalian' tetapi mengatakan 'dari kaummu sendiri'," kata Sayyid Qutb saat menjelaskan ayat ini dalam Fi Zhilalil Qur'an, "ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya dan lebih menunjukkan ikatan yang mengaitkan mereka. Karena beliau adalah bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif."
"Allah SWT menyebutkan limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orangy mukmin melalui seorang rasul yang diutus oleh-Nya dari kalangan mereka sendiri," tulis Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat yang sama, "yakni dari bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka."
Rasulullah merasakan beratnya penderitaan dan kesulitan umatnya, bahkan lebih berat bagi Rasulullah daripada apa yang dirasakan oleh umatnya sendiri. Maka setiap saat yang diperjuangkan adalah umat, yang dibela adalah umat, yang dipikirkan menjelang wafat adalah umat. "Ummatii... ummatii...", kata Rasulullah yang selalu memikirkan umatnya menjelang wafatnya.
Rasulullah juga sangat menginginkan umatnya memperoleh hidayah serta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Maka segala hal yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada umatnya telah beliau sampaikan. Segala hal yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka beliau paparkan. Bahkan Rasulullah menyimpan doa terbaiknya untuk umatnya kelak di yaumul hisab agar umatnya beroleh syafaat. Itulah bentuk-bentuk kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.  Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim,  Dari Qatadah, beliau bertanya kepada Anas bin Malik, “Doa apa yang paling sering Nabi panjatkan?” jawaban Anas, “Doa yang paling sering Nabi panjatkan adalah ucapan allahumma atina fid dunya khasanah wa fil akhirat khasanah wa qina adzabbannar”. 
Kedekatan Rasululloh SAW dengan Allah SWT bahkan diabadikan dalam kalimah syahadat :
Syahadat1.gif
asyhadu an-laa ilaaha illallaah
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah
Syahadat2.gif
wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.
Setelah kita bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusaNya. Persaksian untuk Rasulullah Saw dengan dua sifat ini meniadakan ifrath (berlebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah saw . Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Konsekuensi Ar-Rasul Qudwatuna (Rasul Teladan kami)
Meneladani sikap dan perbuatan Nabi Muhammad Rasululooh SAW dalam kehidupan sehari-hari merupakan konsekuensi seorang muslim ketika berikrar dengan dua kalimah syahadat.
Kesempurnaan Rasululloh SAW yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya menjadikan Rasululloh SAW sebagai tauladan dan panutan kita sebagai seorang mulim baik dalam aspek ibadah, aspek zuhud, aspek tawadu’, aspek akhlak dalam kesabaran dan pemaaf, aspek kekuatan fisik (menjaga kesehatan) aspek keberanian (fisabilillah), aspek manajemen (mengelola kekuasaan), aspek keamanahan, aspek kesantunan dan etika, aspek aqidah dan syariah, serta aspek-aspek dalam kehidupan yang imani.
Meneladani kerasulan Nabi Muhammad SAW, sebagai konsekyensi dari ikrar dua kalimah syahadat, pada rukun syahadat kedua, yaitu Syahadat Rasul, “wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah” , ada beberapa sikap dan perilaku yang bisa dilakukan, untuk mewujudkan Rasulullah SAW sebagau ‘qudwatuna’ atau teladan kami, adalah :
Pertama, Mencintai Rasul. Kecintaan kepada Rasululloh SAW ditempatkan pada urutan kedua, setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Ini dilakukan sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmanNya QS. At_Taubah (9:24)
qul in kaana aabaaukum wa-abnaaukum wa-ikhwaanukum wa-azwaajukum wa'asyiiratukum wa-amwaalun iqtaraftumuuhaa watijaaratun takhsyawna kasaadahaa wamasaakinu tardhawnahaa ahabba ilaykum minallaahi warasuulihi wajihaadin fii sabiilihi fatarabbashuu hattaa ya/tiyallaahu bi-amrihi walaahu laa yahdiil qawmal faasiqiin
[9:24] Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Hadits Rasululloh SAW diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasululloh SAW bersabda : “Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintai dari pada dirinya, anak serta orang tuanya serta manusia seluruhnya” (HR. Bukahri-Muslim)
Kedua, Membenarkan, mengikuti dan mentaatinya.  Sebuah sikap dan prinsip yang harus dimiliki oleh setiap seorang muslim sebagai pengikut Rasululloh SAW. Sikap dan prinsip ini akan dapat member ampunan bila kita melakukan kekhilafan, sebagaimana Firman Allah SWT (QS. Ali_Imran [3:31]) :


qul in kuntum tuhibbuunallaaha fattabi'uunii yuhbibkumullaahu wayaghfir lakum dzunuubakum walaahu ghafuurun rahiim
[3:31] Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat berikutnya (QS. Ali_Imran [3:32])  Allah juga menegaskan :
qul athii'uullaaha warrasuula fa-in tawallaw fa-innallaaha laa yuhibbu lkaafiriin
[3:32] Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

Membenarkan dan mentaati Rasululloh SAW sudah menjadi keharusan mutlak bagi umat muslim sebagai pengikut Rasululloh SAW, sesungguhnya kunci kemuliaan seorang muslim terletak kepada ketaatannya kepada Allah SWT dan Rasululloh SAW, ini merupakan konsekuensi mutlak dari ikrar dua syahadat, yaitu syadat tauihid dan syahadat rasul  yang telah diucapkan. Untuk hal in I Allah berfirman :
(QS. An_Nisaa’ [4:59])
yaa ayyuhaalladziina aamanuu athii'uullaaha wa-athii'uu rrasuula waulii l-amri minkum fa-in tanaaza'tum fii syay-in farudduuhu ilaallaahi warrasuuli in kuntum tu/minuuna bilaahi walyawmi l-aakhiri dzaalika khayrun wa-ahsanu ta/wiilaa
[4:59] Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

(QS. An_Nisaa’ [4:80])
man yuthi'i rrasuula faqad athaa'allaaha waman tawallaa famaa arsalnaaka 'alayhim hafiizhaa
[4:80] Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta'ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta'atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka321.

(QS. Al_Hujarat [49:1])

yaa ayyuhaalladziina aamanuu laa tuqaddimuu bayna yadayillaahi warasuulihi wattaquullaaha innallaaha samii'un 'aliim
[49:1] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya1408 dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sesungguhnya ketaatan kepada Rasululloh SAW sama kedudukannya dengan ketaatan kepada Allah SWT. Manakala seorang muslim taat kepada Rasul maka ia juga akan taat kepada Allah SWT demikian juga sebaliknya ketaatan kepada Allah SWT berimplikasi pada ketaatan kepada RasulNya.
Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasululloh SAW kan berdampak pada kenikmatan hidup sebagaimana yang dirasakan oleh para nabi, orang-orang yang sholeh, yang mati syahid. Dan mereka itu adalah sahabat yang paling baik kita dalam mengarungi hidup ini. Firman Allah SWT (QS. An_Nisaa’ [3:69]) :
waman yuthi'illaaha warrasuula faulaa-ika ma'alladziina an'amallaahu 'alayhim mina nnabiyyiina washshiddiiqiina wasysyuhadaa-i washshaalihiina wahasuna ulaa-ika rafiiqaa
[4:69] Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin314, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Ketaatan kepada RasulNya, juga dapat menghantarkan dan menjadikan kunci untuk masuk surga, seperti yang disabdakan Rasululloh SAW : “ Semua umatku akan masuk surge, kecuali yang tidak mau” Sahabat bertanya : “Siapa yang tidak mau ya Rasululloh”; Beliau menjawab : “ Siapa yang taat kepadaku ia akan masuk sorga dan siapa yang durhaka kepadaku, ia termasuk orang yang tidak mau atau masuk neraka”  (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Ketiga, Berdakwah dan melanjutkan tugas risalah Muhammad SAW. Misi dan tugas utama Rasululloh SAW adalah untuk menyampaikan risalah illahiyah, yaitu mengajak dan menyeru seluruh umat manusia untuk bertauhid, beriman dan tunduk kepada Allah SWT.  Tugas ini harus terus berlanjut mengiringi putaran bumi sampai akhir zaman. Apa yang akan terjadi bila seruan beramar ma’ruf tidak ada lagi yang melakukan, gempuran iblis syaithonirrojin akan meraja lela menuntun umat manusia kejalan kekufuran dan kemusyrikan, menjauhkan dari kehidupan yang islamiyah-imaniah illahiyah yang telah dicontohkan oleh Rasululloh SAW.  Karena itu melanjutkan berdakwah, beramar ma’ruf harus menjadi tugas para pengikut Rasululloh SAW, Allah SWT berfirman :
(QS. Ali_Imran [ 3:104]) :
waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun
[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar217; merekalah orang-orang yang beruntung.

(QS. An_Nahl [ 16:125]) :
ud'u ilaa sabiili rabbika bilhikmati walmaw'izhati lhasanati wajaadilhum billatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wahuwa a'lamu bilmuhtadiin
[16:125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah845 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam sebuah hadits Rasululloh SAW bersabda :” sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat “ (HR. Ahmad, Bukhari dan At_Tirmidzi)

Menyampaikan dan menyerukan kalimah Allah SWT ini bila dilakukan dengan baik, maka kita akan memperoleh derajat yang tinggi disisi Allah SWT dan dimasukan dalam golongan umat yang baik atau ‘khoiru ummah’ sebagaimana firman Allah SWT :
(QS. Ali_Imran [3:110])
kuntum khayra ummatin ukhrijat linnaasi ta/muruuna bilma'ruufi watanhawna 'ani lmunkari watu/minuuna bilaahi walaw aamana ahlu lkitaabi lakaana khayran lahum minhumu lmu/minuuna wa-aktsaruhumu lfaasiquun
[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

(QS. Fushshilat [41:33])
waman ahsanu qawlan mimman da'aa ilaallaahi wa'amila shaalihan waqaala innanii mina lmuslimiin
[41:33] Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Dalam hadits Rasululloh SAW bersabda : “Barang siapa menunjukan pada suatu kebaikan atau kebajikan, maka ia akan mendapat pahala seperti yang mengerjakan”  (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Keempat, Menghidupkan sunnah-sunnah Rasul. Menjalankan dan menghidupkan sunah-sunah rasul adalah bentuk kecintaan kita terhadap keteladanan Rasululloh SAW. Beliau telah mewariskan kepada kita Al_Qur’an dan Al-Hadits yang harus digunakan sebagai rujukan dalam menjalani kehidupan di dunia ini, bila kita menginginkan kehidupan di akherat kelak yang lebih baik. 
Dengan berpegangan kepada Al_Qur’an dan Al_Hadits kita dihindarkan dari perbuatan bi’ah dalam perkara-perkara ubudiyah, karena Rasululloh SAW sudah mengingatkan dalam sabdanya : “ Sesungguhnya siapa yang hidup sesudahku, akan mengalami banyak pertentangan. Oleh karena itu, kalian semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut. Dan waspadailah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka “ (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim,. Baihaqi dan at_Tirmidzi).
Agar berpegang pada Al Qur’an dan al hadits tersebut memang ditegaskan oleh rasululloh SAW dalam sabda beliau : “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh dengannya, yaitu kitab (Al Qur’an) dan sunnahku” (HR. Hakim)

Kelima, Menghormati para ulama’. Ulama merupakan pewaris para nabi, Dalam hadits Nabi bersabda :“Sesungguhnya ulama adalah pewaris nabi”. Rasululloh SAW memerintahkan agar menghormati para ulama. Ulama yang dimaksud adalah orang yang berilmu, dan dengan ilmunya itu menjadikan ia sangat takut (bertaqwa) kepada Allah SWT, yang demikian itulah ulama khoir, bukan ulama syu’ akhir jaman, yaitu ‘ulama’ yang mengikuti hawa nafsunya yang halal menjadi haram dan yang haran menjkadi halal, dunia jadi tujuannya, seruannya mebuat kegaduhan umat, tidak amanah dan tidak istiqomah. Allah berfirman (QS Fathir [35:28] :
wamina nnaasi waddawaabbi wal-an'aami mukhtalifun lwaanuhu kadzaalika innamaa yakhsyaallaaha min 'ibaadihi l'ulamaau innallaaha 'aziizun ghafuur
[35:28] Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama1258. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
[([1258]. Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.]

Demikianlah hikmah yang bisa diambil dalam kita memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, semoga shoalat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, berserta keluarganya, para sahabat, serta para pengikutnya sampai akhir zaman.   (Sya’ban 1436 H_ahas)****.

Waloohu a’lam bishowab
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh



Label: