Istiqomah Dijalan Lurus

16.47 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



ISTIQOMAH DI JALAN YANG LURUS

http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif
Ass wrwb
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin / Wash-sholaatu was-salaamu
‘alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin / Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin
Robbisy-rohlii shod-ri / Wa yas-sirlii  amri / Wahlul ‘uqdatam-millisanii/
Yaf qohuu – qoulii / Robbi -zidnii ‘ilman / War zughni  fahma./
Amma ba’du
Istiqomah.
Dalam Al-Qur’an, setidaknya ada 6 ayat yang menjelaskan masalah  istiqomah ini, yaitu pada Surah Yunus [10:89],  QS. Huud [11:112]  ; QS. Ibrahim [41:6] ; QS. Asy-Syuura [42:15 ]; QS. Al_Jaatsiyah [45:18]; dan QS. Al_Ahqaaf [46:13] .
QS. Al_Ahqoof (46:13-14)
46_13
innalladziina qooluu robbunaalloohu tsumma istaqoomuu falaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuun
[46:13] Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah (maksudnya teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh)  maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
46_14
ulaa-ika ash-khaabul jannati khoolidiina fiihaa jazaa-an bimaa kaanuu ya'maluun
[46:14] Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus atau teguh pendiriannya; Secara terminologi, istiqomah diartikan dengan beberapa pengertian berikut :
·      Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid;
·      Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah & larangan & tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang” ;
·      Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”
·      Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
Istiqomah, punya makna tetap di jalan yang lurus (Ash-Shirothol Mustaqim), dimanapun dan dalam keadaan apapun. meskipun orang disekitar kita sudah bengkok dan tidak lagi taat terhadap nilai-nilai ajaran Allah SWT. Istiqomah, teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh.
Setiap orang mukmin, selalu berdo'a dengan mengucapkan “tunjuki kami jalan yang lurus” (ihdinash-shiratal mustaqim) paling tidak 17 kali dalam sehari saat menjalankan sholat fardhu lima kali sehari yang setiap roka’atnya selalu membaca Suratul Fatikhah.
Jalan lurus yang diistiqomahi itu adalah  "shiratlladzina an'amta 'alaihim" yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri  nikmat atas mereka. " Ghoiril maghdu bi'alaihim waladh-dholliin"   dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai  dan bukan yang sesat
Orang-orang yang dimurkai Allah SWT adalah orang-orang dari golongan Yahudi dan orang-orang yang sesat adalah golongan orang-orang dari nashara, keduanya telah menyimpang dari ajaran Islam.
Suatu ketika sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW, mengapa rambut beliu begitu cepat beruban.  Rasululoh menjawab, "Sebab  turunnya surat Hut dan saudara-saudaranya".  Yaitu surat yang memerintahkan "Istiqomahlah kamu sebagaimana AKU perintahkan "
QS. Hud [11:112] : 
11_112
fastaqim kamaa umirta waman taaba ma'aka walaa tathghow innahu bimaa ta'maluuna bashiir
[11:112] Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
QS. Yunus [10:89]. Allah berfirman:
10_89
qoola qod ujiibat da'watukumaa fastaqiimaa walaa tattabi'aanni sabiilalladziina laa ya'lamuun
[10:89] Allah berfirman :"Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui".
(baca juga QS. Ibrahim [41:6] ; QS. Asy-Syuura [42:15 ] ; QS. Al_Jaatsiyah [45:18]; QS. Al_Ahqaaf [46:13] )
Rupanya perintah untuk istiqomah (teguh pendiriannya atau konsisten terhadap suatu ketentuan atau nilai) menjadi pikiran yang berat pada diri Rosululloh SAW hingga membuat rambut beliau cepat memutih.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, orang-orang yang telah diberi nikmat itu adalah seperti yang dijelaskan dalam Surat An Nissa (4:69), yaitu Para Nabi, Shiddiqin (jujur, orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7, yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat), para Syuhada dan para Sholihin ( orang soleh).
4_69
waman yuthi'illaaha warrosuula faulaa-ika ma'alladziina an'amalloohu 'alayhim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaa-i wash-shoolikhiina wahasuna ulaa-ika rofiiqoo
[4:69] Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nissa [4]:69),
Nabiyulloh Ibrahim AS contohnya, adalah salah seorang yang dikenal sangat istiqomah dan tunduk terhadap perintah Allah SWT.  Saat dalam kebahagiaan menimang anaknya yang telah lama didambakan, setelah usia 1000 tahun baru punya anak, diperintahkan pergi kedaerah Bakkah (sekarang Makkah) meninggalkan "qurratu a'yun" Ismail dan isterinya, beliau tetap lakukan, demikian juga ketika diperintahkan mnyembelih anak semata wayang Ismail, juga beliau lakukan semata-mata karena taat dan patuh atas perintah Allah SWT " beliau selalu mengatakan "aslamtu lirobbil alamin"  aku tunduk kepada Rabb sekalian alam.

Makna Istiqomah
Sebuah hadits diriwayatkan dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi RA, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, katakan kepadaku perkataan tentang Islam dan aku tidak akan menanyakannya kepada siapapun sesudahmu.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakan aku beriman, lalu beristiqomahlah.’ (HR. Muslim)
Maksud hadits di atas, seperti yang dikatakan oleh Al-Manawi adalah perbaharuilah keimananmu kepada ALLAH dengan dzikir dengan hatimu dan berkata dengan lidahmu, sembari ingat seluruh makna-makna iman yang syar’i, kemudian istiqomahlah, maksudnya berkonsekwenlah mengerjakan ketaatan (ibadah) dan berhenti dari hal-hal yang dilarang. Memang Ma’ruf dan Munkar tidak akan pernah bisa bertemu, karena memang berseberangan.

Balasan Bagi Yang Istiqomah
Orang yang memilih istiqomah di manhaj (jalan yang jelas) ALLAH dan Rasul-NYA, yaitu jalan yang lurus yang diridhoi Allah SWT dan terus mempertahankannya hingga dapat istiqomah di atasnya sampai meninggal dunia, ada balasan yang menggembirakan dari ALLAH Ta’ala seperti yang diungkap dalam Al-Quran Surat Fushilat (41:30).
41_30
innalladziina qooluu robbunaalloohu tsumma istaqoomuu tatanazzalu 'alayhimul malaa-ikatu allaa takhoofuu walaa tahzanuu wa-absyiruu biljannatillatii kuntum tuu 'aduun
[41:30] Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Menurut ayat tersebut, yang dimaksud kabar gembira yang dibawa oleh malaikat bagi yang istiqomah terhadap Iman dan tauhid lailaha illallooh’ - "Tuhan kami ialah Allah"  yaitu:
Jangan Kamu Takut (allaa takhoofuu). Perasaan takut yang sering menghantui dalam kehidupan duniawi akan  nasib, jodohnya, rezekinya, ajalnya, dan lain-lain yang menjadi Kuasa Allah SWT. Demikian juga rasa takut dalam kehidupan di alam akherat nanti. Bagi yang istiqomah dengan iman dan tauhidnya, itu semua tidak perlu terjadi. 
Dan Jangan merasa Sedih (walaa takhzanuu). Demikian juga tidak perlu bersedih setiap mendapat cobaan hidup, baik itu cobaan kehilangan harta, sanak saudara, atau bahkan dirinya sendiri. Bagi yang istiqomah dengan iman dan tauhidnya, Allah SWT akan menggantikan untuk menangani semua urusan itu.
Bergembiralah Masuk Surga (wa absyiruu biljannati). Sesuai dengan yang dijanjikan Allah SWT.   Seperti yang  ditegaskan pada akhir ayat tersebut, wa-absyiruu biljannatillatii kuntum tuu 'aduun/Dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan ALLAH kepadamu”
Kemudian pada ayat berikutnya (41:32), Allah memberitahukan bahwa bagi orang-orang yang istiqomah dengan iman tauhid “ Tuhan kami ialah Allah “ diturunkan malaikat yang akan selalu menemani untuk membimbing dan melindungi (nahnu auliyaaukum/kamilah pelindungmu) baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akheratnya.
Quran Surat Fushilat (41:32).
41_31

nahnu awliyaaukum fii lhayaati ddunyaa wafii l-aakhirati walakum fiihaa maa tasytahii anfusukum walakum fiihaa maa tadda'uun
[41:31] Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.
Itulah kesertaan total para malaikat dengan orang-orang mukmin yang istiqomah di atas Ash-Shirat, sejak dalam kehidupan duniawinya yang penuh godaan, dan saat memasuki liang lahat, hingga kehidupan di akheratnya,. Para malaikat menenangkan orang-orang mukmin dan bersama mereka di seluruh momen di dunia dan di akhirat, karena mereka istiqomah di jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri ni'mat kepada mereka; bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.
Pemanjaan Allah SWT terhadap orang-orang mukmin yang istiqomah akan iman dan tauhid “lailaa haillallooh” dan tentu saja istiqomah atas komitmen “iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” , selain akan diturunkan mailkat untuk menemaninya, Allah SWT memanjakan dengan memberikan semua keininginannya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”.

Ash-shirothol-mustaqim.

Ada yang secara nakal mengatakan apa ada “shirohtol mustaqim” atau jalan yang lurus, kalau jalannya lurus saja nggak perlu belok kanan atau belok kiri apa bisa nyampe di tujuan.  Atau apakah “jalan yang lurus’ itu sebagai jalan hidup yang lempeng/lurus/tidak berkelok-kelok/tidak ada hambatan, dll seperti ungkapan “life never flat”?. Itu semua pegertian yang dangkal dan menyesatkan.
Bagi seorang muslim-mukmin yang taat menegakkan sholat, kata ash-shirothol-mustaqim sudah selalu terucap sedikitnya 17 kali dalam sehari semalam, yaitu saat kita melaksanakan sholat lima waktu yang didalamnya terdapat 17 roka’at, dan pada tiap roka’at membaca Surah Al_Fatihah.
Untuk mencari makna Ash-shirothol-mustaqim ya kita kembali ke sumber pokoknya yaitu Al_Qur’anul Karim. Dalam QS. Al-Fatihah (1:6-7) ditemukan arti “shirothol-mustaqimsebagai berikut :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/1/1_6.png
Ihdinaash-shiroothol mustaqiim
[1:6] Tunjukilah kami jalan yang lurus,
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/1/1_7.png
Shirootholladziina an 'amta 'alayhim ghoyrilmaghdhuubi'alayhim walaadh-dhoolliin
[1:7] (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ihdina  atau tunjukilah kami, dari kata hidayaah : memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.  
Do’a kita selalu memohon hidayah yang selalu dikuti dengan taufiq, karena dua anugerah ini akan membawa kita istiqomah kepada ash-shirot, keteguhan kita kepada jalan yang lurus, bukan jalan yang dimurkai dan bukan jalan yang sesat, yaitu jalan dari golongan orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam.
QS. Al-‘Ankabuut (29:69):
29_69
walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa-innallaaha lama'a lmuhsiniin
[29:69] Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Menurut kitab Jauharah Tauhid, pengertian taufiq ialah sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT yang mendorong seseorang itu untuk melakukan kebaikan jika perkara tersebut berada di dalam dirinya.
Taufiq tidak akan diberikan oleh Allah Azza Wajalla melainkan hanya kepada mereka yang bersungguh-sungguh mengabdikan diri dengan rasa kehambaan demi mendekatkan diri kepada-NYA. Bahwa dengan adanya taufiq, manusia akan cenderung untuk melakukan kebaikan terus menerus sehingga ke akhirnya.
Taufiq dan hidayah sering tidak selakigus diterima oleh manusia, oleh karena itu, banyak orang sudah mendapat hidayah Allah menjadi seorang muslim, tetapi belum mendapat taufiqnya, sehingga masih jauh dari amalan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim-mukmin yang muttaqin. (banyak orang muslim tetapi masih juga korupsi, berarti dia sudah dapat hidayah sebagai seorang muslim, tetapi belum taufiq, sehingga belum mampu berbuat sesuai dengan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Allah swt).
Ash-shirothol-mustaqim bermakna “ash-shirothol’” artinya “jalan” dan “mustaqim” artinya “lurus”.  Yaitu jalan lurus  yang harus ditegakkan atau dikerjakan” oleh seorang manusia sebagai hamba yang dikehendaki oleh Allah SWT seperti yang Allah Firmankan dalam QS. Al_Baqarah (2:213) : “walaahu yahdii man yasyaau ilaa shiraathin mustaqiim /……Dan Alloh memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki kepada ash-shirothol-mustaqim.
Allah SWT juga memberikan sinyal siapa hamba_Nya yang diberi petunjuk atas “jalan yang lurus” tersebut, yaitu mereka yang berilmu sehingga bisa merasakan kebenaran Firmannya (QS. Al_Hajj [22]:54), walau iblis terang-terangan akan mengganggunya agar tidak pada jalan yang lurus (QS. Al-A’raaf [7]:16), Dan Muhammad Rosululloh telah dicontohkan Allah SWT sebagai yang berada diatas jalan yang lurus untuk menjadi tauladan umatnya.

QS. Al_Hajj (22:54),
22_54
waliya' lamalladziina uutuul 'ilma annahul haqqu min robbika fayu/minuu bihi fatukhbita lahu quluubuhum wa-innallooha lahaadilladziina aamanuu ilaa shiroothin mustaqiim
[22:54] dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.
QS. Al_A’raaf (7:16),
7_16
qoola fabimaa aghwaytanii la-aq 'udanna lahum shiroothokal mustaqiim
[7:16] Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus (yang ditegakkan),
QS.Yaasin 36 ayat 3-4,
36_3
innaka laminal mursaliin
[36:3] Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
36_4
'alaa shiroothin mustaqiim
[36:4] (yang berada) diatas jalan yang lurus,
QS.Az_Zukhruf (43:43):
43_43
fastamsik billadzii uuhiya ilayka innaka 'alaa shiroothin mustaqiim
[43:43] Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.
Dan sesungguhnya Muhammad Rasululloh SAW telah memberi petunjuk kepada ash-shirothol-mustaqim (jalan yang harus ditegakkan), sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam  QS. Asy-Syuura (42:52),”….. wa-innaka latahdii ilaa shiroothin mustaqiim/ Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Demikian juga dalam QS. Al_Mu’minuun (23:73),
23_73
wa-innaka latad 'uuhum ilaa shiroothin mustaqiim
[23:73] Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.
Lalu bagaimana wujud amalan yang menunjuk pada ash-shirothol-mustaqim itu ? Allah telah memerintahkan kepada Bani Adam supaya tidak menyembah syetan karena syetan adalah musuh yang nyata bagi kamu/alam a'had ilaykum yaa banii aadama an laa ta'buduusy-syaythoona innahu lakum 'aduwwun mubiin; dan henadklah kamu menyembah Allah, karena itulah jalan yang lurus/ wa-ani u'buduunii haadzaa shiroothun mustaqiim (QS. Yaasiin (36:60-61),
Ash-shirothol-mustaqim itu secara substansi adalah “ mengabdi/ menghambakan diri kepada Alloh saja” (ya’budulloha wa la yusyriku bihi syai-an), hal ini sebagai konsekuensi dari komitmen dan iqrar seorang muslim tatkala membaca kalaimah sahadat, yaitu syahadat tauhid, “laillahailallooh”/tiada tuhan selain Allah, dan syahadat rasulnya, Muhammad adalah utusan Allah. (Silahkan baca juga :QS. An_Nahl (16:36),  Ali Imran (3:51);  Al_Baqoroh (2:195, 198), An_Nisaa’ (4:103), Al_An’aam (5:8))

Ada beberapa sebab utama yang bisa membuat seseorang tetap teguh atau istiqomah dalam keimanan, yaitu dengan “Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar”.  Ini menuntunkan seseorang agar bisa beragama dengan baik yaitu menjaga ketauhidannya dan selalu mengikuti Sunnah Rasululloh SAW, jalan hidup salaful ummah yaitu jalan hidup para sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini. Dengan menempuh jalan tersebut, ia akan sibuk belajar agama untuk memperbaiki aqidahnya, mendalami tauhid dan juga menguasai kesyirikan yang sangat keras Allah larang sehingga harus dijauhi.
Juga dengan cara Iltizam (konsekuen/berkelanjutan) dalam menjalankan syari’at Allah. Maksudnya di sini adalah seseorang dituntunkan untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsekuen/berkelanjutan dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar.” Yaitu Ibnu ‘Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam. Selain amalan yang kontinu dicintai oleh Allah, amalan tersebut juga dapat mencegah masuknya virus “futur” (jenuh untuk beramal).
Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit. (update, Sya’ban 1436 H_Hamhas)

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallohumma
wabihamdika
asyhadualla ilahailla anta
astagfiruka wa’atubu ilaik
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Ya Rabb,
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh


Ya Rabb,
Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik
 Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘Alaa Thaa’atik
Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.
(HR. Muslim)















&&&&&&&&&&&

Alhamdulillaah
Alhadulillahil jabbaril qohhar,
Al azizil ghoffar,
Kholitil jannati wan naar,
Wash-sholatu wassalaamu
‘ala muhammadinil muchtar,
Wa ‘ala alihi wa askhabihi ab khaar
Robbisy-rohlii shod-ri /
Wa yas-sirlii  amri /
Wahlul ‘uqdatam-millisanii/
Yaf qohuu – qoulii /
Robbi -zidnii ‘ilman /
War zughni  fahma./
Wash-sholaatu was-salaamu
‘alaa asyrofil ambiyaai wal mursaliin /
Wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi aj-maiin
Amma ba’du
Majelis Ilmi rohimatullooh,

Istiqomah.
ü Dalam Al-Qur’an, setidaknya ada 6 ayat yang menjelaskan masalah  istiqomah ini, yaitu pada Surah Yunus [10:89],  QS. Huud [11:112]  ; QS. Ibrahim [41:6] ; QS. Asy-Syuura [42:15 ]; QS. Al_Jaatsiyah [45:18]; dan QS. Al_Ahqaaf [46:13] .
QS. Al_Ahqoof (46:13-14)
innalladziina qooluu robbunaalloohu tsumma istaqoomuu falaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuun
[46:13] Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah (maksudnya teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh)  maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
ulaa-ika ash-khaabul jannati khoolidiina fiihaa jazaa-an bimaa kaanuu ya'maluun
[46:14] Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
ü Secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus atau teguh pendiriannya; Secara terminologi, istiqomah diartikan dengan beberapa pengertian berikut :
·      Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid;
·      Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah & larangan & tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang” ;
·      Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”
·      Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
ü Istiqomah, punya makna tetap di jalan yang lurus (Ash-Shirothol Mustaqim), dimanapun dan dalam keadaan apapun. meskipun orang disekitar kita sudah bengkok dan tidak lagi taat terhadap nilai-nilai ajaran Allah SWT. Istiqomah, teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh.
ü Setiap orang mukmin, selalu berdo'a dengan mengucapkan “tunjuki kami jalan yang lurus” (ihdinash-shiratal mustaqim) paling tidak 17 kali dalam sehari saat menjalankan sholat fardhu lima kali sehari yang setiap roka’atnya selalu membaca Suratul Fatikhah.
ü Jalan lurus yang diistiqomahi itu adalah  "shiratlladzina an'amta 'alaihim" yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri  nikmat atas mereka. " Ghoiril maghdu bi'alaihim waladh-dholliin"   dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai (orang-orang dari golongan Yahudi)  dan bukan yang sesat ( orang-orang dari golongan nashara)... Yang keduanya telah menyimpang dari ajaran Islam.
ü Suatu ketika sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW, mengapa rambut beliu begitu cepat beruban.  Rasululoh menjawab, "Sebab  turunnya surat Hut dan saudara-saudaranya".  Yaitu surat yang memerintahkan "Istiqomahlah kamu sebagaimana AKU perintahkan "
QS. Hud [11:112] : 
fastaqim kamaa umirta waman taaba ma'aka walaa tathghow innahu bimaa ta'maluuna bashiir
[11:112] Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
QS. Yunus [10:89]. Allah berfirman:
10_89
qoola qod ujiibat da'watukumaa fastaqiimaa walaa tattabi'aanni sabiilalladziina laa ya'lamuun
[10:89] Allah berfirman :"Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui".
(baca juga QS. Ibrahim [41:6] ; QS. Asy-Syuura [42:15 ] ; QS. Al_Jaatsiyah [45:18]; QS. Al_Ahqaaf [46:13] )
Rupanya perintah untuk istiqomah (teguh pendiriannya atau konsisten terhadap suatu ketentuan atau nilai) menjadi pikiran yang berat pada diri Rosululloh SAW hingga membuat rambut beliau cepat memutih.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, orang-orang yang telah diberi nikmat itu adalah seperti yang dijelaskan dalam Surat An Nissa (4:69), yaitu Para Nabi, Shiddiqin (jujur, orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7, yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat), para Syuhada dan para Sholihin ( orang soleh).
4_69
waman yuthi'illaaha warrosuula faulaa-ika ma'alladziina an'amalloohu 'alayhim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaa-i wash-shoolikhiina wahasuna ulaa-ika rofiiqoo
[4:69] Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nissa [4]:69),
Nabiyulloh Ibrahim AS contohnya, adalah salah seorang yang dikenal sangat istiqomah dan tunduk terhadap perintah Allah SWT.  Saat dalam kebahagiaan menimang anaknya yang telah lama didambakan, setelah usia 1000 tahun baru punya anak, diperintahkan pergi kedaerah Bakkah (sekarang Makkah) meninggalkan "qurratu a'yun" Ismail dan isterinya, beliau tetap lakukan, demikian juga ketika diperintahkan mnyembelih anak semata wayang Ismail, juga beliau lakukan semata-mata karena taat dan patuh atas perintah Allah SWT " beliau selalu mengatakan "aslamtu lirobbil alamin"  aku tunduk kepada Rabb sekalian alam.

Makna Istiqomah
Sebuah hadits diriwayatkan dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi RA, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, katakan kepadaku perkataan tentang Islam dan aku tidak akan menanyakannya kepada siapapun sesudahmu.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakan aku beriman, lalu beristiqomahlah.’ (HR. Muslim)
Maksud hadits di atas, seperti yang dikatakan oleh Al-Manawi adalah perbaharuilah keimananmu kepada ALLAH dengan dzikir dengan hatimu dan berkata dengan lidahmu, sembari ingat seluruh makna-makna iman yang syar’i, kemudian istiqomahlah, maksudnya berkonsekwenlah mengerjakan ketaatan (ibadah) dan berhenti dari hal-hal yang dilarang. Memang Ma’ruf dan Munkar tidak akan pernah bisa bertemu, karena memang berseberangan.

Balasan Bagi Yang Istiqomah
Orang yang memilih istiqomah di manhaj (jalan yang jelas) ALLAH dan Rasul-NYA, yaitu jalan yang lurus yang diridhoi Allah SWT dan terus mempertahankannya hingga dapat istiqomah di atasnya sampai meninggal dunia, ada balasan yang menggembirakan dari ALLAH Ta’ala seperti yang diungkap dalam Al-Quran Surat Fushilat (41:30).
41_30
innalladziina qooluu robbunaalloohu tsumma istaqoomuu tatanazzalu 'alayhimul malaa-ikatu allaa takhoofuu walaa tahzanuu wa-absyiruu biljannatillatii kuntum tuu 'aduun
[41:30] Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Menurut ayat tersebut, yang dimaksud kabar gembira yang dibawa oleh malaikat bagi yang istiqomah terhadap Iman dan tauhid lailaha illallooh’ - "Tuhan kami ialah Allah"  yaitu:
Jangan Kamu Takut (allaa takhoofuu). Perasaan takut yang sering menghantui dalam kehidupan duniawi akan  nasib, jodohnya, rezekinya, ajalnya, dan lain-lain yang menjadi Kuasa Allah SWT. Demikian juga rasa takut dalam kehidupan di alam akherat nanti. Bagi yang istiqomah dengan iman dan tauhidnya, itu semua tidak perlu terjadi. 
Dan Jangan merasa Sedih (walaa takhzanuu). Demikian juga tidak perlu bersedih setiap mendapat cobaan hidup, baik itu cobaan kehilangan harta, sanak saudara, atau bahkan dirinya sendiri. Bagi yang istiqomah dengan iman dan tauhidnya, Allah SWT akan menggantikan untuk menangani semua urusan itu.
Bergembiralah Masuk Surga (wa absyiruu biljannati). Sesuai dengan yang dijanjikan Allah SWT.   Seperti yang  ditegaskan pada akhir ayat tersebut, wa-absyiruu biljannatillatii kuntum tuu 'aduun/Dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan ALLAH kepadamu”
Kemudian pada ayat berikutnya (41:32), Allah memberitahukan bahwa bagi orang-orang yang istiqomah dengan iman tauhid “ Tuhan kami ialah Allah “ diturunkan malaikat yang akan selalu menemani untuk membimbing dan melindungi (nahnu auliyaaukum/kamilah pelindungmu) baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akheratnya.
Quran Surat Fushilat (41:32).
41_31

nahnu awliyaaukum fii lhayaati ddunyaa wafii l-aakhirati walakum fiihaa maa tasytahii anfusukum walakum fiihaa maa tadda'uun
[41:31] Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.
Itulah kesertaan total para malaikat dengan orang-orang mukmin yang istiqomah di atas Ash-Shirat, sejak dalam kehidupan duniawinya yang penuh godaan, dan saat memasuki liang lahat, hingga kehidupan di akheratnya,. Para malaikat menenangkan orang-orang mukmin dan bersama mereka di seluruh momen di dunia dan di akhirat, karena mereka istiqomah di jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri ni'mat kepada mereka; bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.
Pemanjaan Allah SWT terhadap orang-orang mukmin yang istiqomah akan iman dan tauhid “lailaa haillallooh” dan tentu saja istiqomah atas komitmen “iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” , selain akan diturunkan mailkat untuk menemaninya, Allah SWT memanjakan dengan memberikan semua keininginannya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”.

Ash-shirothol-mustaqim.

Ada yang secara nakal mengatakan apa ada “shirohtol mustaqim” atau jalan yang lurus, kalau jalannya lurus saja nggak perlu belok kanan atau belok kiri apa bisa nyampe di tujuan.  Atau apakah “jalan yang lurus’ itu sebagai jalan hidup yang lempeng/lurus/tidak berkelok-kelok/tidak ada hambatan, dll seperti ungkapan “life never flat”?. Itu semua pegertian yang dangkal dan menyesatkan.
Bagi seorang muslim-mukmin yang taat menegakkan sholat, kata ash-shirothol-mustaqim sudah selalu terucap sedikitnya 17 kali dalam sehari semalam, yaitu saat kita melaksanakan sholat lima waktu yang didalamnya terdapat 17 roka’at, dan pada tiap roka’at membaca Surah Al_Fatihah.
Untuk mencari makna Ash-shirothol-mustaqim ya kita kembali ke sumber pokoknya yaitu Al_Qur’anul Karim. Dalam QS. Al-Fatihah (1:6-7) ditemukan arti “shirothol-mustaqimsebagai berikut :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/1/1_6.png
Ihdinaash-shiroothol mustaqiim
[1:6] Tunjukilah kami jalan yang lurus,
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/1/1_7.png
Shirootholladziina an 'amta 'alayhim ghoyrilmaghdhuubi'alayhim walaadh-dhoolliin
[1:7] (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ihdina  atau tunjukilah kami, dari kata hidayaah : memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.  
Do’a kita selalu memohon hidayah yang selalu dikuti dengan taufiq, karena dua anugerah ini akan membawa kita istiqomah kepada ash-shirot, keteguhan kita kepada jalan yang lurus, bukan jalan yang dimurkai dan bukan jalan yang sesat, yaitu jalan dari golongan orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam.
QS. Al-‘Ankabuut (29:69):
29_69
walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa-innallaaha lama'a lmuhsiniin
[29:69] Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Menurut kitab Jauharah Tauhid, pengertian taufiq ialah sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT yang mendorong seseorang itu untuk melakukan kebaikan jika perkara tersebut berada di dalam dirinya.
Taufiq tidak akan diberikan oleh Allah Azza Wajalla melainkan hanya kepada mereka yang bersungguh-sungguh mengabdikan diri dengan rasa kehambaan demi mendekatkan diri kepada-NYA. Bahwa dengan adanya taufiq, manusia akan cenderung untuk melakukan kebaikan terus menerus sehingga ke akhirnya.
Taufiq dan hidayah sering tidak selakigus diterima oleh manusia, oleh karena itu, banyak orang sudah mendapat hidayah Allah menjadi seorang muslim, tetapi belum mendapat taufiqnya, sehingga masih jauh dari amalan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim-mukmin yang muttaqin. (banyak orang muslim tetapi masih juga korupsi, berarti dia sudah dapat hidayah sebagai seorang muslim, tetapi belum taufiq, sehingga belum mampu berbuat sesuai dengan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Allah swt).
Ash-shirothol-mustaqim bermakna “ash-shirothol’” artinya “jalan” dan “mustaqim” artinya “lurus”.  Yaitu jalan lurus  yang harus ditegakkan atau dikerjakan” oleh seorang manusia sebagai hamba yang dikehendaki oleh Allah SWT seperti yang Allah Firmankan dalam QS. Al_Baqarah (2:213) : “walaahu yahdii man yasyaau ilaa shiraathin mustaqiim /……Dan Alloh memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki kepada ash-shirothol-mustaqim.
Allah SWT juga memberikan sinyal siapa hamba_Nya yang diberi petunjuk atas “jalan yang lurus” tersebut, yaitu mereka yang berilmu sehingga bisa merasakan kebenaran Firmannya (QS. Al_Hajj [22]:54), walau iblis terang-terangan akan mengganggunya agar tidak pada jalan yang lurus (QS. Al-A’raaf [7]:16), Dan Muhammad Rosululloh telah dicontohkan Allah SWT sebagai yang berada diatas jalan yang lurus untuk menjadi tauladan umatnya.

QS. Al_Hajj (22:54),
22_54
waliya' lamalladziina uutuul 'ilma annahul haqqu min robbika fayu/minuu bihi fatukhbita lahu quluubuhum wa-innallooha lahaadilladziina aamanuu ilaa shiroothin mustaqiim
[22:54] dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.
QS. Al_A’raaf (7:16),
7_16
qoola fabimaa aghwaytanii la-aq 'udanna lahum shiroothokal mustaqiim
[7:16] Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus (yang ditegakkan),
QS.Yaasin 36 ayat 3-4,
36_3
innaka laminal mursaliin
[36:3] Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
36_4
'alaa shiroothin mustaqiim
[36:4] (yang berada) diatas jalan yang lurus,
QS.Az_Zukhruf (43:43):
43_43
fastamsik billadzii uuhiya ilayka innaka 'alaa shiroothin mustaqiim
[43:43] Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.
Dan sesungguhnya Muhammad Rasululloh SAW telah memberi petunjuk kepada ash-shirothol-mustaqim (jalan yang harus ditegakkan), sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam  QS. Asy-Syuura (42:52),”….. wa-innaka latahdii ilaa shiroothin mustaqiim/ Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Demikian juga dalam QS. Al_Mu’minuun (23:73),
23_73
wa-innaka latad 'uuhum ilaa shiroothin mustaqiim
[23:73] Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.
Lalu bagaimana wujud amalan yang menunjuk pada ash-shirothol-mustaqim itu ? Allah telah memerintahkan kepada Bani Adam supaya tidak menyembah syetan karena syetan adalah musuh yang nyata bagi kamu/alam a'had ilaykum yaa banii aadama an laa ta'buduusy-syaythoona innahu lakum 'aduwwun mubiin; dan henadklah kamu menyembah Allah, karena itulah jalan yang lurus/ wa-ani u'buduunii haadzaa shiroothun mustaqiim (QS. Yaasiin (36:60-61),
Ash-shirothol-mustaqim itu secara substansi adalah “ mengabdi/ menghambakan diri kepada Alloh saja” (ya’budulloha wa la yusyriku bihi syai-an), hal ini sebagai konsekuensi dari komitmen dan iqrar seorang muslim tatkala membaca kalaimah sahadat, yaitu syahadat tauhid, “laillahailallooh”/tiada tuhan selain Allah, dan syahadat rasulnya, Muhammad adalah utusan Allah. (Silahkan baca juga :QS. An_Nahl (16:36),  Ali Imran (3:51);  Al_Baqoroh (2:195, 198), An_Nisaa’ (4:103), Al_An’aam (5:8))

Ada beberapa sebab utama yang bisa membuat seseorang tetap teguh atau istiqomah dalam keimanan, yaitu dengan “Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar”.  Ini menuntunkan seseorang agar bisa beragama dengan baik yaitu menjaga ketauhidannya dan selalu mengikuti Sunnah Rasululloh SAW, jalan hidup salaful ummah yaitu jalan hidup para sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini. Dengan menempuh jalan tersebut, ia akan sibuk belajar agama untuk memperbaiki aqidahnya, mendalami tauhid dan juga menguasai kesyirikan yang sangat keras Allah larang sehingga harus dijauhi.
Juga dengan cara Iltizam (konsekuen/berkelanjutan) dalam menjalankan syari’at Allah. Maksudnya di sini adalah seseorang dituntunkan untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsekuen/berkelanjutan dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar.” Yaitu Ibnu ‘Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam. Selain amalan yang kontinu dicintai oleh Allah, amalan tersebut juga dapat mencegah masuknya virus “futur” (jenuh untuk beramal).
Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit.***
Ya Rabb,
Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik
 Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘Alaa Thaa’atik
Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.
(HR. Muslim)





Label: