Al Ashr_Eps_Beriman

22.11 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



AL- ’ASHR  / DEMI WAKTU

(Kuliah Subuh Seri Al Ashr  Eps_2 : Beriman / Amannu )

http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif
Ass wrwb
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/103/103_1.png
wal'ashri
[103:1] Demi masa.
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/103/103_2.png
innal-insaana lafii khusrin
[103:2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/103/103_3.png
Illaaalladziina aamanuu wa'amiluush-shoolikhaati  watawaa sawbil khaqqi watawaa sawbish-shobri
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. 

Majelis netizen rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah Allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al israa’-78, oleh Rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan Allah....(hr. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam,  sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(hr.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (Al Ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (QS. Ali Imran 104)
·      Dan  kata Rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan allah ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri watansawna an-fusakum  wa-antum tat luunal kitaaba Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 surah al baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Surat Al 'Ashr terdiri atas 3 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Alam Nasyrah.
·      Dinamai Al 'Ashr (masa) diambil dari perkataan Al 'Ashr yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
·      Isi surah ini mengingatkan kepada Semua manusia bahwa berada dalam keadaan merugi apabila dia tidak mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan baik.
·      Allah SWT mengingatkan kepada kita manusia, dengan bersumpah “demi waktu” (wal ’asry) menunjukkan begitu sangat pentingnya kita harus memperhatikan waktu. 
·      Kalau ditanya diapakah yang paling jauh dengan kita, jawabannya adalah waktu, karena waktu yg telah lewat tak bisa dijangkau lagi, demikian siapa yang paling dekat dengan kita, juga waktu, karena waktu terus mendekat detik demi detik kepada kita, kalau kita tidak pandai memanfaatkannya kita menjadi golongan yang akan merugi. innal insaana lafii khusrin” (Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian)
·      Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, menceritakan tentang ayat ini, bahwa “Amr bin Al ‘Ash pernah diutus untuk menemui Musailamah al Kadzdazb, ini terjadi setelah Muhammad diangkat sebagai Rasululloh dan “amr bin ‘Ash belum masuk Islam.
Musailamah al Kazddzab bertanya kepada ‘Amr bin ‘Ash, “Apa yang telah diturunkan kepada Sahabatmu ini (Rasululloh) selama ini ?”
‘Amr bin ‘Ash menjawab : “telah diturunkan kepadanya satu surat ringkat namun sangat padat”
Dia (Musailamah) bertanya : “Surat apa itu ?”
‘Amr bin Ash menjawab : wal'ashri,  innal-insaana lafii khusrin, Illaaalladziina aamanuu wa'amiluush-shoolikhaati  watawaa sawbil khaqqi watawaa sawbish-shobri
Musailamah berpikir sejenak, kemudian berkata : “Dan telah diturunkan pula hal serupa kepadaku”
‘Amr bin Ash bertama : “apa itu ?”
Musailamah menjawab (dengan maksud menghina firman Allah tsb ): Yaa wabriyaa wabr. Wa innamaa anta uzduunani wa shadr. Wa saa-iruka hafr naqr: (“hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya kamu memiliki dua telinga dan satu dada, dan semua jenismu suka membuat galian dan lubang).
Kemudian ia bertanaya kepada ‘Amrs bin ‘Ash : “bagaimana pendapatmu ?”
‘Amr bin Ash berkata kepadanya : “ Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa engkau telah berdusta”

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Dalam surah Al_Ashr ayat 3 tersebut ada penegasan “kecuali”, pernyataan ini menggambarkan ada kondisi sebaliknya pada pernyataan sebelumnya, yaitu “rugi”, apabila sesuai dengan yang dimaksud pada pernyataan setelah kata “kecuali” tersebut, yaitu orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Yang Beriman/Aamannu
·      Pengertian Iman, Secara literal/etimologi berarti ‘percaya’. Pengertian ini Sabda Rasul ketika ditanya seseorang yang tidak dikenal (dan ternyata adalah Jibril) bertanya kepada Rasul, Maa al-Iman.. (apa itu iman) ? Jawab Rasul  : antu’mina..  (kamu mempercai) …(HR muttafaq ’alaih). Hadis ini menjelaskan bahwa iman itu adalah perbuatan hati.
·      Secara terminologis, iman berarti membenarkan sesuatu dalam hati. mengucapkannya dengan lisan terhadap yang dibenarkannya itu, dan melaksanakannya dengan anggota badan terhadap yang telah diucapkannya itu.
·      Pengertian ini sesuai dengan batasan yang diberikan oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari, at-tashdiiqu bil-qolbi wa al-iqrooru bil-lisaani wa al-’amalu bil-arkaan atau bi al-jawaariih (Iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan melaksanakannya dengan amal perbuatan).
·      Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
·      Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
·      Beriman kepada Allah adalah hal yang sangat mendasar bagi seorang mukmin. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah SWT :
yaa ayyuhaalladziina aamanuu aaminuu bilaahi warosuulihi walkitaabilladzii nazzala 'alaa rosuulihi walkitaabilladzii anzala min qoblu waman yakfur bilaahi wamalaa-ikatihi wakutubihi warusulihi walyawmil-aakhiri faqod dholla dholaalan ba'iidaa
[4:136] Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [Q.S. An Nisa (4: 136)]
·      Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
·      Setelah membenarkan dengan hati, langkah iman selanjutnya adalah mengucapkan dengan lisan, seperti yang diungkapkan dalam Surah An_Nuur (24 :51) :

innamaa kaana qawla lmu/miniina idzaa du'uu ilaallaahi warasuulihi liyahkuma baynahum an yaquuluu sami'naa wa-atho'naa waulaa-ika humu lmuflihuun
[24:51] Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka1046 ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
·      Iqrar seorang muslim terhadap ketentuan hukum syar’i, baik apa itu yang diperintahkan maupun yang dilarang yang memiliki hujjah/dalil yang shaheh selalu akan memposisikan dengan mengucapkan ”sami’naa wa atha’naa” (kami mendengar dan kami patuh).
·      Unsur ketiga dari iman yang merupakan tindakan eksekusi dari apa yang diakui kebenarannya dengan hati dan di iqrarkan dengan lisannya, kemudian melakukan dengan perbuatan yang konkrit yang akan menunjukan keimanannya.  Ia akan berbuat atas atas dasar aqidah islamiyah seperti Iman Kepada Allah SWT, maka wujud konkrit perbuatan yang akan dilakukan adalah akan melaksanakan semua perbuatan yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang semata-mata karena Iman Kepada Allah SWT.
·      Gambaran orang yang beriman sebagaimana disabdakan oleh Rasululloh SAW : laa yaznii az-zaanii hiina yaznii wahuwa mu’minun, walaa yasyrabu al-khamra hiina yasyrabuhaa wa huwa mu’minun, walaa yasriqu  as-saariqu wahuwa mu’minun. Wa zaada fii riwayatin: walaa yantahibu nuhbatan dzaata syarafin yarfa’u an-naasau ilaihi abshaarahum fiihaa hiina yantahibuhaa wahuwa mu’minun (Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman. Dan tidak akan minum khamar, di waktu minum jika ia sedang beriman. Dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman. Di lain riwayat: Dan tidakakan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman (HR. Muttafaq ’alaih).
·      Contoh konkrit dalam kehidupan sehari-hari bagaimana mewujudkan keimanan ini dengan ketiga unsure iman tersebut. Misal, kita bekerja mendapat amanat untuk melayani masyarakat/customer (mulai tingkatan pengusaha, masyarakat menengah sampai masyarakat biasa), kita mempercayai dalam hatinya bahwa Allah itu ada. Ia membenarkan bahwa Allah SWT memerintahkan supaya berlaku jujur, rendah hati, dan bersikap ramah kepada siapapun tanpa melihat status orang yang dilayani, karena derajat seseorang dihadapan Allah ditentukan oleh derajat ketaqwaannya. 
·      Kemudian lisannya membenarkannya pula dengan mengucap ‘sami’na wa atha’na ha’za al-amr’ (aku mendengar dan aku taat terhadap perintah ini).  Kemudian apa yang sudah diyakini kebenarannya dalam hati dan diikrarkan dengan lisan untuk dilaksanakan, maka dieksekusi dalam perbuatan, maka kita termotivasi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada customer/masyarakat tersebut karena dilandasi semata-mata agar mendapat keridoan Allah dan dicatat sebagai ibadah. 
·      Subhanalloh ! begitu indah tuntunan Islam bagi yang beriman. (kalau kenyataan dalam keseharian masih banyak pemegang amanat dinegeri ini tidak saja kurang ramah, malah juga tidak jujur dengan apa yang diamanati bahkan termasuk mengkorupsi, yah itu harus terus diperbaiki keimanannya)

Peranan Akal dalam Masalah Keimanan
·      Akal manusia memiliki kemampuan untuk membuktikan sesatu diluar jangkauan keinderaannya, jika ada sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk atas keberadaan hal tersebut.  Misal, kemampuan suku Indian (seperti dalam film) mampu mendeteksi arah manusia atau hewan yang diburu yang sudah jauh meninggalkannya, dari jejak yang ditinggalkan. 
·      Sama halnya kalau kita bertanya kepada orang muslim awam, “bagaimana engkau mengenal Rabbmu ?” tentu jawabnya sederhana “bumi, langit dan isinya menunjukan bahwa ada Yang Maha Kuasa”?
·      Ayat-ayat Al Qur’an adalah bukti eksistensi Allah SWT, tentang adanya Sang Pencipta, dengan cara mengajak manusia memperhatikan makhluk-makhluk-Nya. Sebab, kalau akal diajak untuk mencari Dzat-Nya, maka tentu saja akal tidak mampu menjangkaunya, seperti firman-Nya [Al-Jaatsiyat (45:3-4)] :
inna fiissamaawaati wal-ardhi laa-ayaatin lilmu/miniin
[45:3] Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.
wafii kholqikum wamaa yabutstsu min daabbatin aayaatun liqowmin yuuqinuun
[45:4] Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.
·      Karena keterbatasan akal dalam berfikir, Islam melarang manusia untuk berfikir langsung tentang Dzat Allah, karena Dzat Allah sudah berada diluar kemampuan akal untuk menjangkaunya. Selain itu juga karena manusia mempunyai kecenderungan (bila ia hanya menduga-duga tanpa memiliki acuan kepastian) menyerupakan Allah SWT dengan suatu makhluk. Dalam hal ini Rasulullah bersabda :  “Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu fikirkan tentang Dzat Allah. Sebab, kamu tidak akan sanggup mengira- ngira tentang hakikatnya yang sebenarnya.” (HR. Abu Nu’im dalam Al-Hidayah).
·      Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang Dzat Allah yang sebenarnya; bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas Arsy-Nya, dan seterusnya. Sebab, Dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisa. Ia tidak dapat dikiaskan dengan materi apapun, keberadaan Allah SWT hanya harus diyakini dengan iman.

Hubungan Antara ‘Aqidah dan Iman
·      Secara literal/etimologi ‘aqidah adalah ‘ikatan’, atau “bundelan” (Bhs Jawa). ‘Aqidah merupakan ‘sesuatu’ yang berada di luar diri  manusia. Ketika kata ‘aqidah’  dirangkai dengan kata ‘Islam’, menjadi ‘aqidah Islam’, secara praktis berarti bahwa Islam sebagai sebuah ikatan yang mengikat kita yang mengaku beragama Islam.  Wujud ‘aqidah Islam adalah wahyu yang konkritnya adalah al-Qur’an al-Kariim dan as-Sunnah ash-shahihah al-maqbuulah, (sunnah yang shahih dan dapat diterima sebagai dasar beragama) dan mengikat kita yang mengaku beragama Islam.
·      Iman adalah aktifitas batin dari diri manusia,  posisi ‘aqidah merupakan sesuatu yang bersifat pasif dan berada di luar diri manusia, ‘aqidah merupakan sesuatu yang diyakini/dipercayai oleh hati. Dalam keadaan demikian ini, dengan sarana hati kita mengikatkan diri kepada ‘aqidah (al-Qur’an dan as-Sunnah ash-shahihah al-maqbulah). 
·      Aqidah Islamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, kepada qadla dan qadar baik-buruk keduanya dari Allah, sebagaimana difirmankan Allah SWT pada Surah An_Nisaa (4:136) tersebut. Sedangkan makna iman adalah pembenaran yang bersifat pasti (tashdiiqul jazm), yang sesuai dengan kenyataan, yang muncul dari adanya dalil/bukti.
·      Bersifat pasti (tashdiiqul jazm),  artinya seratus persen kebenaran/keyakinannya tanpa ada keraguan sedikitpun. Sesuai dengan fakta artinya hal yang diimani tersebut memang benar adanya dan sesuai dengan fakta, bukan diada-adakan (mis. keberadaan Allah, kebenaran Quran, wujud malaikat dll). Muncul dari suatu dalil artinya keimanan tersebut memiliki hujjah/dalil tertentu, tanpa dalil yang mendasrinya sebenarnya tidak akan ada pembenaran yang bersifat pasti .
·      Suatu dalil untuk masalah iman, ada kalanya bersifat aqli dan atau naqli, tergantung perkara yang diimani. Jika perkara itu masih dalam jangkauan panca indra/akal, maka dalil keimanannya bersifat aqli, tetapi jika tidak (yaitu di luar jangkauan panca indra), maka ia didasarkan pada dalil naqli.
·      Hanya saja perlu diingat bahwa penentuan sumber suatu dalil naqli juga ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya, penentuan sumber dalil naqli tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dijadikan sebagai sumber dalil naqli. Oleh karena itu, semua dalil tentang aqidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqliyah.
·      Dalam hal ini, Imam Syafi’i berkata: “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (seseorang muslim yang telah dikenai keberlakuan syariat Islam, baliq dan sehat akal) adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat (meningkatkan jenjang penyerahan diri) kepada Allah Ta’ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini seperti merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.” (Fiqhul Akbar, Imam Syafi’i hal. 16)
·      Hubungan antara iman dan ‘aqidah, secara kejiwaan, saling mempengaruhi dan bergerak seirama dengan fluktuasi keimanan. Kondisi Iman kadang tebal dan kadang menepis, atau keimanannya kadang timbul dan kadang tenggelam dalam diri seorang muslim.   Saat imannya timbul atau menebal, berarti saat itu ikatan aqidah mempengaruhi kuat terhadap dirinya, sebakliknya, saat imannya tenggelam atau tipis, maka itu berarti ikatan aqidah mengendor.
·      Dalam  ‘aqidah’ ada kandungan yang bersifat ‘punishment’, apabila apa yang dilarang dilakukannya, dan ‘reward’ apabila melakukan apa yang diperintahkan. Dalam posisi imanya lagi menebal, berarti fungsi ancaman tersebut amat kuat mempengaruhi dirinya, dan harapan untuk mendapatkan apa yang dijanikan juga sangat besar.  Atau ketika iman menebal, ikatan ‘aqidah’ juga menguat.
·      Dalam posisi kandungan fungsi ancaman atau ‘punishment’ menipis/lemah atau tdk ditakuti dan fungsi ‘reward’ tetap diinginkan (sudah sifat manusia). Dalam posisi demikian maka derajat keimanan seseorang menipis/turun atau tenggelam.  Atau Ketika iman menipis, ikatan ‘aqidah’ mengendor.  
·      Ketika iman hilang, ikatan ‘aqidah juga hilang, dalam posisi yang demikian, Allah SWT mengingatkan dengan keras kepada manusia yang telah kehilangan imannya, Firman Allah SWT dalam Al_Qur’anul Karim Surah Yassin (36:69-61):
alam a'had ilaykum yaa banii aadama an laa ta'buduusysyaythoona innahu lakum 'aduwwun mubiin
[36:60] Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",

wa-ani u'buduunii haadzaa shiroothun mustaqiim
[36:61] dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

‘Aqidah Islamiyah.
·      Akidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya,  ber iman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab-kitab, kepada Rasullullah, kepada Yaumil akhir, Takdir baik & buruk /Qodho-qodhar ( Man Amanna Billahi, Wal Malaaikatihi, Wakutubihi, Wa Rasullihi, Wal Yaumil Akhiri, Wassabihi Ajma’in )
·      Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun dengan apa yang diyakini, sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada tingkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.
·      Seorang mukmin harus menetapi akidahnya dalam beribadah  untuk menjadi seorang muslim dan mukmin yang kaffah.  Hendaknya Istiqomah menjaga keimanan kepada Allah.  
·      Istiqomah, adalah  teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh.   Dalam QS. Al (46: 13-14), Allah SWT  menggambarkan suasana bathin orang yang istiqomah dengan keimanannya serta balasannya dari Allah SWT :
innalladziina qaaluu rabbunaallaahu tsumma istaqaamuu falaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuun
[46:13] Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
ulaa-ika ash-haabu ljannati khaalidiina fiihaa jazaa-an bimaa kaanuu ya'maluun
[46:14] Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Tauhid Ar_Rububiyyah dan Al_Ulluhiyyah.
·      Setelah berikrar dengan mengucap syahadat tauhid dan shahadat rosul, dengan  membaca dua kalimah syahadat tersebut, seseorang telah berhijrah dari alam kafirun kepada alam muslimun-mukminun. Pengakuan terhadap keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan mengandung kesempurnaan keimanan kepadaNya, dan katauhidannya terhadap Ke-Esaan Allah SWT, baik Tauhid Ar_Rububuiyyah, Tauhid Al_Uluhiyyah,  maupun Tauhid Al_Asma’ was Sifat.
·      Tauhid Ar-Rububiyyah, meng-Esakan Allah dalam perbuatan-Nya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini. Bahwa hanya Dzat yang bernama ALLAH saja yang menciptakan dan memelihara dan menguasai alam semesta berikut isinya ini.
·      Tauhid Al-Uluhiyyah, meng-Esakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karena-Nya semata.   Ini sebagai konsekunsi dari Tauhid Ar_ Rububiyyah, karena hanya Dzat Allah yang menciptakan alam beserta isinya ini, maka hanya Allah lah yang patut disembah dan dimohon ampunan dan pertolongannya. Maka komitmen yang dibangun adalah : iyyaaka na’budu/hanya kepada Engkau kami menyembah); wa iyyaka nasta’in/dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan (QS. Al-Fatihah (1:5)
·      Tauhid Al-Asma' was-Sifat,  meng-Esakan Allah dalam Asma dan Sifat-Nya, artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.
·      Penegasan Tauhid Ulluhiyyah dan Rububiyyah ini seperti yang ada dalam ayat-ayat Al_Qur’an seperti pada Surah Al_An’aam (6:101-102):

badii'ussamaawaati wal-ardhi annaa yakuunu lahu waladun walam takun lahu shaahibatun wakhalaqa kulla syay-in wahuwa bikulli syay-in 'aliim
[6:101] Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.
dzaalikumullaahu rabbukum laa ilaaha illaa huwa khaaliqu kulli syay-in fa'buduuhu wahuwa 'alaa kulli syay-in wakiil
[6:102] (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.
·      Suatu keyakinan yang hanya tertuju kepada Allah SWT,  baik sifat Rububiyah dan uluhiyahnya, maka kita akan terhindar dari perbuatan syirik, perbuatan yang masih menggantungkan pertolongan atau beriman selain kepada Allah SWT. 
·      Dan perbuatan syirik ini merupakan perbuatan yang sangat dilaknat oleh Allah SWT.sebagaimana Firman-Nya  QS. An-Nisaa’ (4:48) :
innallaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wayaghfiru maa duuna dzaalika liman yasyaau waman yusyrik bilaahi faqadi iftaraa itsman 'azhiimaa
[4:48] Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
·      Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ‘ilah’ maknanya adalah ‘ma'bud‘ (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do'a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.

yaa ayyuhaa nnaasu u'buduu rabbakumulladzii khalaqakum walladziina min qablikum la'allakum tattaquun
[2:21] Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, [QS. Al-Baqarah (2:21)]


allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum
[3:2] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya181. ((Maksudnya: Allah mengatur langit dan bumi serta seisinya.)  QS. Ali-‘Imraan (3:2)
wamaa khalaqtu ljinna wal-insa illaa liya'buduun
[51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [QS. Adz-Dzariyat (51 : 56)

·      Sedang, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Makanya, tauhid uluhiyah itu merupakan hasil dari keyakinan seseorang akan tauhid Rububiyah.
dzaalikumullaahu rabbukum laa ilaaha illaa huwa khaaliqu kulli syay-in fa'buduuhu wahuwa 'alaa kulli syay-in wakiil
[6:102] (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. [QS. Al-An'am (6:102)]

·      Memang seseorang sudah memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta (Rububiyyah). Tetapi dengan pertanyaan, “Siapa yang memberi rezeki  kepadamu?” Di sini tauhid Rububiyah diuji, apakah juga meyakini bahwa, hakikatnya yang mengurus kita adalah Allah swt.
·      Nah, kenapa masih ada orang menjadikan pekerjaannya sebagai Ilaah/Tuhan? Kenapa orang menjadikan uang sebagai Ilaah/Tuhan? Itu karena ia lemah pada Rububiyahnya. Dia kira, dia dapat rezeki dari semata-mata karena dia bekerja. Dari sini kita tahu betapa pemantapan tauhid Rububiyah menjadi penting sekali. Karena Rububiyah ini menyangkut tauhid al-af’al.
·      Rububiyyah adalah aspek-aspek Allah sebagai Rabb yang terjabar pada al-Akwan (Alam Semesta) dan al-Kitab. Hukum-hukum yang terlaksana di alam semesta (makro kosmos) maupun alam manusia (mikro kosmos, secara fisik) merupakan penjabaran Rububiyyah Allah.
QS. Al_Fatihah (1.2)
alhamdulillaahirabbil'aalamiin
[1:2] Segala puji2 bagi Allah, Tuhan semesta alam.3 

QS. An Naas (114:1),

qul a'uudzu birabbi nnaas
[114:1] Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

·      Rabb (Tuhan) diterjemahkan  Tuhan yang ditaati Yang Maha Mengatur, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mendidik dan Yang Maha Memelihara.    Kata "Rabb" atau "Rabbi" atau "Robbuna" hanya dinisbahkan/dikaitkan kepada Allah.
·      "Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin" (segala puji milik Allah, Rabb seluruh semesta alam), rabb di sana diterjemahkan sebagai Pengatur, Pemelihara dan Penguasa. Sesuatu dikatakan pengatur kalau memiliki aturan. Kepengaturan Allah di alam semesta selanjutnya diistilahkan sebagai Rubbubiyah Allah
QS. Yusuf (12:40)
maa ta'buduuna min duunihi illaa asmaa-an sammaytumuuhaa antum waaabaaukum maa anzalallaahu bihaa min sulthaanin inilhukmu illaa lillaahi amarallaa ta'buduu illaa iyyaahu dzaalikaddiinulqayyimu walaakinna aktsara nnaasi laa ya'lamuun
[12:40] Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

·      Ketika Nabi Musa bersama kaumnya dalam kondisi terjepit sewaktu di kejar Fir’aun dan pengikutnya, karena di depan ada laut. Kaumnya berkata, “Musa, kita tak akan selamat”. Jawab Nabi Musa, “Tidak, kita tak akan bisa terkejar, karena kita punya Tuhan”. Makanya di ayat itu kalimatnya, Inna ma’ya Rabbi, bukan inna ma’iya Ilaahi.   Dalam kasus ini, pengikut Musa as. Bukan tidak percaya adanya Allah swt, Sebagai Ilaah dia percaya, tetapi sebagai Rabb dia lemah.
Lemahnya keyakinan terhadap Allah swt sebagai Rabb ini yang membuat orang yang beribadah, tetapi kadang masih meminta pertolongan kepada selain Allah, serta mengeluh kepada Allah,. “Ya Allah swt, saya menyembah-Mu tetapi kenapa saya masih susah?”
Nah ini khan karena ia tak memiliki kesadaran bahwa Allah swt, selain Yang Maha Disembah (Ilaah), juga Yang Memelihara Hidup (Rabb). Apapun yang diberikan Allah SWT, tentu Allah yang Maha Tahu apa yang ada dibalik itu semua.  Banyak manusia tidak kuat godaan, akhirnya menita pertolongan kepada yang lain selain Allah Ta’ala.

Kesatuan tauhid rubbubiyah dan ikhtiyar, menghasilkan tawakkal
·      Harus ada kesatuan antara keyakinan Rububiyah dengan usaha manusia, kesatuan ini terdapat pada usaha untuk mendudukkan secara proporsional, antara usaha dan hasil.  Hidup ini menjadi susah, karena kita ikut-ikut mengurusi hasil dari usaha yang kita lakukan. Padahal wilayah kita di usaha itu. Inilah konsep tawakkal di Islam.
·      Sebuah riwayat, seorang sahabat yang membawa kuda bertanya kepada Rasululloh saw, “Ya Rasul, apakah saya harus mengikat kuda ini atau saya tawakkal saja?”, Kemudian Rasululloh berkata i’qil fatawakkal ‘ala Allah swt (ikatlah, baru tawakkal kepada Allah swt).
·      Di sini terlihat bahwa tawakkal itu ada di titik terakhir, ketika ia ingin menguatkan tauhid Rububiyah. Ketika kita tawakkal, apapun usaha kita, itu adalah kewajiban kita sebagai manusia, mrngrnai hasilnya kita kembalikan kepada Allah swt. Demikian seseorang bisa memposisikan Allah swt sebagai Rabb.
Formula 3i
·      Maka dari itu, untuk mencapai tauhid Rububiyah haruslah dilakukan ‘3i’ sebagai wilayah manusia,
-  dimulai dengan ikhtiyar/berusaha,
-  lalu kemudian ijtihad/profesionalitas dalam bidang yang dikerjakan,
-  serta ihtiyath/hati-hati agar usahanya tak menghalalkan segala cara.
·      Nah ketika manusia sudah ikhtiyar, ijtihad, dan ihtiyath, pasti ia berharap mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diinginkan? Di sinilah titik tawakkal berada.  Pada titik ini tawakkal menyatu dengan tauhid Rububiyah.
·      Keduanya (Uluhiyah dan Rubbubiyah) ternyata saling mensyaratkan; keyakinan kita kepada Allah swt yang patut disembah (ululhiyah), harus dibarengi dengan keyakinan bahwa Allah swt-lah yang mengatur, mengurusi, dan membimbing segenap praktik hidup, mulai dari soal rezeki, karir, jodoh, nasib, cita-cita, dsb. (Rubbubiyah). Kesatuan dalam ketauhidan Rubbubuyah dan ulluhiyah ini yang menjadikan seseorang tenang dalam hidupnya.
Keduanya saling mensyaratkan
·      Tauhid Uluhiyah dan Rubbubiyah ternyata saling mensyaratkan; keyakinan kita kepada Allah swt yang patut disembah (ululhiyah), harus dibarengi dengan keyakinan bahwa Allah swt-lah yang mengatur, mengurusi, dan membimbing segenap praktik hidup, mulai dari soal rezeki, karir, jodoh, nasib, cita-cita, dsb. (Rubbubiyah).
·      Kesatuan dalam ketauhidan Rubbubuyah dan ulluhiyah ini yang menjadikan seseorang tenang dalam hidupnya.

Bila kedua tauhid, terpisah
·      Seorang muslim taat dalam ibdahnya (ya sholat, zakat, puasa, atau bahkan sudah haji), tetapi ketika ia lebih takut urusan duniawinya (dalam aktivitasnya tidak mengikutsertakan keberadaan Allah swt, tidak mengapresiasi adanya surga dan neraka), ia bisa dikatakan lebih men-tuhankan duniawinya seperti harta, jabatan, karier, dll.   
·      Maka, segenap ibadah Ilahiyah kehilangan makna, sehingga ketika yang diinginkan tidak tercapai, ia mengeluh ; “Ah, ternyata aku sholat, puasa, zakat, bahkan sudah haji, hasilnya ya begini-begini saja.”.  Padahal, orang tak bisa menentukan dirinya sendiri, karena yang menentukan adalah Allah swt. Yang bisa dilakukan adalah ‘3i’ tadi (ikhtiyar, ijtihad, ikhtiyath).
·      Jadi kalau ada orang miskin kok susah, itu bukan karena kemiskinannya, tetapi karena Rabb nya telah hilang dari dirinya, karena orang yang beriman, akan memiliki keyakinan bahwa Allah SWT menyayangi dengan caranya sendiri.  Demikian juga kalau ada orang kaya merasa bahagia, itu pasti bukan karena hartanya, tetapi karena Rabb ada dalam dirinya, karena banyak juga orang kaya yang hidupnya gelisah, takut jatuh miskin, takut dirampok dll.
·      Orang demikian ini, telah kehilangan tauhid uluhiyah-nya, karena dalam praktik sehari-hari ia tak memiliki tauhid Rububiyah.  Dengan kata lain, pada level syar’i, ketika seorang muslim mengikrarkan diri beriman kepada Allah Swt. namun dalam praktek hidupnya  tak sesuai dengan syariat Allah swt, dan mencabangkan Allah SWT dengan ilah-ilah yang lain, maka ia belum disebut beriman dan bertauhid.  
·      Dalam hal ini, Allah swt mengingatkan seperti firmannya dalam Kitabulloh :
QS. Yassiin (36:74) :
Wattakhodzuu min duu nillahi aalihatal la’al lahum yunshoruun.
[36:74] Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
·      Sedang tanda-tanda orang yang beriman (imannya kuat) seperti yang di sampaikan Allah SWT dalam Firmannya :
innamal-mu’minuunal-laziina izaa zukirallaahu wajilat quluubuhum wa-izaa tuliyat-alaihim aayaatuhuu zaadathum imaanaw wa’ala robbihim yatawakkaluun
[8:2] Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada tuhanlah mereka bertawakkal 


·      Penuhanan Allah SWT pada level batin dan ibadah ritual, haruslah dibuktikan dengan penuhanan Allah swt, melalui jalan hidup yang sesuai dengan syari’at-Nya, maksudnya ibadah ritualnya berimplikasi dalam kehidupan sosialnya.  Yang demikian itulah beriman secara kaffah, secara totalitas, yaitu meyakini dalam hati, membenarkan dengan ucapan dan melaksanakan dalam perbuatan.



Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh

Ya Rabb,
“Allaahumma innii as’aluka ta’jiila ‘aafiyatika
wa sabron ‘alaa baliyyatika
wa khuruujan minad dunyaa ilaa rohmatika”
“Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu agar disegerakan curahan keselamatan dari sisi-Mu kepadaku, diberikan kesabaran dalam menghadapi cobaan-Mu,
dan diberikan jalan keluar dari dunia menuju kepada kasih sayang-Mu”
(H.R. Hakim)
Amien.





Ya Rabb !!
“Allahumma yaa muqollibal quluubi sabbit qalbii ‘ala diinika” /
“Ya Allah, wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu. (H.R. Tirmizi)”
“Allaahumma innii a’uuzubika min fitnatin naari, wa ‘azaabin naari, wa min fitnatil qabri, wa ‘azaabil qabri,wa min syarri fitnatil ginaa, wa min syarri fitnatil faqri, wa min syarri al-masiihid dajjaali” /  
“Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan kepada-Mu dari bencana api neraka, siksa neraka, bencana kubur, dan siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan ujian atas kekayaan, dari kejelekan ujian atas kefakiran, serta dari kejahatan dajjal.
(H.R. Tirmizi)”

********




Label: