Muhassabah Nikmat Umur

21.57 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



MUHASSABAH
SYUKUR NIKMAT UMUR
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/16/16_18.png
Wa-in ta-'udduu ni' matalloohi
Laatukh-suuhaa innallooha laghofuurur- rokhiim
“dan jika kamu menghitung-hitung nikmat allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya allah benar-benar maha pengampun lagi maha penyayang”. [QS. An-Nahl_16:18]

Qoola  Rasulullloh saw
Laa tadzuulu qodamaa ‘abdi
Yaumal qiyaamati khatta yus ala ‘an arbain :
An ‘umrihi fiima atnaahu;
Wa ‘an ‘ilmiihi fiima fa’ala;
Wa ‘an maalihi min aynak-tasabahu
Wa fii ma anfaqohu;
Wa ‘an  jismihi fiimaa ablahu

Majelis netizen rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah Allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al israa’-78, oleh Rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan Allah....(hr. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam,  sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(hr.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (Al Ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (QS. Ali Imran 104)
·      Dan  kata Rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan allah ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri watansawna an-fusakum  wa-antum tat luunal kitaaba Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 surah al baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis netizen rohimatullah
Muhassabah.
·      Sebagai seorang muslim yang cerdas, maka hendaknya selalu melakukan  muhassabah atau instropeksi agar perjalanan kehidupan kedepan selalu terkontrol bahwa jalan yang kita tempuh “on the track”   tidak mengalami out of side”  tidak keluar dari jalur yang diperintahkan allah swt.
·      Pentingnya melakukan muhassabah dengan menghisabnya didunia agar ringan khisab diakherat.
·      Imam Turmudzi juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab mengenai urgensi dari muhasabah. Shohabat umar r.a. Mengemukakan: hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia “
·      Seperti diterangkan dalam ayat diatas, kita tak akan mampu menghitung nikmat allah swt yang telah dilimpahkan kepada kita, bahkan sering kita merasa itu bukan anugerah tetapi seperti menjadi hak kita untuk mendapatkannya, begitu arrahman dan arrohim allah swt kepada ummatnya.
Khisab terhadap empat nikmat
·      Ada empat nikmat Allah swt yang akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat kelak, sebagaimana sabda rasululloh saw yang diriwayatkan oleh at tirmidzi :
Laa ta-dzuulu qodamaa ‘abdi 
Yaumal qiyaamati khatta yus ala ‘an arbain : 
”tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya hari kiamat nanti, empat perkara (yaitu), tentang :
An ‘umrihi fiima atnaahu;
(1) umurnya untuk apa ia habiskan?; 
Wa ‘an ‘ilmiihi fiima fa’ala;
(2) ilmunya untuk apa ia amalkan?; 
Wa ‘an maalihi min aynak-tasabahu
Wa fii ma an-faqohu;  
(3) hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?;
Wa ‘an  jismihi fiimaa ablahu
(3) hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?;

Tentang nikmat umur
Berumur panjang, apa maksudnya.
·      Dalam do’a kita sering mohon diberikan panjang umur, atau kalau ada yang berulang tahun kita ucapkan semoga panjang umur.
·      Salah satu resep  agar panjang umur  adalah dengan terus menyambung tali silaturahmi.
Dari abu hurairah ra. Rasulullah saw bersabda : “barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (hr bukhari-muslim)
·      Namun yang jadi pertanyaan, bukankah umur seseorang telah ditetapkan, dan tidak akan bergeser sedikitpun. Sebagaimana difirmankan allah swt :
Qs. Al_A’raaf [7]:34, :
Walikulli ummatin ajal, Faidzaa jaa-a  ajaluhum Laa yasta’ khiruuna
Saa- ‘ataw- wa laa yastaq-dimuun.
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
…wamaa yu-‘ammaru mim mu’ammariw Wa laa yun-qo-shu mim ‘umurihii illa fi kitaab..’
dan sekali-kali tidak diperpanjang umur seorang yang berumur panjang, dan tidak pula dikurangi umurnya melainkan sudah (sudah sitetapkan) dalam kitab (lauh mahfutzh) QS. Faathir (Pencipta) [35]:11,
·      Setiap orang dalam lauh mahfutzh, “kitab cacatan masing-masing orang ini, sudah ditetapkan risqinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.
·      Dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari dari Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud r,a, diceritakan proses terjadinya janin manusia :
~     Selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum),
~     40 hari kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah)
~     40 hari kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging).
~     Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.
Para ulama kemudian menghitung ketiga masa itu menjadi 40 hari tambah 40 hari tambah 40 hari, sehingga masa peniupan ruh itu menjadi 120 hari sejak pertama kali janin terbentuk.
·      Yang dipanjangkan usianya, adalah diberikan keberkahan dalam usia yang telah ditetapkan, sehingga dengan usianya yang telah ditetapkan itu, ia menggunakan banyak kesempatan atau umurnya untuk beribadah, bertaqorrub dan beramal sholeh.  (usia muda meninggal tetapi masa usia ibadahnya panjang maka ia kategori panjang umur)
·      Diberi umur panjang adalah nikmat dan anugerah allah swt. Tetapi rasululloh saw memperingatkan sewaktu ditanya oleh sahabat“ya rasulullah siapa manusia yang paling baik?”, beliau bersabda: “barang siapa yang dipanjangkan usianya dan makin baik perbuatannya”“lalu siapa manusia yang paling buruk”, ia bertanya lagi. Beliau bersabda: “barang siapa yang dipanjangkan usianya namun buruk amal perbuatannya” (HR at-Tirmidzî, no. 2330).
Menghisab nikmat umur sebelum dihisab
·      Umur, terkait dengan peluang yang diberikan allah swt kepada kita, dan merupakan nikmat allah swt. 
Sebagaimana sabda rasululloh saw, umur kita akan dihisab kelak di yaumul qiyamah : an ‘umrihi fiima atnaahu / umurnya untuk apa ia habiskan?; 
·      Mari kita hisab umur kita sebelum dihisab nanti agar ringan pada saat dihisab nanti, seperti yang diungkapkan oleh shohabat umar r.a. Mengemukakan: “…dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia “ 
·      Untuk apa sepanjang umur kita selama ini?
·      Jatah usia kita menurut hadist riwayat abu hurairah, bahwa rasulullah saw bersabda,  “umur ummatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan sangat sedikit di antara mereka yang mencapai usia itu.” ( h.r. Turmudzi, al bani menshahihkannya dalam shahih al jami’ no: 1073).
·      Kalau di konversi dengan surah al hajj (41:47) bahwa : wa'-dahu wa-inna yawman 'inda robbika ka-alfi sanatin mimmaa ta'udduun /sesungguhnya sehari disisi tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”   Maka hidup di dunia dengan rata-rata 65 tahun waktu dunia sama dengan 1,5 -1,7 jam akhirat.  (1 hari akhirat=1000th dunia, 1 jam akhirat= 41,7 tahun, jadi kalau usia antara 65-70 tahun ya = sekitar 1,5 jam akhirat)
·      Kalau dikonversi dengan surah al ma’aarij (70:4), lebih pendek lagi : ta'-rujul malaa-ikatu warruuhu  ilayhi fii yawmin kaana miq-daaruhu khamsiinalfa sana / malaikat-malaikat dan jibril naik (menghadap) kepada tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun,
Maka dengan umur rata-rata 65-70 tahun dnuisa sama dengan 2 menit waktu akhirat (1 hari=24 jam= 1.440 menit;..jadi 1 menit akhirat = 50.000 : 1.440 = 34,7 tahun)
·      Makanya allah ta’ala mengingatkan, qs. Al mu’minun (23:114)
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/23/23_114.png
Qoola illa bits-tum illaa qoliilan law annakum kuntum ta'lamuun
[23:114] allah berfirman: "kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui"
Dari hadits itu kita rinci :
ü Jatah umur antara  60-70 diambil rata-ratanya adalah  ’65 tahun’, (diatas itu berarti bonus untuk amal kebaikan)
ü Usia 65 tahun, masih “bruto”, dikurangi sampai masa baligh 15 tahun, masa yang belum dihisab.  Sehingga usia mukallafnya (usia seorang mulim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama dan sudah dapat dikenai hukum), yaitu 50 tahun
ü Dari umur 50 tahun yang akan dihisab ini, kalau kita ‘breakdown’ menurut aktivitas manusia, ada 3 aktivitas besar, yaitu : ‘nglembur’, ‘nganggur’, dan ‘tidur’.
·      ‘nglembur (beraktifvitas) bekerja dari bangun subuh, seputar pk 04.00 sd 17.00 (ukuran standar) berarti selama 13 jam sehari, maka dalam 50 tahun (13/24x50 tahun) adalah 27 tahun (54 %)
·      ‘nganggur’ (santai), antara pukul 17.00 sd. 21.00 (hadits rasululloh saw : “beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan akhir malam.” (mutafaq ‘alaih) berarti selama 4 jam sehari, maka dalam 50 tahun (4/24x50 tahun) adalah 8,5 tahun (17 %)
·      ‘tidur’, yaitu dari pukul 21.00 sd. 04.00 (dini hari) atau selama 7 jam sehari , maka dalam 50 tahun (7/24x50 tahun) adalah 14,5 tahun (29 %)
·      Jadi, dengan usia 65 tahun, itu digunakan untuk :
‘bermain’ (sebelum balig/bebas hisab), 15 tahun
‘nglembur’ (pekerjaan) 27 tahun, atau 41,5 % atau 23 %
nganggur’ (nyantai) 8,5 tahun, atau 13 %  
‘tidur’ (isitrahat) 14,5 tahun, atau   22,5 %
·      Waktu untuk ibadah sholat dimana?
ü Selama ini yang terjadi, waktu sholat mengambil disela-sela dari waktu ‘nglembur, nganggur dan tidur’. Karena seringnya dilakukan disela-sela aktivitas tersebut.
ü Sering melaksanakan sholat ‘nyuri2 waktu’ dan agak keburu-buru karena takut ketinggalan ‘nonton bola di tv, atau  saat jeda iklan pada wakatu nonton tv, atau saat ‘break’ pada kegiatan bekerja, dll. Atau….
ü Pada setiap ‘acara-acara’ jarang difikirkan bakal menerjang waktu sholat, dan jarang  mencantumkan ‘waktu masuk sholat’, yang ada adalah ‘ishoma’ (istirahat makan dan sholat).  Yang cenderung waktunya didekatkan pada waktu makan.
·      Waktu yg khusus ibadah sholat,
ü Selama ini yang diniatkan secara khusus’ sebagai ibadah baru sholat, dari sela-sela waktu untuk nglembur, nganggur dan tidur tersebut,
ü Alokasi waktu untuk sholat ini waktunya hanya mengambil 2,08 tahun selama usia 50 tahun atau cuma 4 % (dihitung  satu kali sholat 12 menit kali 5 waktu adalah 1 jam sehari, maka dalam 50 tahun adalah...(1/24x50 tahun=2,08 tahun)
·      Bagaimana solusinya agar umur kita panjang untuk ibadah.
ü Ada bebera strategi untuk mengatasinya yang memerlukan kecakapan dan komitmen dalam keimanan dan ketaqwaan kita. 
ü Pertama, memanfaatkan beberapa ‘keutamaan’  dalam ibadah sholat yang perlu dilakukan, (kalau  dunia bisnis dikenal “promo’). 
ü Kalau mall-mall menggelar promo ‘beli 1 dapat 3/buy 1 get 3’  kita semangat memburunya, kenapa yang ‘lakukan satu mendapat berlipat ganda’  kurang diminati.
ü Misalnya, sholat berjamaah itu pahalanya 27 kali lebih banyak dari pada sholat sendiri, haditst rasulullah saw dari abdullah bin umar ra. Bahwa rasulullah saw bersabda, “shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (hr muttafaq ‘alaihi). 
ü Ada lagi ‘promo’ dari allah swt,  sholat isya’ berjamaah itu pahalanya sama dengan sholat separuh malam, sedang sholat subuh berjamaah sama dengan sholat sepanjang malam. 
“barangsiapa sholat isya secara berjamaah, maka ia bagaikan sholat (malam) setengah malam, dan barangsiapa sholat subuh secara berjamaah maka ia bagaikan sholat (malam) semalam penuh.” (hr.muslim, abu daud dan tirmidzi).
Sepanjang malam adalah 10 jam, dimulai matahari tenggelam (maghrib) sampai matahari terbit (subuh) sama dengan pukul 18.00 sd. 04.00
Jadi sholat isya’ berjamaah, sama dengan sholat separuh malam, sama dengan sholat 5 jam sehari atau atau sama dengan (5x60 menit) = 300 menit, kalau satu sholat 10 menit, sama dengan berlipat 30 kali,
Dan subuh berjamaah sama dengan sepanjang malam, berarti 10 jam atau 600 menit atau berlipat 60 kali
ü Solusi berikutnya adalah mengkhusu’kan ibadah saat bulan romadhon agar mendapatkan “malam lailatu qodar” : laylatulqodri khoyrun min alfisyahr [97:3] malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
~Asbabunnuzul ayat ini, bermula dari umat muhammad kagum / “iri” dengan usia  umat sebelumnya yang diberi umurnya sampai ratusan tahun panjang, sehingga ia bisa ibadah dengan waktu yang panjang,
~Diriwayatkan oleh ibnu jarir yang bersumber dari mujahid bahwa seperti di kalangan bani israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya.
~Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan ( kl-83 th 4 bln)
~Maka allah menurunkan ayat ini (al-qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan seorang laki-laki dari bani israel tersebut.
·      Kedua,  semua aktivitas kita diniatkan sebagai ibadah, maka waktu untuk kebaikan akan bertambah.
ü Hadits rasululloh saw menjelaskan akan hal ini, “sesungguhnya setiap perbuatan1 tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”  (h.r. Bukhari muslim)
·      Ketiga, menjaga kekhusukan ibadah ritualnya (mahdoh) sampai kepada ibadah ijma’iyahnya (amal sosialnya)
ü Kekhusu’an ibadah ukrowinya, terus bersambung dalam amal perbuatannya... Ibadah mahdhohnya berbanding lurus dengan ibadah ijma’iyahnya,
ü Dalam aspek qouliyah, sholat yang diawali dengan takbir (‘hablum-minallah’) sebagai bentuk penghambaan kepada allah swt. Dan diakhiri dengan salam (‘hablum-minannas), menebar keslamatan dan kedamaian kepada sesama makhluk allah, sebagai bukti  bahwa  ibadah mahdhoh todak bisa lepas dengan ibadah ijtima’iyah.
ü Ini dikuatkan dengan adanya perintah mendirikan sholat selalu bergandengan dengan perintah zakat “wa-aqiimuush-sholaata wa aatuuz-zakaata, dalam al qur’an sekurang diulang sebanyak 24 kali, membuktikan bahwa ibadah ukrowi (mahdhoh) tidak bisa dipisahkan dengan ibadah ijtima’iyahnya (ibadah sosial).
ü Dengan terus beramal sholeh/berperilaku baik kepada sesamanya, akan terus menambah pahala kebaikannya... Wallohu a’lam bishshowab.
Rasululloh saw menasehatkan.
·      Karena umur terkait dengan masalah waktu, dan waktu yang berlalu tak akan kembali maka, rasululloh saw telah menasehatkan :
·      Dari ibnu ‘abbas radliyallaahu ‘anhuma, dari rasulullah  shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau berkata kepada seorang laki-laki untuk menasihatinya :  ”manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu” [hr. Al-hakim dan al-baihaqi]. ********

Akhirnya,
Ya rabb “allaahumma innii a’uuzubika  min zawaali ni’matika wa tahawwuli ‘aafiyatika wa fujaa ‘ati niqmatika  wa jamii’i sakhatika”/
“ya allah, aku berlindung kepada-mu dari lenyapnya kenikmatan dari-mu, berubahnya (hilangnya) kesejahteraan dari-mu, siksa-mu yang datang dengan tiba-tiba, dan dari segala kebencian-mu. (h.r. Muslim)” .
Ya rabb, “allaahumma innii as ‘alukal hudaa wat tuqoo wal ‘afaafa wal ginaa”/
“ya allah, aku memohon kepada-mu petunjuk, ketakwaan, kesuciaan diri, dan kekayaan (h.r. Muslim)”.
Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh


Label: