Semoga Haji Mabrur

22.17 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /


SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR
( Kuliah Subuh Online - Seri Rukun Islam Ke-5)
http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif
Ass wrwb
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
fiihi aayaatun bayyinaatun maqoomu ibroohiima waman dakholahu kaana aaminan -walillaahi 'alaannaasi khijjul bayti mani istathoo'a ilayhi sabiilan waman kafaro fa-innallooha ghoniyyun 'anil 'aalamiin
[3:97] Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim215; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah2l6. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.  (QS. Al Imran [3]: 97)
Talbiyah
"LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKKA LAKA LABBAIK,
 INNAL HAAMDA WANNI'MATA LAKA WAL MULK LAA SYARIIKA LAKA."
("Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya, Ya Allah aku penuhi panggilanMu.  Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata.  Segenap kerajaan untukMu. 
Tidak ada sekutu bagiMu")

Majelis netizen rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah Allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al israa’-78, oleh Rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan Allah....(hr. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam,  sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(hr.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (Al Ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (QS. Ali Imran 104)
·      Dan  kata Rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan allah ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri watansawna an-fusakum  wa-antum tat luunal kitaaba Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 surah al baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis Netizen Rohimatullah
Perintah Berhaji, Sekali Seumur Hidup
·      Kalimah talbiyah inilah yang menjadi tujuan untuk berhaji, yaitu memenuhi panggilan allah swt, juga untuk memenuhi perintah Allah swt seperti yang difirmankan dalam QS. Ali_Imran (3:97) :”.. “ ….mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah….
fiihi aayaatun bayyinaatun maqoomu ibroohiima waman dakholahu kaana aaminan -walillaahi 'alaannaasi khijjul bayti mani istathoo'a ilayhi sabiilan waman kafaro fa-innallooha ghoniyyun 'anil 'aalamiin
 [3:97] Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah2l6. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
·      Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, dalam tafsir ibnu katsir 2/81, darut Thoyyibah, 1420 h, Syamilah : “ini adalah ayat yang menunjukkan wajibnya haji menurut pendapat jumhur ulama
·      Demikian juga perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, beliau bersabda, : “wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah”, kemudian ada seorang bertanya: “apakah setiap tahun wahai Rasulullah?”, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjawab sampai ditanya tiga kali, barulah setelah itu beliau menjawab: “jika aku katakan: “iya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun belum tentu kalian sanggup, maka biarkanlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, akibat banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi mereka, maka jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian dan jika aku telah melarang kalian akan sesuatu maka tinggalkanlah [HR. Muslim].
·      Ibnu al-Mundzir mengatakan bahwa ini adalah ijma’, : “para ulama telah bersepakat bahwa wajib bagi seorang muslim untuk menunaikan ibadah haji sekali seumur hidup, yaitu (disebut) “haji islam/hajjatul islam” kecuali (setelah berhaji) dia bernadzar (untuk berhaji lagi), maka wajib baginya menunaikan haji nadzarnya” [al-ijma’ 1/51, darul muslim, 1425 h, syamilah].   Setelah itu, jika haji lagi hukumnya sunnah saja.

Menggapai Haji Mabrur
·      Ibadah haji akan memberikan pengalaman spiritual yang baik bagi peningkatan keimanan seorang muslim, karena ibadah haji  bukan merupakan ibadah ritual semata.   Lebih dari itu, ibadah haji adalah napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci; Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Siti Hajar, dan Ismail.  Banyak peristiwa yang menggambarkan hidayah Allah SWT kepada hambanya yang sabar, taat dan bertaqwa kepadanNya.   
·      Setiap datang musim haji, kita selalu menaruh harapan terhadap para jemaah haji yang rata-rata sebanyak 200 ribu lebih orang agar kelak pulang dengan sandangan predikat ‘haji mabrur’.    Predikat ini tentu menjadi dambaan tidak saja bagi yang melaksanakan ibadah haji, namun juga kita semua.
·      Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik amal ialah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur.”     Pada kesempatan lain Rasulullah juga bersabda, “Jihadnya orang yang sudah tua dan jihadnya orang yang lemah dan wanita ialah haji mabrur.”  
·      Balasan untuk haji mabrur adalah surga, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW “..tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.”  (“Al hajjul mabrrur laisa lahuu jazaa illal jannah.”),.  Surga  adalah tempat yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur.
·      Secara terminologis, kata “mabrur”  dari kata “al-birru” berarti kebaikan atau mendapatkan kebaikan atau menjadi baik.    Dalam QS. ke-3 (Ali ‘Imran) ayat 92 Allah SWT berfirman: “lantanalul birro,  khatta tunfiquu mimma tuhibbun….. [Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai….. ].   
·      Dan bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan…..demikian yang disebutkan dalam  Q.S. Al-Baqarah [2]: 177
·      Kata mabrur ketika dirangkai dengan kata haji, maka ia menjadi sifat yang mengandung arti bahwa hajinya makbul/diterima dan hajinya diikuti dengan peningkatan kebajikan, kebaikan, bersih dan suci yang mendapat keridhoan Allah SWT dari keadaan sebelumnya.
·      Bahwa haji mabrur akan selalu ditandai dengan perubahan dalam diri pelakunya dengan mengalirnya amal saleh yang tiada putus-putusnya.  Bila setelah berhaji seseorang selalu berbuat baik-beramal soleh, sampai ia menghadap Allah SWT, maka insya-Allah telah mendapatkan kemabruran yang berujung diridhoi Allah untuk masuk syurga.
·      Dan insya-Allah inilah makna yang dapat dipahami dari Fiman Allah SWT dalam QS. Al-Baqoarah (2:197), “..Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”
·      Dengan kata lain haji mabrur adalah haji yang akan mendapatkan kebaikan. Sering juga dikatakan sebagai ibadah yang diterima Allah Swt. Dengan demikian, haji mabrur adalah haji yang mendatangkan kebaikan bagi pelakunya atau pelakunya selalu memberikan kebaikan kepada orang lain.
·      Jika logika itu dibalik, maka haji yang mardud (tertolak) adalah haji yang tidak mendatangkan kebaikan bagi pelakunya atau pelakunya tidak memberikan kebaikan kepada orang lain.
·      Sulitkah untuk menjadi mabrur ?,  Ada satu kisah yang patut untuk direnungkan, yaitu  kisah perjalanan haji Ibnu Muwaffaq yang dikutip al-Ghazali dalam Ihya 'Ulum al-Din.  Ketika Ibnu Muwaffaq melaksanakan ibadah haji, dan sedang berada di suatu masjid di Mina, ia sempat tertidur sejenak. Dalam tidurnya  ia bermimpi, melihat dan mendengar dialog dua orang malaikat.
Malaikat yang satu bertanya, ''Berapa jumlah jamaah haji tahun ini?'' ''Enam ratus ribu orang,'' jawab malaikat satunya. Kemudian ia bertana lagi ''Berapa orang dari mereka yang hajinya maqbul/mabrur?'' .
Dijawab oleh malaikat satunya ''Enam orang saja,''. Mendengar jawaban ini, Ibnu Muwaffaq terjaga, gemetaran, ia termenung sejenak, memikirkan betapa besarnya jumlah jamaah haji ketika itu, tetapi betapa sedikitnya jumlah mereka yang maqbul atau mabrur. Wallahu’alam bisawab.
·      Kemabruran dalam ibadah haji seseorang, justru akan ditampakkan  setelah ia pulang dari beribadah haji.  Kemabruran berupa meningkatnya amal kebajikan, amal soleh baik secara “hablumminanallah” maupun dalam “hablumminannas”.
·      Amal ibadah hajinya ter-refleksi dalam kehidupan sosialnya. Kebajikan dari buah  ibadahnya berbanding lurus dengan perilaku sosialnya.  Ia sumber kebaikan dan kebajikan bagi lingkungannya sosialnya.
·      Perilaku ibadah haji, banyak mengajarkan menjadi perilaku yang mabrur sebagai hikmah dari ibadah haji.  Hikmah memang merupakan hidayah dan anugerah dari Allah SWT.
 
yu/tiilkhikmata man yasyaau waman yu/talkhikmata faqod uutiya khoyron katsiiron wamaa yadzdzakkaru illaa uluul-albaab
[2:269] Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).  (Al Baqarah [2]: 269)
·      Kegiatan ritual ibadah haji, telah banyak memberikan hikmah yang dapat dijadikan pelajaran untuk meningkatkan ketaqwaan, tentunya seperti yang ditegaskan dalam ayat diatas, “…hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran…”
·      Dan sangat disayangkan bila dalam beribadah haji kita kehilangan hikmah yang terkandung didalamnya, dan hanya mendapatkan capek dan lelah belaka (seperti dalam Ibadan syiam banyak orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja).
Hikmah dan Nilai Filosofi dari Perjalanan Ibadah Haji
·      Dari rangkaian rukun haji tersebut, setiap rukunnya memberikan hikmah pada diri jamaah haji setelah pulang dari Baitullah dan dan memiliki nilai filosofi untuk  kembali kepada aktivitas kesehariannya ditempat tinggal asal.
Hikmah dan Filosofi pada Ihram (Rukun Haji Pertama)
·      Ihram, yaitu pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji di miqat (yaitu tempat atau waktu untuk memulai berniat ihram) ; 
·      Pakain ihram kaum laki-laki hanya terdiri dua lembar kain yang tanpa berjahit, yang disebut izaar (kain) dan rida' (selendang),  dan disunahkan berwarna putih.  Sedangkan bagi wanita, tidak ada pakaian khusus dan warna khusus untuk ihram, yang penting menutup aurat dan memenuhi adab-adab berpakaian bagi wanita dalam Islam.
·      Ini mengajarkan kepada kita, bahwa pakaian ihram ini disamping pertanda bahwa seseorang itu telah “labbaik allahumma labbaik” (aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah), juga mengingatkan kita akan “memenuhi panggilan-Mu untuk selamanya atau meninggal di kelak kemudian hari” (yang akan dibungkus kain kafan).
·      Karena itu berihram, memberi hikmah  bahwa status seseorang baik itu pangkat, jabatan, kekayaan, dan segala asesoris duniawi tidak pantas menjadikan manusia menjadi sombong, karena dihadapan Allah SWT hanya yang bertaqwalah yang lebih mulia. Inna akramakum ‘indalloohi ad-qookum “ (QS Al-Hujurat [49]:13). 
·      Pakaian sering cenderung menjadi simbul status seseorang dan kemewahan pakaian dapat membangkitkan sikap sombong dan arogan. Dengan berihram, maka umat manusia sedunia yang berkumpul untuk berhaji, telah ikhlas menanggalkan status duniawinya demi memenuhi panggilan Allah. Hadist Qudsy Allah berfirman : Wahai manusia sesungguhnya engkau kelaparan, AKU-lah yang memberimu makan.  Sesungguhnya engkau telanjang AKU-lah yang member pakaian”
·      Saat berihram banyak larangan yang harus dipatuhi, larangan yang dimaksud dalam kehidupan keseharian diluar kegiatan ibadah haji mungkin hal-hal yang biasa seperti : Tidak boleh memotong dan mencabut rambut, memotong kuku, menggaruk sampai kulit terkelupas atau mengeluarkan darah; Tidak boleh menggunakan parfum, termasuk parfum yang ada pada sabun; Tidak boleh bertengkar;  Tidak boleh membunuh binatang (kecuali mengancam jiwa), memotong atau mencabut tumbuhan dan segala hal yang mengganggu kehidupan mahluk; dll. dan kalau melanggar akan dikenakan dam/denda. 
·      Kemampuan membayar dam mungkin tidak jadi masalah, karena menurut ukuran duniawi tidaklah begitu besar.  Essensinya adalah sejauhmana kepatuhan dan ketaatan kita akan hukum Allah.  Komitmen ini yang akan memberi dampak pada kehidupan sesudah ibadah haji. Komitmen terhadap  keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui, akan menjadi sikap hidupnya  dalam menggapai surga kelak  dikemudian hari.
·      Nilai Filosofi dari berihram, mengajarkan pada sikap yang rendah hati, jauh dari sikap congkak, sombong, arogan, pamer kekayaan – jabatan – status, dll.  Dan juga berusaha untuk tidak suka melanggar syariat walau sekecil apapun seperti dalam ihram tidak boleh memotong kuku bisa ditaati, disini bukan soal kemampuanm membayar dam tetapi kemampuan mentaatinya.

Hikmah dan Filosofi dari Wukuf (Rukun haji Kedua).
·      Wukuf di Arafah (yaitu berdiam diri dan berdoa di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah) :
·      Kata ‘wukuf” berarti berhenti, diam tanpa bergerak. Wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah sebagai rukun  ibadah haji.  Rasulullah SAW bersabda :  Haji adalah (wukuf) di Arafah (HR. Bukhari & Muslim).   Tidak ada haji jika tidak wukuf di arofah.
·      Wukuf, merupakan cermin kehidupan bahwa, aktivitas sepadat apapun, ada saat untuk berdiam, bertafakur, bermunajat kehadirat Allah SWT. Ini konsekwensi logis dari komitmen mukminin iyyaka na’budu – wa iyyaka nastaiin” (Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan) (QS. Al-Fatiha [1]: 5).  Telampau sombong jika manusia tidak pernah bertafakur, bermunajat kehadirat Allah SWT.
·      Wukuf di Padang Arofah merupakan gambaran kelak kita akan dikumpulkan Allah SWT di Padang Mahsyar pada Hari Kebangkitan.  Wukuf atau berdiam, bisa bermakna kelak kalau semua anggota badan sudah diam atau berhenti (wafat) akan dibangkitkan lagi di Padang Mahsyar.  Padang Arafah ini sebagai miniatur Padang Mahsyar.
·      Waktu yang pendek di padang Arafah ini, pada  9 Zulhidjjah, terhitung mulai tergelincir matahari sampai matahari terbenam (maghrib). Mengisyaratkan kepada kita, betapa singkatnya hidup didunia ini dibanding dengan kehidupan yang abadi kelak.  Karena waktu yang singkat itu, banyak-banyaklah berdo’a , berzikir, bertalbiyah, istighfar, bertobat dan minta ampunan kehadirat Allah SWT, seperti yang telah dilakukan saat wukuf di Arofah,  serta berbuat baik,  agar kelak tidak menjadi manusia yang merugi. 
·      Rasulullah SWA pernah bersabda :  "Aku berlindung kepada Allah SWT dari (godaan) syetan yang terkutuk. Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka selain Hari Arofah."  (HR. Muslim)
·      Filosofi dari wukufnya, memberi dampak pada sikap yang tawaddu’ dan istiqomah keimanannya.  Sedang filosofi melontar jumrahnya membentuk sikap yang kuat dengan keimanannya, tidak mudah tergoda oleh iming-iming syetan untuk berbuat curang dan sikap buruk lainnya (korup, manupulasi,dll).

Hikmah Melontar Jumrah.
·      Melontar jumroh simbul permusuhan Nabi Ibrahim a.s.  dengan iblis karena telah menggoda agar membatalkan niatnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. (menyembelih putranya Ismail a.s).
·      Melontar Jumrah mengingatkan kepada orang mukmin, bahwa Godaan iblis terhadap manusia tak akan berhenti, karena itu sudah tekadnya sejak iblis menolak perintah untuk  bersujud kepada nabi Adam a.s  :
qoola robbi bimaa aghwaytanii lauzayyinanna lahum fiil-ardhi walaughwiyannahum ajma'iin
[15:39] Iblis berkata : "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (QS. Al_Hijr [15]:39)
Dalam Hadist Nabi SAW diingatkan : 
Sungguh syetan merayap pada manusia sebagaimana jalannya darah “
·      Begitu intensnya iblis/syetan menggoda manusia yang beriman, maka melontar jumrah memberi  peringatan akan permusuhan orang mukmin dengan iblis dan syetan.  Kita harus berusaha “melontar jumrah”  tidak saja saat beribadah haji, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pasca  beribadah haji. Lempar jauh-jauh  pikiran-pikiran buruk  dan niatan jahat yang dibisikan oleh iblis bin syetan ini.

Hikmah dan Filosofi dari Thawaf (Rukun Haji Ketiga).
·      Tawaf Ifadah (yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan setelah melontar jumroh Aqabah pada tgl 10 Zulhijah); 
·      Thawaf artinya berkeliling. Maksudnya mengelingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dan diakhir dari Rukun Hajar Aswad, dan Ka’bah berada pada sisi kiri yang berthawaf.“ …hendaklah mereka thawaf disekeling Bhait al-Altiq (Batitullah) “ (QS.: Al-Hajj [22]: 29).
Tsummal yaqdhuu tafatsahum walyuufuu nudzuurohum walyath-thaw-wafuu bilbaytil 'atiiq
[22:29] Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran988 yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka989 dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
·      Tujuh putaran dalam thowaf mengelilingi Ka’bah untuk memenuhi panggilan Allah dengan tak hendi berdo’a, berdzikir, bertasbih, memuja akan kebesaran Allah, memberi hikmah kepada kita, bahwa dalam “putaran waktu 7 hari dalam seminggu” hendak dalam keseharian kita setelah berhaji tetap tidak terlepas dari berdo’a, berdzikir, bertasbih kepada Allah SWT. 
·      Inilah kebajikan buah dari Ibadah haji, meningkatnya kedekatan kita dengan Allah SWT, karena baru saja “bertamu kerumah Allah / Baitullah”
·      Filosofi thowafnya, membekas kuat menjadikan dia orang yang selalu ingat kepada Sang Khaliq, kalimah talbiyahnya tetap mewarnai kehidupannya.  Dalam putaran waktu 7 hari dalam seminggu tidak pernah putus melakukan “hablumminallah” Aktifitas ibadahnya semakin meningkat baik secara kualitas maupun kualitasnya.

Hikmah dan filosofi dari Sa’i (Rukun Haji Keempat).
·      Sa’i (yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali, dilakukan setelah Tawaf Ifadah); 
·      Kata Sa’i memiliki arti ‘usaha’  maksudnya hidup ini harus dipenuhi dengan usaha atau ikhtiar dalam mencapai kebahagiaan ‘fiddunya wal akhirah’.
·      Kegiatan sa’i adalah berjalan kaki atau lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali. merupakan napak tilas perjuangan Siti Hajar yang sabar dan tawakal kepada Allah untuk mendapatkan air bagi putranya Ismail r.a yang akhirnya Allah mengalirkan Air Zam-zam.
·      Hikmah yang didapat dari sa’i, bahwa seorang muslim, lebih-lebih seorang mukmin haruslah giat dalam berusaha, berikhtiyar, bukan pemalas tetapi rajin dan giat bekerja, sabar, ulut dan bertawaqal.  Karena sadar bahwa manusia hanya mampu berusaha dan berikhtiyar, Allah jua yang akan menetapkan hasilnya.  Maka tawaqallah. 
·      Disamping itu hikmah lain adalah betapa besar kasih sayang dan tanggung jawab seorang ibu terhadap putranya.  Dari kasih sayang seorang ibulah, generasi yang santun, ulet, sabar dan bertawakal akan disiapkan, karena ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
·      Filofosi Sa’i, memberi motivasi bahwa hidup ini penuh perjuangan yang memerlukan usaha yang gigih, kerja keras, tidak gampang putus asa, optimis, namun tetap sabar dan bertawaqal.  Manusia yang berusaha, tetapi Allah jua yang menetapkan hasilnya.
Hikmah dan Filosofi dari Tahallul (Rukun Haji Kelima).
·      Tahallul (yaitu bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan Sa'i);
·      Tahallul atau bercukur (wajib bagi laki-laki) merupakan perbuatan untuk melepaskan diri dari larangan-larangan ihram selama berihram atau penegasan dan realisasi akan selesainya masa ihram.
·      Makna yang tersimpan sebagai hikmah tahallul adalah membersihkan ‘batok kepala’ yang didalamnya terdapai otak atau pikiran-pikiran manusia dari pikiran-pikiran buruk.  Bersihnya hati dan pikiran dari penyakit rohani (iri, dengki, hasut, ghibah, sombong, dll) sangat diperlukan untuk menapai kehidupan yang soleh/soleha dikemudian hari menuju keridhoan Allah SWT.
·      Akhirnya, dengan tahallul, nilai filosofinya, dengan mencukur rambut untuk menghilangkan ‘pikiran-pikiran buruk’. maka hati dan pikiran setelah usai melaksanakan ibadah haji menjadi bersih, bercahaya.  Karena itu kita tutup kepala kita dengan ‘tutup kepala putih’ ( tanda sudah haji ) juga pertanda bahwa hati dan pikirannya sudah suci dan bersih.  Sebagai haji mabrur. 
·      Makanya, do’a yang dibaca orang yang pulang dari haji adalah : tauban tauban tauban, lirabbinaa auban laa yu ghaadiru”  (Aku bertaubat, aku bertaubat, aku bertaubat  kepada Allah aku mengharapkan taubatku diterima, aku tidak akan mengulangi dosa-dosa lagi).
Hikmah dari Rukun Keenam, Tertib
·      Tertib, Mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal.
·      Ini mengajarkan kepada kita seorang yang hajinya mabrur, hidupnya akan lebih tertib, dalam pengertian tertib hidupnya, yaitu taat asas, taat kepada semua ketentuan yang disyariatkan Allah SWT kepada ummatnya.
·      Kalau saja perjalanan ritual ibadah haji, juga dapat memaknai hikmah yang terkandung dalam perbuatan-perbuatan ibadah haji, sehingga setelah pulang kembali tempat tinggal semula, berdampak meningkatnya kebajikan dan kebaikan dari perilaku sosialnya, sehingga kemabruran hajinya akan sangat berdampat kepada ketentraman dan kesalehan social.
·      Kemabruran haji seseorang akan terlihat, seberapa membekas dan terinternailsasi dalam dirinya, sehingga menjadi norma baru, atau norma baik yang lama semakin meningkat. 
Ibadah Yang Pahalanya Sama dengan haji
·      Ibnu Rajab menyebutkan didalam kitabnya, Latha ‘if Al-Ma’arif..sebuah bab khusus yg diberi judul: “Bab Amal yang Menggantikan Pahala Haji dan Umrah Ketika Tidak Mampu Menunaikannya”. Disebutkan didalamnya macam-macam amal yg keutamaan dan pahalanya sama dengan pahala haji bagi yg tidak mampu menunaikannya.
·      Dalam Latha’if Al-Ma’arif tersebut dikatakan sebagai berikut, “Jika kamu ingin mendapatkan pahala haji, sementara kamu belum mampu menunaikannya, maka ada beberapa amal yg bisa kamu lakukan sebagai pengganti ibadah haji”:
1.     Keluar dari rumah menuju shalat fardhu di masjid dalam kondisi sudah bersuci.
Dari ABu Umamah, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya seperti pahala haji orang berihram." (Shahih: Shahih Abu Dawud, no 558)

2.     Melaksanakan Shalat Fardhu Berjama'ah Dan Shalat Dhuha Di Masjid
Dari Abu Umamah, Rasulullah s.a.w bersabda,"Barangsiapa berjalan menuju berjama'ah sholat wajib, maka dia seperti berhaji. Dan barang siapa berjalan menuju shalat tathawwu'(sunnah) maka dia seperti berumrah yang nafilah (istilah lain sunnah)." (Hasan: Shahih Al-Jami' no. 6556),
Dalam hadits yang lainnya, Rasulullah bersabda," Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan sudah bersuci untuk shalat fardhu maka pahalanya seperti pahala orang haji yang berihram, Dan barangsiapa keluar shalat Dhuha dia tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan shalat sesudah shalat yang tidak ada perbuatan sia-sia di antara keduanya ditulis di kitab 'Illiyyin."( Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud, no. 522;Shahih Al-Jami' no. 6228)

3.     Berdzikirlah kepada Allah Ta’ala setiap selesai sholat fardhu, yaitu membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
Dari Abu Darda r.a, dia berkata,”kami berkata kepada Rasulullah saw, ‘Wahai rasulullah, orang2 kaya mendapatkan pahala haji, sementara kami tidakmampu menunaikannya, mereka berjihad dengan harta sementara kami tidak mampu berjihad karena kekurangan harta”.
Maka rasulullah bersabda:”Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yg lebih baik dari apa yg mereka dapatkan? Bacalah tasbih sebanyak tigapuluh tiga kali, tahmid tigapuluh tiga kali, dan takbir tigapuluhempat kali setiap selesei shalat lima waktu”.(HR.Ahmad)

4.     Shalat Subuh Berjama'ah Di Masjid Kemudian Duduk Berdzikir Sampai Terbit Matahari Lalu Shalat 2 Raka'at

مَنْ صَلَّىالْغَدَا ةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ   
Dari Anas bin Malik, Rasulullah s.a.w bersabda, "Barangsiapa Shalat Subuh berjamaah lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari kemudian shalat 2 raka'at, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna." (Hasan: Shahih At-Tirmidzi, no. 480, 586; Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib, no. 464; Ash-Shahihah, no. 3403)(Dishahihkan oleh Al-Albani).
Dalam hadits lain, dari Abu Umamah dan 'Utbah bin 'Abd, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa shalat Subuh dalam sebuah masjid secara berjama'ah lalu tinggal di dalamnya hingga ia Shalat Dhuha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang haji dan umrah yang sempurna haji dan umrahnya." (Hasan li ghairihi: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 469).
Dari hadis ini, ada lima syarat yang mesti dikerjakan oleh setiap Muslim untuk mendapatkan pahala haji dan umrah tanpa pergi ke Makkah. Pertama, shalat Subuh berjamaah. Kedua, tetap duduk di tempat shalatnya. Ketiga, berzikir kepada Allah SWT. Keempat, hal itu dilakukan sampai terbit matahari. Kelima, shalat sunah dua rakaat.
Para ulama berbeda pendapat tentang shalat sunah dua rakaat ini, apa namanya? Ada yang mengatakan itu adalah shalat sunah Thulu´al-Syams (terbit matahari) dan yang lain menyebutnya shalat sunah Muqadimah Dhuha (pembuka Dhuha).

5.     Mempelajari Atau Mengajarkan Kebaikan Di Masjid
Dari Abu Umamah, Nabi saw bersabda,"Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala orang haji sempurna hajinya.".
Dalam riwayat lain dengan redaksi, "Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan umrah yang sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang sempurna."(Hasan Shahih: Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib no 82).
Perlu diketahui, pahala ini bisa didapat dengan syarat, pelaku sebelum masuk ke dalam masjid, di perjalanan menuju masjid, atau masih dirumah, haruslah berniat untuk mempelajari atau mengajarkan kebaikan. Nabi dalam hadits diatas tidak menetapkan durasi waktu tertentu.

6.     Menghadiri shalat jumat dari awal sampai akhir sebanyak 40 kali shalat jumat berturut-turut.
Said bin Al-Musayyib berkata;”Ibadah jumat lebih saya sukai daripada menunaikan haji sunnah. Sesungguhnya Nabi SAW mensejajarkan yg bersegera datang menunaikan shalat jumat seperti orang yg berkurban di Baitullah”.
Dan dalam hadist dhaif disebutkan,” shalat jumat adalah ibadah haji bagi orang-orang miskin”.

Tapi Ingat !!!
·      Amal-amal ini tidak bisa menggugurkan kewajiban berhaji, karena Haji merupakan Kewajiban  bagi orang yang mampu untuk berhaji dan umrah. Orang-orang yang telah mengerjakan amal-amal ini tetap wajib melaksanakan ibadah haji
·      Al-Munawi dalam Al-Faidh Al-Qadiir jilid 6 hal. 228, "makna mendapat pahala haji atau mendapat pahala seperti pahala haji, tetapi tidak harus sama persis." Maka, amal-amal yang berpahala seperti/setara pahala haji dan umrah itu tidak menghapus kewajiban haji dan umrah.
·      Seandainya amal-amal itu bisa mengganti kewajiban haji dan umrah atas setiap muslim, maka tidak akan ada orang yang melaksanakan haji dan umrah sejak zaman Nabi Muhammad.
·      Nabi Muhammad yang mensosialisasikan amal-amal tersebut saja tetap melakukan haji dan umrah, demikian juga para pengikut beliau yang setia. Maka sebuah bid'ah dan kesesatan jika seseorang yang tidak berhaji dan berumrah dengan alasan telah beramal dengan amal-amal berpahala seperti pahala dan haji.

Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh



Label: