Mendidikan Sholat

21.18 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



WAYUQIMUNASHSHOLAH/MENDIDIKAN SHOLAT
( Kuliah Subuh Online )
http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif

Ass wrwb

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_1.png
alif-laam-miim
[2:1] Alif laam miin.10
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_2.png
dzaalikalkitaabu laa royba fiihi hudalil muttaqiin
[2:2] Kitab11 (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,12
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_3.png
alladziina yu/minuuna bilghoybi wayuqiimuunash-sholaata
 wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun
[2:3] (yaitu) mereka yang beriman13 kepada yang ghaib,14 yang mendirikan shalat,15
dan menafkahkan sebahagian rezki16 yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana sunnah rasul “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (hr. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan allah ta’ala dalam qs. Al israa’-78, oleh rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan allah....(HR. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam ,
 sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (qs ali imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(HR.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (al ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (ali imran 104)
·      Dan  kata rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan Allah Ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri Watansawna an-fusakum  Wa-antum tat luunal kitaaba
Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 Surah Al Baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Pagi ini saya akan menguraikan tentang “Wayuqiimuunash-sholaatasebagaiman salah satu karakteristik orang bertaqwa, sebagaimana difirmankan allah dalam ayat pembuka surah al baqoroh 2-3  tadi
·      Menurut ayat 2-3 al baqarah tersebut karakteristik orang bertakwa adalah :
Pertama,dzaalikalkitaabu laa royba fiihi hudalil muttaqiin“ / terhadap al qur’an sudah tidak ada keraguan dan menjadikannya sebagai pentunjuk
Kedua, Yu/minuuna bilghoybi/beriman kepada yang ghoib
Ketiga, Wayuqiimuunash-sholaata/mendirikan sholat
Keempat, wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun/ menafkahkan sebagian rezeqi
Untuk ciri-ciri taqwa yang pertama dan kedua, sudah dibahas pada episode sebelumnya

Majelis Netizen Rohimatullah
Ciri Taqwa Yang Ketiga :
 Wayuqiimuunash-sholaata
·      Sebelum melaksanakan untuk mendirikan sholat/”aqiimuunash sholah”,  dipersyaratkan bersuci atau mengambil wudhu dahulu.
·      Imam Nawawi dalam Riyadus Sholihin (taman orang soleh) dalam Kitab 1 Bab 1 mengatakan wudhu sebagai amalan washilah untuk suatu amalan maksud atau tujuan yaitu akan melaksanakan sholat, karena perintah rasululloh saw : jika kamu berdiri shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah kiblat lalu bertakbirlah.” (hr. Al-bukhari dan muslim dari abu hurairah).
·      Menjaga dan menyempunakan “wudhu’nya”  berarti menjaga dan menyempurkan rukun-rukunnya dan sunnahnya.
·      Dalam rukun wudhu yang ditetapkan oleh allah ta’ala, ada empat hal yang harus dilakukan (QS. Al Maidah [5]:6):
1. FAGSILUU WUJUUHAKUM, ( BASUHLAH MUKAMU)
2. WA AIDI-YAKUM ILAL MARAA FIQI,( DAN TANGANMU SAMPAI DENGAN SIKU,)
3. WAMSAHUU BIRU ‘USIKUM, (DAN SAPULAH KEPALAMU)
4. WA ARJULAKUM ILAL KA’-BAINI….. (DAN (BASUH) KAKIMU SAMPAI DENGAN KEDUA MATA KAKI, )
·      Sedang yang disunnahkan,  setelah tasmiyah (membaca bismillahirrah maanirrohim), membasuh kedua telinga, menggosok jari-jari dan menghirup dihidung (HR. Tirmidzi); berkumur/abu dawud; dilakukan tiga kali (HR. Muslim)
·      Menjaga dan menyempurnakan wudhu’ nya, berarti menjaga kesucian anggota badan yang telah dibasuh dengan air wudhu, wajahnya, tangannya, kepalanya, kakinya, mulutnya, telinganya, sampai diluar sholat.

Majelis Netizen Rohimatullah
Menjaga dan menyempurnakan sholat.
·      Perintah  aqiimuunash-sholaata/ mendirikan sholat,  setidaknya disebut 17 kali dalam al-Qur’an dalam lafaz....
“aqiimush-shalata” (khitab untuk jamak/12 ayat)
“aqimish-shalata” (khithab untuk tunggal-5 ayat),
·      Allah tidak menggunakan kata perintah  “fa’ala”/kerjakan “ tetapi memilih kata perintah “aqim”/dirikan, tegakkan, luruskan.   Mendirikan shalat bukan sekadar melaksanakan untuk menggugurkan kewajiban,
·      Mendirikan shalat punya kesungguhan, kekhusu’an, keikhlasan, kalau tidak robohlah/ sia-sia sholatnya, karena tidak tegak dan tidak lurus, "berapa banyak orang yang melaksanakan shalat, keuntungan yang diperoleh dari shalatnya, hanyalah capai dan payah saja." (HR. Ibnu Majah- dari riwayat Abu Hurairah r.a)
·      Kalau yang dilakukan adalah benar-benar “mendirikan sholat” bukan “menjalankan sholat” yang hanya untuk menggugurkan wajib maka isyarat allah swt bahwa innash-sholaata tanhaa -- 'anil fakhsyaa-i  wal munkari sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”  (qs al ankabut [29]: 45) benar-benar bisa diwujudkan.
·      Begitu tingginya kedudukan sholat, maka sholat menjadi ukuran amal kebaikan manusia pada yaumil hisab nanti, awalu maa yukhaasabu bihil-abdu yaumal qiyaamatis-sholaah, ........ Permulaan amalan yang dihisab pada hari kiamat adalah sholat ..
 bila hasil hisab sholatnya baik, ia mendapatkan kemenangan, maksudnya baik pula amalan lainnya / (HR Ath Thabrani) . Dan kunci syurga itu adalah sholat/miftaakhul jannati as sholaah (HR Ahmad)

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan, dari  Ibnu ‘Abbas ra, Adh Dhaha’ dan Qotadah, mengatakan : yuqimuunash-sholahta” / mendirikan sholat itu berarti : mendirikan sholat dengan segala kewajibannya, mengerjakan dan menjaga kesempurnaan ruku’, sujud, bacaannya, tasyahudnya, sholawatnya, ketepatan waktunya dan  khusu’ nya.
·      Maksudnya adalah menjaga dan menyempurkan rukun-rukunnya, baik yang Fi’liyah, qolbyah, maupun qouliyah
·      Aspek Fi’li, (berdiri, rukuk dan sujud)
Dalam setiap rokaatnya, ketiga gerakan tersebut  sama dengan Satu Putaran Thowaf (360 derajat)
~     Berdiri Tegak, (posisi 0 derajat)
QS. Al Baqarah (2:238): ...waquumuu lillaahi qoo-nitiin
Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.
~      Rukuk dan Sujud   [QS: Al-Hajj (22:77)] :
“...irka'uu wasjuduu wa' buduu robbakum ..”
“..ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu...”
Hadits: “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi” 
(1 jidat sd hidung, 2 telapak tangan, 2 lutut dan 2 telapak kaki)
(Muttafaqun ‘Alaih)
~     Posisi Rukuk (posisi 90 derajat) dan Sujud (posisi 135 derajat), 2 kali sujud (170 derajat)  Total (0+90+170=360 derajat-satu putaran thowaf)
~     Putaran 360 derajat ini, adalah mengitari titik Illahiyah, sehingga kehidupan seorang mukmin selalu dalam lingkaran sifat-sirat Illahiyah.   Kalau ia munkar maka berarti ia keluar dari orbit Illahiyah (out of side)
·      Karena itu sholat merupakan garis batas demarkasu antara mukminin dan musrikin, siapa yang menidikan sholat dan menunaikan zakat, mereka adalah bersaudara (wa aqoomush-sholaata wa aatawuz-zakaata, fa ikhwaanukum fid-diin--QS. At-Taubah (9:11,),
Dalam hadits diriwayatkan Jabir bin ‘Abdillah, Rasululloh saw juga menegaskan... (pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)
·      Aspek qolbi, mengisyaratkan bahwa sholat harus disertai dengan perbuatan hati berupa menguatkan niat ibadah semata-mata karena Allah Ta’ala, ..... “Sesungguhnya setiap amalan berdasarkan   niatnya,   dan   bagi   setiap   orang (dibalas sesuai) apa yang dia niatkan“ (Muttafaq alaih, dari hadits Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra)
·      Aspek qouliyah,  sholat yang diawali dengan takbir (‘dimensi komunikasi vertikal_hablum-minalloh’) sebagai bentuk penghambaan kepada allah swt.  Dan diakhiri dengan salam (dimensi komunikasi horizontal-‘hablum-minannas), untuk menebar keslamatan dan kedamaian kepada sesama makhluk allah, sebagai bukti  bahwa  islam itu rahmatan lil’alamin.
·      Aspek qouliyah  yang berdimensi “hablum-minnalloh” dan “hablum-minnas” senafas dengan surah Ali Imran [3]:112 :  Dhuribat 'alayhimudz-dzillatu ayna maa tsuqifuu - Illaa bikhablim-minalloohi wakhablim- minannaasi ..../ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, Kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.
·      Ayat ini mengisyaratkan bahwa kesalehan ibadah mahdhohnya (seperti sholat/individu) tidak akan sempurna kalau tidak berdampak pada kesalehan ibadah ijtimaiyahnya (ibadah sosialnyanya). 
·      Dalam bahasa sosiologis, kesalehan ibadah mahdhohnya berbanding lurus dengan kesalehan sosialnya (ijtimaiyahnya), karena nur illahiyah dari ibadah sholatnya terus memancar dalam perilaku sosial.
·      Ibadah yang benar, memang harus bermanfaat pada dua sisi, disatu sisi ibadah itu bermanfaat untak dirinya sendiri (individual/syakh-shiyah) dan sisi lain untuk orang lain atau masyarakat (sosial/ijtima'iyah).

Sinergitas Empat Potensi  
·      Perilaku baik atau amalan sholihan yang dihasilkan dari menyempurnakan sholatnya, dipengaruhi oleh “sinergitas empat potensi” yang ada di dalam diri manusia, yaitu :
~     Potensi Aqliyah, yaitu potensi kecerdasan intelektyualnya (IQ), yang akan memproduksi pola pikir (mindset) yang positif atau yang negatif (positif or negatif thinking)
~     Potensi Qolbiyah, yaitu potensi kecerdasan mental-emosionalnya (EQ)  yang akan memberi warna perilaku seseorang, apakah lebih pada  God Spot/maunah qolbyah/kata hati,  yang akan mengendalikan dan mengontrol aktivitas fisik pada garis orbit yang benar, tidak out of the track,
~     Potensi Dienyah/Agama-spiritula, yaitu potensi kecerdasan spiritualnya (SQ), sebagai manusia yang agamis, potensi ini merupakan hidayah Allah berupa petunjuk kejalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh Allah SWT, yang menunjukan kecerdasan spiritualnya/SQ
~     Potensi Fi’liyan/fisik, yang merupakan potensi dari dimensi fisik yang akan “mengekskusi”  ketiga potensi sebelumnya dalam wujud perilaku nyata. Perbuatan seseorang adalah gambaran dari potensi aqliyahnya (yang dipikirkan), potensi qolbiyahnya (keadaan emosinya) dan potensi spiritualnya (keimanannya)
·      Bagi orang mengalami ketertutupan dimensi spiritual dan emosialnya (qolbun mentaqoliba), sehingga SQ dan EQ tidak berfungsi secara maksimal, sehingga dia mudah menjadi dhzonnul jahilliyah, berprasangka buruk  kepada Allah kalau tidak mendapatkan apa yang diharapkan.
·      Bagaimana membuka tabir hitam yang menutupi God Spot atau fitrah kita, sehingga kita mampu melakukan taqorrub (mendekat) kepada Allah SWT.
~     Formula zero mind process/ZMP), yaitu suatu proses yang bertujuan untuk membersihkan hati dari belenggu yang menutupinya (qolbun muntaqoliba)
~     Formulanya adalah :  T dibagi  H hasilnya R
~     T (tauhid); H (hamba Allah) ; R = rahmatan lil alamin.
~     Ke-Tauhid-an yang istiqomah.... (T) nilai 1 (Allahu ahad)
~     Sebagai Hamba Allah, mengosongkan diri dihadapan Allah.....(H) nilai 0 (nol)
~     Maka didapatkan Rahmatan lil ‘alamin..... (R) nilai takterhingga
~     (satu dibagi nol sama dengan takterhingga)
·      Proses inilah yang banyak memberikan “kemukzizatan” atau hal yang luar biasa yang dialami oleh  sesorang saat menghadapi bencana dan cobaan.

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Dalam Aspek qouliyah  yang berdimensi “hablum-minnalloh” dan “hablum-minnas” senafas dengan surah Ali Imran [3]:112 :  Dhuribat 'alayhimudz-dzillatu ayna maa tsuqifuu - Illaa bikhablim-minalloohi wakhablim- minannaasi ..../ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, Kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.
·      Bahwa “Hablulminalloh wa hablumminannas” tidak dapat dipisahkan harus dilakukan secara beriringan, karena perilaku seseorang akan ditentukan oleh kualitas sholatnya.
·      Dalam Al Qur’anul Karim, banyak yang menunjukan bahwa antara “hablulminalloh wa hablumminannas” tidak bisa dilakukan secara parsial, harus integral dari kedua dalam satu paket, diantaranya :
·      Pertama, dalam surah ke 107 Al Maa’un : 1-3 :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/107/107_1.png
aro-aytalladzii yukadzdzibu biddiin
[107:1] Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/107/107_2.png
fadzaalikalladzii yadu''ul yatiim
[107:2] Itulah orang yang menghardik anak yatim,
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/107/107_3.png
walaa yakhudhdhu 'alaa tho'aamil miskiin
[107:3] dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Mendustakan agama, berarti mendustakan ibadah yang dilakukan, ya sholatnya, zakatnya, ya puasanya ya hajinya, dan ibadah lainnya, bila tidak ada kepedulian terhadap sesamanya dalam hal ini disebut secara khusus anak yatim dan orang miskin.
“laa yakhudh-dhu” tidak menganjurkan bermakna tidak saja dirinya yang memberi makan orang miskin bila memang mampu, tetpi juga menganjurkan kepada orang lain.
Imam Nawawi dalam Kitab Riyyadush Sholihin Kitab I Bab 30 tentang Syafaat, memberi pertolongan tidak harus dari dirinya saja, dianjurkan juga mengajak kerabat muk\slim dan mukin lainnya untuk ikut meringankan beban saudara sesama muslim.
Hal ini juga diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS. An Nisaa’ :85 : Dan barang siapa yang memberikan pertolongan berupa kebaikan, maka tentulah ia akan memperoleh bagian daripadanya”
Perbuatan menganjurkan kepada umat muslim agar menolong saudara sesama mulsim, juga dicontohkan oleh Rasulullloh saw. Dari Abu Musa al Asy’ari r.a, katanya : Nabi saw itu apabila didatangi oleh seseorang yang meminta bantuan, maka beliau menyampaikan kepada kawan-kawan duduknya, kemudian bersabda : berilah pertolongan padanya, sesungguhnya engkau semua mendapatkan pahala dan Allah memutuskan apa-apa yang disenangi (apa-apa yang dikehendaki) atas lisan nabiNya (Muttafaq’alaih)
·      Kedua, Dalam Surah Ke 108 Al Kautsar Ayat 1-2 :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/108/108_1.png
innaa a'thoynaakal kawtsar
[108:1] Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni'mat yang banyak.
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/108/108_2.png
fasholli lirobbika wanhar
[108:2] Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
Penyembelihan hewan kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual, yaitu melaksanakan perintah allah ta’ala  dan kesalehan sosial, karena  kurban mempunyai dimensi kemanusiaan.  Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban (ibadah ijtima’iyahnya).
·      Ketiga, Dalam Al Qur’an sekurang-kurang diulang sebanyak 24 kali perintah mendirikan sholat-selalu diikuti membayar zakat,  ini membuktikan bahwa ibadah ukrowi tidak bisa dipisahkan dengan ibadah ijtima’iyahnya.
Misalnya dalam surah  Al_Baqarah (2:43),
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_43.png
wa-aqiimu shsholaata waaatuuzzakaata warka'uu ma'arrooki'iin
[2:43] Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'
Ibnu Katsir dalam tafsir al qur’an al ‘azhim (7:624) mengatakan : Shalat adalah ibadah qolbu dan jasad yang paling mulia. Sedangkan zakat adalah bentuk berbuat ihsan (kebaikan) kepada orang lain.
·      Keempat,
~        Sebagaimana kisah berangkat haji seorang tabi’in, ali bin muwaffaq.
~        Dari 60 ribu jamaah haji yang datang ke tanah suci, hanya haji ali bin muwaffaq seorang yang mabrur.
~        Padahal, sebenarnya ia tak pernah menginjakkan kaki di tanah suci. Ali menemukan satu keluarga yang kelaparan dalam perjalanan hajinya dari damaskus.
~        Ia pun membatalkan perjalanan hajinya dan memberikan bekalnya kepada orang yang kelaparan itu.
~        Kisah masyhur yang ditulis abdullah bin mubarak ini mengisyaratkan, tak ada artinya ibadah sehebat apa pun tanpa peduli dengan kondisi sosial.
·      Kelima,, dalam Surah An Nisaa’ (3): 36, Allah Ta’ala juga mengingatkan :
wa'buduullaaha walaa tusyrikuu bihi syay-an wabilwaalidayni ihsaanan wabidzii lqurbaa walyataamaa walmasaakiini waljaari dzii lqurbaa waljaari ljunubi wassahibi biljanbi wabni ssabiili wamaa malakat aymaanukum innallaaha laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuraa
[4:36] Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,   [QS. An-nisaa’ [3]: 36].
·      Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya,: Mankaana yukminu billahi wal yaumil akhiri, falaayukrim jarohu (Barangsiapa beriman kepada allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya).
·      Dari Ibnu Umar dan Aisyah, r.a, Rasululloh saw bersabda :  “tidak henti-hentinya jibril memberikan wasiat kepadaku supaya berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menyangka seolah-olah jibril akan memasukan tetangga sebagai ahli warisku (Muttafaq ‘allaih)
·      Dari beberapa hadis terkait “tetangga” itu, Imam Nawawi dalam kitab Riyyadush Sholihin pada bab 23, tentang hak tetangga, menyebutkan ada 3 hal yang harus dilakukan seorang mukin agar benar-benar sempurna keimanannya :
1)     Jangan menyakiti tetangga, berbuat baiklah kepadanya
2)     Memuliakan tamu, baik yang sudah kenal maupun belum kenal.
3)     Menjaga ucapan yang baik, kalau tidak lebih baik diam.
·      Ucapan merupakan gambaran karakter dan suasana hati seseorang, “tidak lurus keimanan seseorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak lurus hatinya seseorang sebelum lurus lisannya”   Sabda Rasululloh dalam Hadits yang  diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
·      Urusan lisan ini, memang harus ektra hati-hati, “orang yang kata-katanya “setajam silet” lukanya akan membekas jauh dilubuk hatinya.
·      Menjaga ucapan itu penting, karena Rasululloh saw saat ditanya tentang penyebab banyaknya manusia masuk neraka ...beliau menjawab : mulut dan kemaluan ! (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
·      Ucapan yang bersifat hasud, iri, dengki, riak, tukang fitnah, tukang nggibah, merupakan penyakit hati.
·      Bedanya penyakit hati/rohani dengan penyakit fisik,   
~Kalau penyakit fisik, dapat cepat disembuhkan karena dirinya mengetahui kalau ia lagi sakit (misalnya lagi pilek suara bindeng, atau pusing)
~Tetapi kalau penyakit hati, orang yang sakit tidak merasakannya, yang merasakan dan tahu adalah orang lain yang tersakiti oleh ucapannya, karena itu penyakit ini tidak mudah menyembuhkannya.
·      Rasululloh saw mengingatkan, laa yadkhulul jannata nammaa mun / tidak akan masuk surga,  (seorang) penghasut (HR. Muslim)
·      Sebaliknya, Rasulullah Saw Mengatakan :  Al Kalimatut Thoyyibatu Shodaqoh / Berkata Yang Baik Adalah Sedekah  (Hr Bukhari )
·      Tapi Sifat Iri tetap boleh dipelihara, asal kita ngiri  kepada yang orang yang ibadahnya lebih tekun, lebih khusu’ lebih rajin dari pada kita.
·      Kisah tentang orang yang berpenyakit hati ini menjadi bangkrut di Yaumil Akhir nanti.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, mengisahkan, suatu ketika saat rasululloh saat berkumpul dengan para sahabat, beliau bertanya :
~ “wahai sabatku, tahukah kalian siapa orang yang paling bangkrut” ?
~ Para sahabat menjawabnya : orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham”
~ Sahabat yang lain menjawab :”orang yang bangkrut adalah orang yang banyak hutang”
~ Rasulullah saw. Kemudian bersabda sebagai berikut.
~ “orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) ibadah shalat, puasa, dan zakat.
~ Namun sayang dia pun datang dengan membawa dosa. Dia telah mencaci, memfitnah, memakan hartanya, membunuh, dan memukul orang
~ Akhirnya semua kebaikannya diberikan kepada orang yang ini dan orang yang itu.
~ Dan kalau belum cukup dosa yang yang tersakiti ia ambil menjadi dosanya. Setelah itu dia dilemparkan ke neraka”
~ Walallohu a’lam bishshowab

Majelis Netizen Rohimatullah
Hikmah sholat korellasinya dengan kehidupan sosial.
· Aktivitas sholat, terdapat 13 rukun sholat dibagi dalam 3 kelompok rukun yaitu :
·      qolbi/niat-hati-kalbu (1), Niat.
·      qouli/bacaan-ucapan (5), takbiratul ihram, membaca fatihah, membaca tasyahud akhir, membaca solawat, membaca salam.
·      fi’li /gerakan (7), berdiri tegak, rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, duduk tasyahud akhir, tertib. 





Majelis Netizen Rohimatullah
Sholat menjadi pembeda dgn makhluk lain.
·      Kewajiban mendirikan sholat hanya diperintahkan kepada yang namanya “manusia” makhluk lain tidak diperintahkan sholat, sehingga sholat menjadi pembeda baik dengan makhluk lain maupun dengan sesama manusia.
·      Dalam hadits diriwayatkan Jabir bin ‘Abdillah, Rasululloh saw juga menegaskan...(pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)
·      Sholat juga akan membedakan manusia dengan hewan, hewan tidak diperintah sholat, namun pada Yaumul Hisab tetap akan dilakukan hisab kemudian di jadikan tanah.
·      Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al An’aam (6):38 dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam al-kitab (catatan amalan binatang dalam lauhul mahfudz) kemudian kepada tuhanlah mereka dihimpunkan.
·      Setelah dihisab,  maka binatang-binatang itu berubah menjadi tanah. Tatkala melihat hewan itu diubah menjadi tanah, orang-orang kafir itu mengatakan, “alangkah baiknya jika aku menjadi tanah.” Inilah salah satu makna firman Allah Ta’ala  dalam (QS. An-Naba[78]:40) : wayaquulul kaafiru  yaa lay-tanii kuntu turoobaa /... Dan orang kafir berkata:"alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah".
·      Orang muslim yang tidak sholat digambarkan seperti dalam kisah tentang seorang pertani yang membajak sawahnya..... dengan sapi.
Dialog sapi dan petani :
~     Kenapa kok berhenti ? Tanya sapi
~     Istirahat-capek !! Jawab petani
Saat istirahat, sayub-sayub terdengar suara adzan
~     Suara apa itu ? Tanya sapi rada kepo
~     Suara adzan !! Kata petani agak malas
~     Maksudnya apa itu ? Tanya sapi
~     Panggilan sholat !! Jawab petani
~     Lho kamu kok gak sholat !! Kata sapi
~     Enggak.....!! Jawab petani singkat
~     Ohh sama dengan saya..!! Kata sapi
·      Dalam perjananan Isro’ Rasululloh SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke masjidil Aqso (Palestin) di tengah perjalanan, beliau juga bertemu dengan sekelompok kaum yang menghantamkan batu besar ke kepala mereka sendiri sampai hancur, setiap kali hancur, kepala yang remuk itu kembali lagi seperti semula dan begitu seterusnya. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah manusia yang merasa berat untuk melaksanakan kewajiban sholat.

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Akhirnya, dari menjaga kekhusu’an dan kesempurnaan wudhu’ dan aqiimishshola,  akan membentuk seorang muslim yang memiliki   :
·      Qolbun taqqinun, hatinya tenang, ikhsan dan ikhlas, penuh ketaqwaan, bersih, karena selalu taqorub, dan khusuk dalam sholatnya,.... Tidak hasut, iri, dengki, dan sodaranya
·      Wajhun sholikhun, wajahnya bercahaya, bersih dan berseri, karena seringnya kena air wudhu....tidak kusut, mbesengut, dan sangar 
·      Yad’un yakhinun, tangannya ringan dalam menolong sesama, suka bersedekah, dan tidak suka mengambil yang bukan haknya,... Karena selalu disucikan saat berwudhu.
·      Lisanun shodiqun, ucapannya dapat dipercaya, menyejukkan yang mendengar kannya,  dakwahnya mendamaikan umat, karena mulutnya selalu disucikan saat berkumur dalam berwudhu, .... Bukan sebaliknya, ucapannya pedas dan menyakiti 
·      Dan semua itu akan membentuk perilaku yang baik atau amalun sholikhun

·      Sholat merupakan teraphis bagi timbulnya penyakit, baik penyakit hati, karena berfungsinya empat potensi tadi (fi’li, naqli, qolby dan dienul haq), juga terapi bagi penyakit fisik seperti
·      Seorang psikholog terkemuka : Dr. A.A. Brille mengungkapkan :  anyone who is truly religius does not develop a neurosis ( tiap orang yang benar-benar mengamalkan agamanya/sholat tidak bisa kena neurosis/gangguan tubuh karena syarat)
·      Sholat merupakan terapi keseimbangan lahiriah dan bathiniah, dengan sholat insya-Allah terhindar dari neurosis, seperti firman Allah SWT dalam Q. Surah At-Thoha (20:14) ”wa awimissholaa lidzikkri” (dirikan sholat untuk mengingatKu) dengan selalu mengingat Allah maka keseimbangan bathiah kita dapat dijaga.  Insya-Allah.  *********

Majelis Netizen Rohimatullah
Ciri Taqwa Yang Keempat,
wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun
Dan menafkahkan sebahagian rezki16 yang kami anugerahkan kepada mereka.
·      Dalam tafsir al qur’an yang dimaksud rezki adalah segala yang dapat diambil manfaatnya.  Sedang Menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh tuhan kepada orang-orang yang disyari'atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain, salah satunya dengan cara membayar zakat
Etimologi
·      Secara harfiah bahasa (etimologi/lughot) zakat berarti "tumbuh", "berkembang", “kesuburan” (HR.At-Tirmidzi), berarti "menyucikan", atau "membersihkan" .  Dalam Surah Al_Baqoroh (2:276) diterangkan :
yamkhaqulloohurribaa wayurbiishshodaqooti walaahu laa yukhibbu kulla kaffaarin atsiim
[2:276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah177. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa178.
([177]. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.  [178]. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya)
·      Sedangkan secara terminologi syari'ah (Hukum Islam), zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian harta dalam jumlah tertenu, menurut sifat-sifat tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawiy).
·      Selain itu, ada istilah shodaqah dan infaq, sebagian ulama fiqh, mengatakan bahwa shodaqah wajib dinamakan zakat, sedang shodaqah sunnah dinamakan infaq.  Sebagian yang lain mengatakan infaq wajib dinamakan zakat, sedangkan infaq sunnah dinamakan shodaqah.

Kewajiban Zakat
·      Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
·      Zakat termasuk dalam kategori ibadah mahdhoh  (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.
QS. Al_Baqarah (2:43),
wa-aqiimuu shshalaata waaatuu zzakaata warka'uu ma'a rraaki'iin
[2:43] Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'

QS. Al_Baqarah (2:110),
wa-aqiimuush-sholaata waaatuuzzakaata wamaa tuqoddimuu li-anfusikum min khoyrin tajiduuhu 'indalloohi innallooha bimaa ta'maluuna bashiir
[2:110] Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
Keutamaan berzakat.
·      Dengan berzakat selain melaksanakan kewajiban atas perintah Allah Ta’ala sehingga kalau dilaksanakan dengan benar akan menpatkan pahala, juga akan mendapatkan ketenangan hati, karena kita manahan hak orang yang berhak menerima zakat tersebut.
QS. Al_Baqarah (2:277),
innalladziina aamanuu wa'amiluush-shoolihaati wa-aqoomuush-sholaata wa-aatawuuz-zakaata lahum ajruhum 'inda robbihim walaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuun
[2:277] Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Balasan bagi yang tidak membayar zakat
·      Bagi siapa yang tidak menunaikan zakat, balasan yang akan diterima amatlah pedih seperti yang dijelaskan dalam Surah At_Taubah (9:35) yaitu dengan siksaan “ dipanaskannya emas dan perak dalam neraka jahanan yang dibakarkan ke dahi, lambung dan penggungnya. Juga kata Allah merupakan kemunafikan hati seperti yang difirmankan-Nya dalam QS At_Taubah (9:77) :
fa-a'qobahum nifaaqon fii quluubihim ilaa yawmi yalqownahu bimaa akhlafuullaaha maa wa'aduuhu wabimaa kaanuu yakdzibuun
[9:77] Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
      [Baca juga : QS. Al_Lail (92:8-10) QS. Ali_Imran (3:180) ]

·      Ada delapan asnab atau pihak yang berhak menerima zakat, yaitu : …untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, [QS.At_Taubah (9:60)

Peran Zakat
Aspek Diniyah (Agama)
·      Dari aspek keagamaan Zakat termasuk Rukun Islam Ketiga yang harus dijalan sebagai seorang muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sekaligus untuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya.  Firman Allah SWT :
wa-aqiimuushsholaata waaatuuzzakaata warka'uu ma'arrooki'iin
[2:43] Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'  ( Maksudnya :Tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.)
·       Kewajiban membayar zakat juga dimaksudkan untuk mensucikan harta dari riba dan sekaligus menyuburkan untuk terus dapat bersedekah, karena dengan berzakat, rezeki akan terys bertambah, sebagaimana Fiman Allah SWT : yamkhaqulloohurribaa wayurbiishshodaqooti walaahu laa yukhibbu kulla kaffaarin atsiim/Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah177. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa178./(QS. Al_Baqarah [2]:276)
·      Yang dimaksud dengan ‘yamkhaqu” atau memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan “wayurbiishshodaqooti” atau menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.  Karena itu Allah tidak menyukai orang-orang selalu berbuat dosa menghalalkan riba dan tetap melakukannya.
·      Zakat juga dimaksudkan untuk mensucikan jiwa. Allah SWT berfirman dalam QS. At_Taubah [9]: 103) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"  
Khudz min amwaalihim shodaqatan tuthahhiruhum watuzakkiihim bihaa washolli 'alayhim innashalootaka sakanun lahum waloohu samii'un 'aliim (QS.
·      Kata “tuthahhiruhum” dalam ayat diatas bermakna bahwa zakat itu akan membersihkan jiwa dari kekirian dan cinta yang berlebihan kepada harta benda, dan “watuzakkiihim” bermakna bahwa zakat itu akan menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati dan mengembangkan harta bendanya. Berzakat secara maknawi bukan berkurang, tetapi semakin bertambah hartanya yang akan dibawa keakherat kela.
·      Berkembangnya harta ini dapat dilihat dari dua aspek: (1) Aspek spiritual, berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah Ayat 276:   "Allah memusnahkan riba dan mengembangkan sedekah/zakat".  (2) Aspek ekonomis-psikologis, yaitu ketenangan batin pemberi zakat. Sedekah dan zakat akan mengantarnya berkonsentrasi dalam usaha dan mendorong terciptanya daya beli dan produksi baru bagi produsen.
Aspek  Khuluqiyah (Segi Akhlak).
·      Membayar zakat secara istiqomah, akan menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada, serta meluaskan jiwa pada muzakin.  Disamping memang dalam harta yang kita meliki, ada hak saudara kita sesuai yang diperintahkan Allah SWT.
·      Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahman dan rahim (belas kasih sayang) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya. Hakekatnya sesama muslim adalah saudara, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menganiayanya, menelantarkannya, mendustakannya dan menghinanya. Taqwa itu bersumber disini (Beliau mengisyaratkan dengan tangan kearah dadanya tiga kali). Cukuplah seorang itu dianggap jahat bila ia senang menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lainnya". (HR. Muslim).
·      Karena itulah seorang muslim yang berakhlak mulia, ia memiliki social responsibility yang tinggi terhadap saudaranya, ia penuh empathi, apa yang dirasakan oleh saudaranya yang masih kekurangan, maka zakat inilah sarana yang untuk mewujudkan rasa solidaritas yang agamis, yang islamiah terhadap sauadaranya itu.
·      Mengikis penyakit akhlak buruk seperti kikir, pelit dan bakhil yang sangat di jauh dari ajaran Agama Islam, karena orang-orang seperti itu sama saja dengan mendustakan agama,  Allah SWT mengingatkan, “
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.  [QS. Al_Maa’un (107:1-3)}

Aspek Ijtimaiyyah (Sosial Kemasyarakatan)
·      Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin (dhuafa) yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia. Zakat bisa mengurangi kecemburuan/kesenjangan sosial, yang menjadi potensi konflik social
·      Zakat memperbaiki perasaan-perasaan yang buruk yang timbul di antara orang-orang kaya dan miskin, dan memperbaiki hubungan antara mereka yang mengeluarkan zakat dengan kelompok-kelompok yang menerima zakat, sehingga diantara yang kaya dan yang miskin terjadi distribusi peran yang saling melengkapi, terciptanya interaksi sosial yang harmonis. 
·      Zakat memberi kemenangan terhadap egoisme diri atau menumbuhkan kepuasan moral karena telah ikut mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Ibadah zakat ikut menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat. Dalam bahasa Roger Garaudy, zakat adalah satu bentuk keadilan internal yang terlembaga sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu, orang dapat menaklukan egoisme dan kerakusan diri.
·      Zakat mempunyai peranan penting dalam mewujudkan rasa solidaritas sosial bagi individu masyarakat Islam. Ia dapat mengokohkan ikatan sosial antar umat. Dengan mengeluarkan zakat atas dasar kebaikan hati, maka akan nampak rasa belas kasih orang kaya terhadap orang fakir, dan hati orang yang fakir akan dipenuhi perasaan cinta kepadanya.
·      Jadi, zakat dtinjau dari kefarduan dan ketertentuan mengeluarkannya adalah gambaran sistem Islam yang haq dan telah diatur oleh Allah al-Aziz yang telah mensyariatkan pada hamba-hamba-Nya apa yang mengandung keberuntungan di dunia kenikmatan di akhirat. Allah swt berfirman : Orang-orang mukmin (laki-laki) dan orang-orang mukmin (perempuan), sebagian mereka adalah kekasih pada yang lain. Mereka memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang akan dikasihani Allah (QS. Al-Taubah : 71)
·      Tujuan solidaritas sosial dari zakat adalah menciptakan komitmen antar individu masayarakat terhadap sebagian yang lain untuk saling mengasihi, menyayangi, mencintai, berbuat baik, memerintah kebaikan dan melarang kemungkaran sebagaimana .
·      Islam mendorong saling bekerja sama, tolong menolong antar personal dalam suatu komunitas. Sebab, di sanalah terletak kemaslahatan sosial. Dan al-Qur’an menggariskan bahwa tolong menolong wajib dilakukan dalam mewujudkan kebaikan dan maslahah, dan tidak boleh tolong menolong dalam kejelekan. Dalam al-Quran, Allah swt berfirman:“…..dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan kedzaliman (QS. Al-Maidah : 2)
·      Konsep hidup Islami adalah konsep hidup yang damai, yang saling mengasihi sebagaimana layaknya kehidupan suatu keluarga, dan memang kehidupan islami adalah kehidupan komunitas keluarga besar yang memiliki pertalian persaudaraan yang kental.  Ini wujud dari keimanannya terhadap kalam-kalam Illahi, karean Allah SWT telah menegaskan hal tersebut dalam Surah Al_Hujurat (49 :10)
Innamaal mu/minuuna ikhwatun fa-ashlikhuu bayna akhawaykum wattaquullooha la'allakum turkhamuun
[49:10] Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
·      Sabda Rasulullah saw :  Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi seperti halnya tubuh; jika salah satu anggotanya mengadu, maka anggota yang lainnya turut mengawasi dan melindungi (Muttafaq Alaih).
·      Bagaimana ikatan persaudaraan seorang muslim, dijelaskan oleh Rasululloh SAW dalam Sabdanya :  Demi Allah, tidak sempurna iman seseorang, sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai pada dirinya sendiri”.

·      Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan.
·      Ya Rabb, Allaahumma laa sahla illa  maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul huzna in syi’ta sahlan / Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali Engkau tetapkan itu mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, maka Engkau bisa menjadikan kesedihan itu menjadi kemudahan. (H.R. Ibnu Hibban), Amien ******

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Alangkah indahnya bila dinegeri ini masyarakat muslimnya memiliki kualitas iman, ihsan, dan ikhlas sebagai orang yang bertaqwa seperti anak gembala domba itu.....negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hidupnya akan damai.
·      Juga kalau saja kualitas sholatnya sudah benar-benar “wayuqiimuunash-sholaata”... Maka ungkapan indonesia adalah secuil tanah syurga yang jatuh kebumi.. Dapat dirasakan oleh semua umat manusia... Benar-benar rahmatan lil ‘alamin”
·      Masyarakatnya sangat bersemangat menyambut panggilan sholat dan seruan muadzin dalam iqomahnya “ qotqoomatish sholah..   qotqoomatish sholah.. ... dengan terus menjaga dan menyempurnakan wudhu dan sholatnya,
·      Dan menunaikan zakatnya dengan benar, karena dengan penduduk yang mayoritas, apabila zakatnya dibayarkan dan dikelola dengan benar pula, semisal saja “zakat profesi”  yang dua setengah persen dari penghasilkan dibayarkan, maka potensi untuk memakmurkan para dhuafa yang kian banyak akan bisa dilakukan oleh Ummat Islam Indonesia....
·      Sehingga ungkapan Indonesia bagaikan  secuil tanah syurga yang jatuh kebumi.. Dapat dirasakan oleh semua umat manusia indonesia... Benar-benar rahmatan lil ‘alamin”
·      Allah swt menjanjikan hal ini seperti dijelaskan dalam surah al a’raaf ayat 96 : 'jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.''  wallahu a'lam  bishshowab
·      Ini merupakan pekerjaan besar untuk kita semua... Meningkatkan kualitas umat muslim indonesia agar segera tercipta kehidupan yang islami, yaitu ramah, santun saling menolong, dan saling menyayangi kepada sesama.
·      Dari mana mulainya..... Kata rasululloh “ ibda’ binafsih !! Mulai dari kita masing-masing...”
Insya allah”
Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh


























Label: