Iman Kepada Yang Ghoib

21.17 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /



AMANNA BIL GHHOYBI/IMAN KEPADA YANG GHOIB
( Kuliah Subuh Online )
http://poligami.jeeran.com/images/BASMALAH.gif

Ass wrwb

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_1.png
alif-laam-miim
[2:1] Alif laam miin.10
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_2.png
dzaalikalkitaabu laa royba fiihi hudalil muttaqiin
[2:2] Kitab11 (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,12
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_3.png
alladziina yu/minuuna bilghoybi wayuqiimuunash-sholaata wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun
[2:3] (yaitu) mereka yang beriman13 kepada yang ghaib,14 yang mendirikan shalat,15 dan menafkahkan sebahagian rezki16 yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Majelis Netizen Rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana sunnah rasul “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (hr. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan allah ta’ala dalam qs. Al israa’-78, oleh rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan allah....(HR. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam ,
 sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (qs ali imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(HR.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (al ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (ali imran 104)
·      Dan  kata rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan Allah Ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri Watansawna an-fusakum  Wa-antum tat luunal kitaaba
Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 Surah Al Baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis Netizen Rohimatullah
·      Pagi ini saya akan menguraikan tentang “amanna bilghoybi” sebagaiman salah satu karakteristik orang bertaqwa, sebagaimana difirmankan allah dalam ayat pembuka surah al baqoroh 2-3  tadi
·      Menurut ayat 2-3 al baqarah tersebut karakteristik orang bertakwa adalah :
Pertama,dzaalikalkitaabu laa royba fiihi hudalil muttaqiin“ / terhadap al qur’an sudah tidak ada keraguan dan menjadikannya sebagai pentunjuk
Kedua, Yu/minuuna bilghoybi/beriman kepada yang ghoib
Ketiga, Wayuqiimuunash-sholaata/mendirikan sholat
Keempat, wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun/ menafkahkan sebagian rezeqi

Ciri Taqwa Yang Pertama
DZAALIKALKITAABU LAA ROYBA FIIHI HUDALIL MUTTAQIIN“ / TERHADAP AL QUR’AN SUDAH TIDAK ADA KERAGUAN DAN MENJADIKANNYA SEBAGAI PENTUNJUK
·      Setiap seorang yang beriman/mukminin, sudah tidak ada keragian lagi terhadap semua ayat-ayat dalam Kitabulloh Al Qur’anul Karim. Tidak juga merasa ayat-ayat ini sudah tidak sesuai dengan jaman karena merasa kepentingan terhambat oleh syariat yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al Qur’a.
·      Misalnya saja ada sekelompok orang muslim yang sering mengungkapkan (entah dengan tedensi apa) bahwa “semua agama itu sama”.  Ungkapan ini sepertinya tidak ada yang salah dan baik dalam kehidupan sosial, tetapi sebagai seorang yang beriman, harus menyakini bahwa : hanya agama Islam yang diridho oleh Allah SWT, kalau tidak berarti ia menyelisihi atau mengingkari ayat-ayat Allah SWT.
·      Allah telah tegas dengan Firmannya dalam Qs. Ali Imran 19 : innad diina 'indalloohil-islaamu -sesungguhnya agama yang diridhoi disisi allah hanyalah islam.  (jadi seorang muslim tidak bisa mengatakan semua agama sama, harus mengimani hanya islam yang diterima disisi allah). Bahkan diakhir ayat ini Allah telah memperingatkan : waman yakfur bi-aayaatillaahi fa-innallooha sarii'ul khisaab - barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat allah maka sesungguhnya allah sangat cepat hisab-nya. / waman yakfur bi-aayaatillaahi fa-innallooha sarii'ul khisaab
Selengkapnya ayat tersebut :
inna ddiina 'indallaahil-islaamu wamaa ikhtalafalladziina uutuul kitaaba illaa min ba'di maa jaa-ahumul 'ilmu baghyan baynahum waman yakfur bi-aayaatillaahi fa-innallaaha sarii'ul hisaab
[3:19] Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab189 kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Majelis Netizen Rohimatullah
Ciri Taqwa Yang Kedua :
YU/MINUUNA BILGHOYBI/BERIMAN KEPADA YANG GHOIB
·      Ayat ketiga al baqarah ini menegaskan, bahwa karakteristik orang bertaqwa salah satunya adalah iman kepada yang ghoib/yukminuuna bil ghoybi.
·      Iman kepada yang ghgoib sebagaimana dalam tafsir ibnu katsir : yang disampaikan oleh imam qotadah dan abu al ‘aliyah (ulama tabiin), menjelaskan
Beriman kepada yg ghoib yaitu  beriman kepada allah swt malaikat-malaikat kitab-kitab dan rasul-rasul surga dan perjumpaan dgn allah swt diakhirat serta hidup sesudah mati semua itu ghoib.
·      Beriman kepada allah yang maha ghoib,  akan mendapat ampunan dan pahala yang besar dari allah ta’ala :
Innalladziina yakh syawna robbahum bilghoybi lahum maghfirotun wa-ajrun kabiir
sesungguhnya orang-orang yang takut kepada tuhannya yang tidak nampak oleh mereka (bilghoybi), mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.  (QS. Al Mulk Surah [67]:12)
·      Iman kepada yang ghoib dengan cara mengimani semua risalah qur’ani dan sunnati yang tidak mampu dinalar oleh manusia seperti : jin, malaikat, yaumul barzakh, yaumul qiyamah, yaumul ba’ats, yaumul hashr, yaumul hisab, yaumul mizan, siroth, syurga dan neraka
·      Termasuk bentuk keimanan terhadap hal yang ghaib, mengimani  bahwa yang mengetahui yang ghaib hanya allah ta’ala karena sifatnya al baathin/yang maha ghoib.  Dan tidak ada satu makhluk allah yang menyamainya.
Allah ta’ala menegaskan QS. Al-An’am [6]: 50)  :
qul laa aquulu lakum 'indii khazaa-inullaahi walaa a'lamu lghayba walaa aquulu lakum innii malakun in attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya qul hal yastawii l-a'maa walbashiiru afalaa tatafakkaruun
[6:50] Katakanlah (hai Muhammad): Aku (Muhammad) tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan (rahasia) Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"
·      Adapaun hal-hal ghaib yang dikabarkan oleh para nabi dan rasul, termasuk yang dikabarkan oleh rasululloh saw, tentang malaikat, syurga, neraka, jin, bagaimana nikmatnya syurga dan bagaimana pedihnya siksa neraka, dll.
·      Maka yang demikian itu tiada lain hanyalah sebagai salah satu tanda kenabian dan kerasulannya, keistimewaan bagi beliau, dan hal ini hanyalah sebagai wahyu ilahi, sebab beliau tidak bertutur kata melainkan berdasarkan bimbingan wahyu dari allah ta'ala.
QS. Al Jiin [72]:26-27
'aalimu lghaybi falaa yuzhhiru 'alaa ghaybihi ahadaa
[72:26] (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
illaa mani irtadaa min rasuulin fa-innahu yasluku min bayni yadayhi wamin khalfihi rashadaa
[72:27] Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
·      Dari ayat ini allah dengan tegas dan jelas memfirmankan bahwa tidak seorangpun yang bisa mengetahui hal yang ghoib, kecuali nabi dan rasul yang diridhoi allah ta’ala.
·      Iman kepada yang ghooib, bukan yang berkaitan dengan khurafat, tahayul, mistik, penampakan seperti dalam tayangan acara dunia lain di tv yang menyesatkan aqidah.
·      Bila da yang mengaku bisa melihat jin, setan, gondoruwo, dan penampakan “bangso alus” lainnya maka itu jelas adalah tipu muslihat setan. ".....sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.( QS. Al A’raaf [7]:27 )
·      Dan juga bukan yang terkait dengan kahin (dukun), arraf (peramal), dan munajjimun (astrolog/ ramalan bintang) ,  Yang mengaku bisa menerawang jauh, meramal hal yang akan, meramal hari baik dan nasib.
·      Rasulullah saw telah mengingatkan , barnagsiapa yang datang ke tukang ramal (kahin, arraf, munaj-jimun) lalu mempercayai apa yang dikatakan maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. (hr. Muslim no. 2230).
·      Bahkan hadits yang diriwayatkan oleh  ahmad, at-tirmidzi, abu dawud, dan ibnu majah dan disahihkan oleh al-albani, lebih keras lagi...... ......”Maka dia telah kufur (kafir) terhadap wahyu yang diturunkan kepada nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Majelis Netizen Rohimatullah
Implikasi  “yu/minuuna bil ghoibi”
·      Iman kepada yang ghoib, yaitu iman kepada Allah yang maha ghoib/al baathin, akan berdampak pada  sikap ikhlas, jujur dan amanah
·      Karena berkesadaran tinggi bahwa allah selalu ada dan Maha Melihat/albashiir, Maha Mengatahui/al`aliim, dan Maha Mendengar/al-samii
·      Ikhlas, itu :  bila mendapat ujian dari Allah tidak dzhonul jahiliyah / tidak berburuk sangka kepada Allah Ta’ala,
(misalnya : menggerutu mengapa aku sudah rajin sholat tetapi rejekinya masih begini-begini saja.. Allah memperingatkan : “dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.....” [QS. An-Nisa : 32]
·      Ikhlas itu : bila mendapat nikmat harta tidak menjadi sombong, seperti yang dilakukan oleh Qorun dengan mengatakan : innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmin  "sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". “Al Qur’an Dalam Al_Qoshash (28:78)
·      Ikhlas itu : bila mendapat nikmat kekuasaan, tidak menjadi dzolim seperti Fir’aun, yang kisahnya di abadikan dalam QS. an-Nazi’at surah ke 79 ayat 17-25: puncak kesombongan firaun yang mentasbihkan dirinya sebagai tuhan, seperti disebut pada ayat 24  surah An Naazi’aat :  faqoola anaa  robbukumul-a' laa / [79:24] (seraya) berkata:"akulah tuhanmu yang paling tinggi".
Fa-akhodzahulloohu  nakaala l-aakhiroti wal-uulaa
[79:25] maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.
·      Jujur dan amanah, saling berkait, kejujuran akan membentuk sikap yang amanah, Allah telah memberi contoh orang yang tidak jujur :
~      Waminannaasi man yaquulu aamannaabillahi wabil yaumilaakhiri wamahum bimu'miniin / [2:8] di antara manusia ada yang mengatakan: "kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
~ Yukhoodi'uunallaaha walladziina aamanuu wamaa yakhda'uuna illaa anfusahum wamaa yasy'uruun [2:9] mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. [qs. Al-baqarah :8-9]
·      Manusia diperintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (QS. An Nisaa’ [4]: 58), hal ini berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial (muamalah) atau hablun min al-nas.
Innallaaha ya/murukum an tu-adduu l-amaanaati ilaa ahlihaa wa-idzaa hakamtum bayna nnaasi an tahkumuu bil'adli innallaaha ni'immaa ya'izhukum bihi innallaaha kaana samii'an bashiiraa
[4:58] sesungguhnya allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya allah adalah maha mendengar lagi maha melihat.
·      Jadi bersikap jujur dan amanah itu, ya mestinya  kalau diamanahi menjaga laut tidak jadi bajak laut, jika diamanahi menjaga hutan tidak jadi orang hutan, kalau diamanahi ngurus negara tidak bikin sengsara...
·      Satu riwayat yang menggambarkan kekuatan  “yu/minnuna bilghoybi”
Abdullah bin dinar meriwayatkan, suatu hari dia berjalan bersama amirul mukminin umar bin khattab dari madinah menuju makkah.
Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan budak gembala domba, ia mencoba menggoda gembala tersebut agar mau menjual dombanya
''Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor kambing mu!'' ujar amirul mukminin umar bin khattab.
''Aku hanya seorang budak,'' jawab si gembala.
“kambingnya  amat banyak. Kalau aku beli satu saja majikannya tidak akan tahu, kalau ia tahu bilang saja dimakan srigala !! Bujuk  umar
''Jika tuan menyuruh saya berbohong, lalu “fainalloh/di mana allah”? Bukankah allah maha melihat? Apakah tuan tidak yakin bahwa allah pasti mengetahui siapa yang berdusta?''
Umar bin khattab seorang khalifah,yang berwibawa dan banyak disegani, dikenal sebagai singa padang pasir yang tak pernah gentar menghadapi musuh kafir quraisy.....mendengar jawaban gembala domba, menangis terharu dan gemetar tubuhnya.
Akhirnya dimerdekaankannya budak itu dari majikannya dengan menebusnya seraya umar berkata “ aku merdekakan engkau didunia ini dari tuanmu dengan imanmu, semoga engkau merdeka juga diakhirat nanti dengan imanmu itu...... Subhanalloh !!


Majelis Netizen Rohimatullah
·      Alangkah indahnya bila dinegeri ini masyarakat muslimnya memiliki kualitas iman, ihsan, dan ikhlas sebagai orang yang bertaqwa seperti anak gembala domba itu.....negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hidupnya akan damai.
·      Maka ungkapan Indonesia bagaikan  secuil tanah syurga yang jatuh kebumi.. Dapat dirasakan oleh semua umat manusia indonesia... Benar-benar rahmatan lil ‘alamin”
·      Allah swt menjanjikan hal ini seperti dijelaskan dalam surah al a’raaf ayat 96 : 'jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.''  wallahu a'lam  bishshowab
·      Ini merupakan pekerjaan besar untuk kita semua... Meningkatkan kualitas umat muslim indonesia agar segera tercipta kehidupan yang islami, yaitu ramah, santun saling menolong, dan saling menyayangi kepada sesama.
·      Dari mana mulainya..... Kata rasululloh “ ibda’ binafsih !! Mulai dari kita masing-masing...”
Insya allah”
Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh


























Label: