Muhassabah Nikmat Harta

22.06 / Diposkan oleh Drs. Achmad Chambali Hasjim, SH /


MUHASSABAH
( NIKMAT HARTA )
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/16/16_18.png
Wa-in ta-'udduu ni' matalloohi
Laatukh-suuhaa innallooha laghofuurur- rokhiim
“dan jika kamu menghitung-hitung nikmat allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya allah benar-benar maha pengampun lagi maha penyayang”. [QS. An-Nahl_16:18]

Qoola  rasulullloh saw
Laa tadzuulu qodamaa ‘abdi
Yaumal qiyaamati khatta yus ala ‘an arbain :
An ‘umrihi fiima atnaahu;
Wa ‘an ‘ilmiihi fiima fa’ala;
Wa ‘an maalihi min aynak-tasabahu
Wa fii ma anfaqohu;
Wa ‘an  jismihi fiimaa ablahu

Majelis netizen rohimatullah
·      Sebelumnya  kita panjatkan syukur kehadirat allah swt.. Tuhan maha pemurah pencurah rahmah maha pengasih yang tak pilih kasih dan maha penyayang yang kasih sayangnya tak terbilang.
·      Alhamdulillaahil ladzii  an ’amana al iimaani wal islaami, segala puji bagi allah yang telah melimpahkan  nikmat iman dan islam.
·      Wa nikmatan  ‘umrihi,  wa an jismihi, nikmat umur - kesempatan dan nikmat badan sehat, sehingga hari ini kita bisa hadir di majelis ilmu ini untuk melaksana seruan Rasuulloh sawl “barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu (dienul islam), maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).... Amien.
·      Berkat rahmat dan nimat itulah, pagi ini kita dapat menunaikan sholat subuh berjamaah di rumah Allah yang penuh rahmat.. Baiturrohmah.
·      Sholat subuh yang selalu disaksikan oleh malaikat ini seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Al israa’-78, oleh Rasululloh saw di tegaskan bahwa “barang siapa sholat shubuh, maka ia dalam jaminan Allah....(hr. Muslim. No 1.050)
·      Wanusyolaa wanusalamu ‘alaa khoiril anaam  Muhammadin shalalloohu ‘alaihi wassalam,  sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan penghulu alam-nabi besar Muhammad salallaahu alaihi wassalam, beserta para keluarga, sahabat serta umatnya  ....amien
Saya juga ingin berwasiat, terutama untuk diri saya dan keluarga keluar saya serta hadirin “ ...
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun /... Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. (Qs. Ali Imran (3:102)
·      Bertaqwa,yang sebenar-benarnya taqwa, yaitu  dengan  melaksanakan semua perintahnya (sesuai dengan kemampuanya), misalnya sholat tidak bisa dengan berdiri bisa dengan duduk tidak bisa duduk bisa dengan tidur.
·      Dan meninggalkan semua larangannya (secara mutlak)”, maksudnya untuk meninggalkan larangan tidak ada alasan, misalnya “belum mampu” meninggalkan kebiasaan minum minuman keras nanti aja, ya tidak bisa gitu !!!
·      Abu Hurairah r.a, menceritakan ia  mendengar rasulullah saw sabda, : ” apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, .. “.(hr.Bukhari dan Muslim).
·      Apa yang akan saya sampaikan bukan hal yang baru, karena risalah agama ya memang sudah sempurna sampai rasululloh saw wafat,
·      Dakwah itu hanya berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw.  (Al Ghosyiah [88]:21)
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.
·      Hari ini kami mendapat amanat untuk menyampaikan “amar ma’ruf” menyeru kepada kebaikan, ini sesuai dengan perintah allah ta’ala (QS. Ali Imran 104)
·      Dan  kata Rasululloh saw, ad daallu ‘alal khoiri kafaa ’illihi orang yang mengajak kebaikan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajaknya /HR. Tirmizi)
·      Dan mudah-mudahan saya tidak termasuk golongan yang diperingatkan allah ta’ala :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_44.png
Ata/muruunan-naasa bilbirri watansawna an-fusakum  wa-antum tat luunal kitaaba Afalaa ta'qiluun
[2:44}. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al kitab (taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Asbabunnuzul turunya ayat 44 surah al baqarah ini, allah menegur, seorang yahudi yang menyuruh anak dan mantunya serta kaum kerabatnya yang telah memeluk agama islam untuk melaksanakan kewajibannya, tetapi dirinya sendiri tetap saja mengingkari... Ia menyuruh orang berbuat baik/beramal sholeh, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya. Semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian ini.
·      Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan, memberitahukan dan mengabarkan tentang firman-firman allah swt serta sunnah-sunnah rasululloh saw. 
·      Selebihnya, tergantung hati masing-masing, apakah terbuka untuk hidayah atau mau menerima hidayah, dan ada dorongan untuk taufiq (melaksanakan kebaikan) tersebut.

Majelis Netizen Rohimatullah
Muhassabah.
·      Sebagai seorang muslim yang cerdas, maka hendaknya selalu melakukan  muhassabah atau instropeksi agar perjalanan kehidupan kedepan selalu terkontrol bahwa jalan yang kita tempuh “on the track”   tidak mengalami out of sidetidak keluar dari jalur yang diperintahkan allah swt.
·      Pentingnya melakukan muhassabah dengan menghisabnya didunia agar ringan khisab diakherat.
·      Imam turmudzi juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab mengenai urgensi dari muhasabah. Shohabat umar r.a. Mengemukakan: hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia “
·      Seperti diterangkan dalam ayat diatas, kita tak akan mampu menghitung nikmat allah swt yang telah dilimpahkan kepada kita, bahkan sering kita merasa itu bukan anugerah tetapi seperti menjadi hak kita untuk mendapatkannya, begitu arrahman dan arrohim allah swt kepada ummatnya.
Khisab terhadap empat nikmat
·      Ada empat nikmat Allah swt yang akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat kelak, sebagaimana sabda rasululloh saw yang diriwayatkan oleh at tirmidzi :
Laa ta-dzuulu qodamaa ‘abdi 
Yaumal qiyaamati khatta yus ala ‘an arbain : 
”tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya hari kiamat nanti, empat perkara (yaitu), tentang :
An ‘umrihi fiima atnaahu;
(1) umurnya untuk apa ia habiskan?; 
Wa ‘an ‘ilmiihi fiima fa’ala;
(2) ilmunya untuk apa ia amalkan?; 
Wa ‘an maalihi min aynak-tasabahu
Wa fii ma an-faqohu;  
(3) hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?;
Wa ‘an  jismihi fiimaa ablahu
(3) hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?;
Tentang nikmat harta
·      Harta itu cobaan bagi manusia, tapi kalau boleh milih pasti banyak yang memilih dicoba dengan banyak harta dari pada dicoba jadi miskin harta.
·      Sebagaimana allah telah berfirman :
Wa' lamuu annamaa amwaalukum  Wa-awlaadukum fitnatun
Wa-annallooha 'indahu ajrun 'azhiim
[8:28] dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi allah-lah pahala yang besar.
(QS. An Anfaal [8]:28)

Imam at Tirmidzi dalam sunannya kitab Az Zuhd, meriwayatkan bahwa Rasululloh saw  juga menegaskan bahwa :
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
Inna likulla ummati fitnatan ummatiil maalu
“sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.”
·      Sudah fitrah manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara lahiriyah maupun batiniah, telah mendorong manusia untuk  memperoleh harta atau al-mal sebanyak-banyak, kecuali orang zuhud yang sudah berpaling dari harta dan kemewahan dunia.
·      Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tidak ada yang salah dalam islam, karena agama juga memerintahkan untuk bekerja keras agar mendapatkan harta yang dibutuhkan.
·      Rasululloh saw banyak berpesan mengenai hal ini :
~Sesungguhnya allah mencintai hambanya yang bekerja. Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah yang halal untk keluarganya maka sama dengan mujahid di jalan allah (hr ahmad).
~Jika telah melakukan sholat subuh janganlah kalian tidur, maka kalian tidak akan sempat mencari rezki (hr thabrani).
·      Yang harus diingat bahwa harta bak pedang bermata dua yang sama tajamnya.
·      Mata pedang sisi yang satu, 
~harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong  bagi pemeliharaan ketaqwaan kepada allah” (hr. Ad dailami),
~Harta juga merupakan bekal agar manusia dapat beribadah dengan sebaik-baiknya. “wajaahiduu biam waalikum wa anfusikum fii sabiilillah“ dan berjihadlah di jalan allah dengan harta dan jiwamu.
~Kisah nabi sulaiman dalam mengelola kekuasaan dan harta kekayaan yang berlimpah, istana megah dan harta kekayaan lainnya. Justru malah membuat nabi sulaiman semakin giat dalam menjalankan perintah dakwah dari allah. Dalam kisanya dengan kekayaannya ia mampu mengajak ratu bilqis dari kerajaan saba untuk beriman kepada allah swt.
·      Mata pedang sisi lainnya,
~Harta menjadi fitnah atau cobaan bagi kita :“sesungguhnya bagi tiap-tiap umat itu ada fitnah, dan sesungguh-nya fitnah bagi umatku adalah  harta (hr at-tirmidzî, no. 2336).
~“bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda”. (hr. Tirmidzi)
~Bisa memicu kesombongan seperti yang pernah dilakukan oleh qorun, yang diungkapkan  al qur’an dalam al_qoshash (28:78) : qoola innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmin ….karun berkata: "sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku".
~Bisa menjerumuskan kita dalam kubur : alhaakumut-takaatsuru , khattaa  zurtumul maqoobir “bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai  kamu masuk ke dalam kubur.“ (at-takasur [102] 1-2) maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.
~Kisah tsa’labah tsa’labah bin haathib al-anshariy
Ia berkata kepada rasululloh : “demi dzat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau memohon kepada allah agar aku dikaruniai harta (yang banyak) sungguh aku akan memberikan haknya (zakat/sedekah) kepada yang berhak menerimanya.”
Lalu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “ya allah, karuniakanlah harta kepada tsa’labah.”
Kemudian tsalabah mendapatkan seekor kambing, dan kemudian kambing itu tumbuh beranak, sebagaimana tumbuhnya ulat. Kota madinah terasa sempit baginya.  Akhirnya, ia pindah jauh dari madinah dan tinggal di satu lembah (desa).
Karena kesibukannya, sholat berjama’ah hanya shalat zhuhur dan ashar saja, karena kambing itu semakin banyak, maka mulailah ia meninggalkan shalat berjama’ah sampai shalat jum’at pun ia tinggalkan, dan ia pun tak mau membayar zakat seperti yang ia janjikan..........kekayaan tsalabah telah menjauhkan dari kataatannya kepada allah ta’ala
·      Karena itu kecintaan kita kepada harta hendaklah tidak berlebihan dan allah sudah memperingatkan : “watukhibbunal maalaa khubban jamma” dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. (qs. Al-fajr [89]:20)
·      Kenapa allah memperingatkan agar tidak mencintai harta secara berlebihan, karena pemilik mutlak harta itu adalah allah ta’ala, dan sesungguhnya kepunyaan allah apa yang ada di langit dan di bumi. [qs. Yunus : 55].
·      Kita hanya diamanati... Dititipi. Kapanpun pemiliknya mau mengambil.. Manusia harus ridho untuk menyerahkannya.
·      Layaknya seseorang yang menitipkan sesuatu, pasti dia berharap barang titipannya akan dijaga dengan sebaik-baiknya, dan dia pasti percaya pada orang yang dititipi.
·      Kepercayaan yang telah diberikan, jangan sampai dikhianati, yang membuat kemurkaan orang yang menitipkan. Demikian allah yang menitipkan harta kepada kita : “berimanlah kamu kepada allah dan rasul-nya, dan infakkanlah di jalan allah sebagian harta yang dia telah menjadikan kamu sebagai pemegang amanahnya” (qs. Al-hadid :7)

Jamaah sholat subuh rohimatullah
·      Dari empat nikmat yang dikhisab (umur, ilmu, sehat dan harta), masalah harta akan mendapat dua pertanyaan dalam hisab nanti, yang pertama : darimana ia dapatkan;  kedua : kemana ia belanjakan ?;
Bagimana memperolehnya,
·      Fenomena pada dewasa ini, bagaimana cara memperoleh harta dengan jalan apapun dilakukan yang kadang dilebel jargon-jargon islami dengan mengatakan “alhamdulillah aku dapat rezeki” padahal itu upeti, korupsi atau grafitasi atau manipulasi.
·      Memperoleh harta dengan cara tidak halal sudah menjadi perilaku mengarah keumuman yang ada dalam masyarakat, dan seolah masyarakat sudah “memaklumkan” bahwa hal itu sebagai kewajaran, dan kalau tidak mau melakukan malah dianggab hal yang tidak wajar.
·      Keadaan ini sudah disinyalir oleh rasululloh saw dengan sabdanya : 
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟
Yaak tii ‘alannassi zamaan laa yubaaliil-mar-u maa akhodza minhu, aminal khalaali am minnal kharoomi
Akan datang bagi manusia suatu jaman dimana orang tidak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram. (hr. Bukhari no 2059),
·      Karena itu rasululloh saw memperingatkan : barangsiapa mengumpulkan harta dengan tidak sewajarnya (tidak benar) maka allah akan memusnahkannya dengan air (banjir) dan tanah (longsor). (hr. Al-baihaqi)
·      Memang nilai dan norma sudah banyak yang berubah, sejak pertumbuhan ekonomi dijadikan panglima pembangunan, maka “mintset masyarakat ikut berubah, bahwa indikator keberhasilan seseorang diletakan pada harta kekayaan yang mampu dikumpulkanya.
·      Orang akan menaruh hormat dan segan karena ia memliki kemampuan harta yang mumpuni, ia mendapat penghormatan karena kekayaannya tersebut, sehingga mendorong setiap orang untuk mendapatkan harta kekayaan itu... Dengan jalan apapun
·      Padaha rasululloh sudah memperingatan sejak 14 abad yang lalu:  jangan kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka. (hr. Abu dawud)
·      Kita sering mendengar, jargon yang paradoxial, bahwa “uang bukan segala-galanya, walaupun  kenyataannya segalanya diperlukan uang” ini membuat pergeseran persepsi di masyarakat kapitalizm saat ini, bahwa harta adalah mobilisator status yang signifikan, dibanding lainnya (akhlak, kesantunan, keramahan, dll)
·      Kalau kita tidak berhati-hati dalam hal bagaimana memperoleh harta ini, akan terjadi penyesalan yang berkepanjangan yaumil qiyamah nanti, orang yang paling dirundung penyesalan pada hari kiamat ialah orang yang memperoleh harta dari sumber yang tidak halal lalu menyebabkannya masuk neraka. (hr. Bukhari). 
·      Dampak harta yang haram, menjadikan do’a kita sulit terkabulkan, sebagaimana dikisahkan nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menyebutkan seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: ‘wahai tuhanku, wahai tuhanku.’ padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan dikenyangkan dari yang haram, maka bagaimanakah allah akan memperkenankan do'anya?” (hr. Muslim)
·      Makanan yang haram dan dari hasil yang haram menyebabkan sholat kita tertolak, ibnu abbas radhiyallahu 'anhu berkata, “allah tidak akan menerima shalat seseorang yang di dalam lambungnya terdapat makanan haram.” Walollohu a’lam.
Kemana membelanjakannya.
·      Setiap rupiah nanti akan dihisab  kemana kita habiskan.
·      Allah melarang kita membelanjakan harta untuk sesuatu yang haram, sesuatu yang sia-sia, melarang berfoya-foya, bermegah-megahan, dan menghambur-hamburkan harta.
(QS. Al_Baqarah [2]:195)
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_195.png
Wa-anfiquu fii sabiilillaahi walaa tulquu bi-aydiikum ilaat-tahlukati wa-ahsinuu innallooha yuhibbul muhsiniin
[2:195] dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

(QS. Al-Baqarah, 2: 267)
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_267.png
Yaa ayyuhaalladziina aamanuu anfiquu min thoyyibaati maa kasabtum wamimmaa akhrajnaa lakum minal-ardhi
Walaa tayammamuul khobii-tsa  minhu tunfiquuna walastum bi-aakhidziihi illaa an tugh-midhuu fiihi wa' lamuu annallooha ghoniyyun khamiid
[2:267] Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.
Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
(QS. Ali ‘Imraan [3]: 92)

Lan tanaaluu lbirra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna wamaa tunfiquu min syay-in fa-innallaaha bihi 'aliim
[3:92] kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya allah mengetahuinya.
( QS. Saba’ [34]:39)
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/34/34_39.png
Qul inna rabbii yabsuthu rrizqa liman yasyaau min 'ibaadihi wayaqdiru lahu wamaa anfaqtum min syay-in fahuwa yukhlifuhu wahuwa khayru rraaziqiin
[34:39] katakanlah: "sesungguhnya tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-nya di antara hamba-hamba-nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka allah akan menggantinya dan dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.
·      Semoga harta yang diamanatkan allah kepada kita mendapat barokah dari allah ta’ala, dalam kitab riyadus shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khoir 'ala al ghoir.
Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat allah swt.
Dalam QS. Al Baqarah (2:168) :
http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/images/2/2_168.png
Yaa ayyuhaannaasu kuluu mimmaa fiil-ardhi khalaalan thoyyiban walaa tattabi'uu khuthuwaatisy-syaythooni innahu lakum 'aduwwun mubiin
[2:168] hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

·      Mencari harta dengan cara yang halal thoyyibah menjadi suatu suatu kuajiban bagi seorang mukmin sesudah kewajiban sholat, sebagaimana disabdakan rasululloh saw:
طَلَبُ الْحَلاَلِ فَرِيْضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ .
"mencari yang halal itu adalah kewajiban sesudah shalat fardlu".

·      Maka dari itu, dalam memandang harta, coba kita lihat kebawah, tapi dalam melihat kebaikan orang kita lihat keatas.
·      Sebuah hadits menjelaskan : “dari Abu Hurairah ra. Berkata: Rosulullah bersabda: “ lihatlah orang yang berada lebih rendah dari kamu, dan jangan melihat orang yang berada lebih tinggi dari kamu, yang demikian itu lebih layak agar kamu tidak  merasa kurang atas nikmat allah kepada kamu” (hadist muttafaq ‘alaih)
·      Seorang sahabat datang kepada nabi saw dan bertanya, "ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia." Rasulullah saw menjawab, "hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah).
Sebagai penutup, kita renungkan kisah seorang milyader mukmin dengan kaos kaki bututnya....!!
Seorang mukmin kaya, saat mendekati ajal didepan seluruh anak-anaknya berwasiat :
~     “ anakku nanti kalau bapak meninggal, pakaikan kaos kaki kesayangan ayah ini, walau udah butut (bolong lagi) karena ada nilai sejarah buat ayah..” Kata ayahnya sambil menyerahkan kaos kaki yang sudah bolong.
~     Ya ayah, akan kami lakukan !! Kata anaknya sulungnya.
Tiba saat ayahnya meninggal, anaknya sudah menyiapkan kaos kaki yang harus dipakaikan  kepada mayat ayahnya setelah dimandikanbapaknya.
Namun oleh para pentakziah yang meerawat mayat ayahnya tidak memperkenankan, karena menurut syariat, hanya 2 lembar kain kafan saja yang boleh dipakaikan...!
Terjadi perdebatan,  anaknya tetap  yang ingin melaksanakan wasiat ayahnya,  sebagai bhaktinya kepada orang tua.
Saat perdebatan itu, datang seseorang yang selama ini dikenal sebagai notaris ayahnya menyerahkan surat wasiat kepada anaknya supaya dibaca
Dalam wasiatnya ayahnya ” anak-anaku ayah tau kamu lagi bingung tidak bisa melaksanakan wasiat ayah, untuk memakaikan kaos kaki robek itu, padahal ayah memiliki harta banyak tetapi saat ayah meninggal kaos kaki robek aja ayah tidak bisa membawanya, karena itu anak-anakku jangan tertipu dengan duniawi.. Jadikan hartamu untuk lebih mendekatkan diri kepada allah swt. !!!....
Anak-anaknya terharu !!!, tentu kita semua juga terharu..... Tapi yang lebih penting mengambil hikmah dari kisah ini.

Waloohu a’lam bishowab
Demikian yang saya sampaikan bila itu kebenaran, merupakan kebenaran yang datangnya dari allah semata, karena sifat-nya yang  al haaq/yang maha benar,

Kalau ada salahnya, itulah kesalahan saya sebagai manusia,
Yang sifatnya memang deket dengan kekhilafan
Seperti kata pepatah arab :
al insaanu makhallul khoto wan nisyaan”.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
Subhanakallahumma wabihamdika
Asyhadualla ilahailla anta
Astagfiruka wa’atubu ilaik
“maha suci engkau ya allah, dengan memuji-mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-mu, aku memohon pengampunan-mu dan bertaubat kepada-mu.”
(hr. Tirmidzi, shahih).
Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah/
Hanya kepada allah kita mohon keselamatan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Wassalamu’alaikum warahmatulloohi wabarokatuh
Akhirnya,
Ya rabb “allaahumma innii a’uuzubika  min zawaali ni’matika wa tahawwuli ‘aafiyatika wa fujaa ‘ati niqmatika  wa jamii’i sakhatika”/
“ya allah, aku berlindung kepada-mu dari lenyapnya kenikmatan dari-mu, berubahnya (hilangnya) kesejahteraan dari-mu, siksa-mu yang datang dengan tiba-tiba, dan dari segala kebencian-mu. (h.r. Muslim)” .
Ya rabb, “allaahumma innii as ‘alukal hudaa wat tuqoo wal ‘afaafa wal ginaa”/
“ya allah, aku memohon kepada-mu petunjuk, ketakwaan, kesuciaan diri, dan kekayaan (h.r. Muslim)”.


Label: